Tak sedikit dari kita yang rela mengabaikan nilai, prinsip dan norma demi pacar, tunangan dan anehnya juga berharap kelak dia akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Semakin lama hubungan terjalin, maka semakin longgar pula pertahanan dan prinsipnya.

Bagaimana kenyataannya? Kebanyakan di antara kita hanya menjumpai sesal, kecewa, luka dan sakit hati tak berkesudahan. Bahkan parahnya ada yang hidup dalam dendam dan sesal sepanjang hidup. Beberapa di antaranya sedikit beruntung karena bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Tapi tetap saja, pernikahan tak pernah menggugurkan dosa yang kita ciptakan saat pacaran.

Begitulah darah muda. Menggelora penuh gairah, apa saja selalu ingin dicicipi, hal-hal baru selalu membuat penasaran. Awalnya pegang tangan, cium pipi lalu terjebak pada kenikmatan semu penuh dosa.

Wajar, hal hal yang diberi batas memang selalu menggugah naluri untuk menerobos sebelum waktunya.

Kamu tahu kan, yang nyata-nyata sudah terikat ikatan suci, bisa bercerai, apalagi hanya komitmen seperti ini?

Advertisement

Dan sekali lagi, banyak buktinya. Pacaran adalah jalan pintas Tunangan adalah gerbang tol. Keduanya akan mengantarkan kita pada tempat yang diimpikan, gedung untuk melangsungkan pernikahan. Tapi ingat, jalan pintas dan gerbang tol juga bisa rusak begitu saja tanpa diduga bahkan belum sempat mempersiapkan kerusakannya.

Karena itu sekali lagi untuk kau yang masih suci, jangan kendorkan nilai-nilai dalam jiwamu, selama apapun kau menjalaninya, seerat apapun gengggamannya, seyakin apapun kau padanya.

Bagaimana bila semua sudah terlanjur dan terbenam terlalu jauh? Tidak ada kata terlambat untuk berhenti. Bukankah aku sudah pernah bercerita tentang makna senja dan pemberhentian? Tak peduli meski harus dibilang munafik, sebab aku yakin hati kecilmu juga berbisik serupa

Bila ia yang bukan suamimu marah, tak mau bicara, kasar, mengancam putus atas segala penolakanmu dan keinginanmu untuk berhenti dari kebiasaan yang menghinamu itu, tentu kau sudah bisa menilai bagaimana dirinya. Yang dia mau hanya tubuhmu, yang dia ingin hanya seksualitas bukan cinta apalagi membahagiakanmu.

Sekali lagi hati dan akalku menyumpah, "enak ya jadi dia, aku dinikmati dengan gratis berkali-kali dalam kurun waktu yang tak sebentar. Kalau dia ke tempat prostitusi sudah habis berapa duit?"

Apa yang sudah kita dapatkan dari dia? Apakah dia membelikanmu ini itu? Membantumu ini itu? Semakin dipikirkan semakin jelas jawabannya. Apapun yang ia berikan padamu tak pernah sepadan nilainya dengan harga diri dan kesucianmu. Bodohnya jika kita yang terlambat menyadari.

Sekali lagi, cinta selalu dijadikan alasan untuk menyalurkan birahi. Cinta lagi-lagi sellau menjadi alat untuk mengakses seluruh tubuh.

Padahal jika putus, siapa yang paling sakit dan menyesal? Siapa yang takut kalau nanti tidak ada yang mau menerima apa adanya? Siapa yang bingung cara menjelaskan ke calon suami nanti? Siapa yang sibuk meminta belas kasihan agar ia mau bertanggung jawab? Siapa yang paling menderita dan merugi?

Tentu kita para wanita.

Teruntuk aku, kau, dan dia

Mulai detik saat aku menulis larik dan kau membacanya Kita harus menentukan sikap. Sadarlah sesadar-sadarnya dirimu. Kembalikan logikamu. Lakukan apapun secara bertanggung jawab. Bukan dipaksa atau terpaksa

Apa perlu terjadi hal-hal yang memalukan lebih dulu agar kita mau sadar dan menyesal?

Percayalah, hubungan yang baik akan membawa kita ke tempat yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik, bukan sebaliknya. Dan lelaki sejati itu menjaga yang utuh, bukan menghancurkannya, apalagi meninggalkan setelah menghancurkan.

Tapi aku percaya, tidak semua laki-laki begitu, karena aku yakin masih banyak laki-laki baik untuk wanita yang memang baik atau sedang berupaya memperbaiki diri.

Sekali lagi ini hanya wasiat untuk aku, kau, dia, dan calon anak-anak kita nanti yang akan tumbuh di zaman yang mana nilai sudah menjadi sesuatu yang usang. Agar kau, dia, dan kalian tak mengulang kesalahan yang pernah kubuat. Agar kau, dia, dan kalian tak menjalani hidup dengan sesal dan sesak.