Memang sungguh manis awal mula menjalin suatu hubungan. Semua hal tentang pasanganmu selalu terlihat baik dan sempurna. Pastinya satu sama lain ingin menunjukan kemampuan untuk saling membahagiakan. Hal itu bisa berbentuk sebuah perhatian, kejutan-kejutan romantis, pujian-pujian atau hal-hal  lainnya. Tentu saja keduanya merasa sangat beruntung dan sangat berbahagia. Sehingga adalah hal wajar apabila cinta yang merekah di awal akan menutup segala kekurangan-kekurangan yang belum nampak banyak.

Setahun, dua tahun, tiga tahun dan selanjutnya, sangat tidak mungkin jika hubungan tersebut berjalan tanpa satu hal pun yang diperdebatkan. Entah itu mengenai kabar sang pria yang mulai ilang-ilangan, berkurangnya kejutan dan pujian, atau bisa dimulai dengan hal yang lebih sederhana lagi. Sesederhana saat malem mingguan, si wanita sudah dandan super cantik berharap diajak jalan-jalan keliling ibukota, eh ternyata si pria malah ingin mengajak nonton dvd dirumah saja.

Pria harus tau, wanita tidak sesimple itu dalam merasa. Permasalahannya mungkin cuma satu, tapi pasti merambat kemana-mana. Wanita yang sudah dandan tadi, pasti nyesel dan kesel banget. Dandan kan butuh waktu lama, nggak sebentar. Belum pake bedaknya, eyeliner, maskara, lipstik, belum lagi milih bajunya, itu semua butuh konsentrasi tinggi loh. Akhirnya si wanita mengeluarkan jurus andalannya “cemberut” dan mood pun mendadak buruk. Pria yang nggak tahan dicemberutin pasti langsung nanya, “kamu kenapa sih”. Whaaaat? Kenapa sih? Please jangan sekali-kali keluarin pertanyaan itu, kecuali kalau kamu memang sudah siap perang.

Memang semua hanya karena “malam minggu tidak jalan-jalan”, tapi dari sanalah segala pemikiran negative wanita dimulai. “Kamu berubah, tidak semanis dulu.” Kalau sudah kata-kata itu yang keluar dari mulut wanita, pria pasti kebingungan. Menganggap marahnya wanita itu berlebihan. Tapi Boy, memang begitulah sewajar-wajarnya sikap wanita yang sayang sama kamu. Kamu justru harus waspada dan wajib curiga jika wanitamu malah tidak pernah marah.

Nah, menghadapi situasi ini, memang terkadang wanita sedikit egois. Padahal bisa saja, ada alasan tersendiri dari pria. Misalnya saja sedang tidak enak badan, atau kebetulan sudah akhir bulan, isi dompet sudah menipis. Memangnya nyupir nggak pegel? Belum lagi menghadapi macetnya jalanan ibukota. Memangnya jalan-jalan nggak ngeluarin uang? Belum bensin, belum beli minum, belum makan, belum parkir. Akhirnya pria pun malah terpancing emosi. Terjadilah pertengkaran besar yang bermula dari hal sederhana tersebut.

Advertisement

Itu hanya sebuah cerita ilustrasi yang mungkin saja terjadi. Satu hal yang harus dicatat oleh pria, jangan pernah sekalipun kamu meninggalkan wanitamu dengan situasi yang masih memanas. Karena rasa sakitnya pasti akan berlipat ganda apabila kamu meninggalkan dia. Sesak sekali rasanya ditinggalkan saat situasi seperti itu. Pastinya wanitamu semakin merasa tidak berarti lagi untukmu, semakin merasa kamu berbeda dan mencurigai hal yang lainnya. Kalau sudah begitu, keadaan pasti semakin memburuk.

Sebaliknya, hadapi saja keegoisannya, marah saja sebagaimana seharusnya kamu marah. Sekiranya hatimu sudah lega, diamlah sejenak. Yang perlu digaris bawahi, marah dan ngambeknya wanita itu nggak akan lama, asalkan kamu bersedia minta maaf. Sekalipun kamu tidak merasa dirimu salah, tapi itulah awal dari jalan yang terbaik. Peluklah wanitamu, dan buat dia tersenyum. Katakan padanya bahwa kamu masih kamu yang dulu. Jangan sungkan juga untuk memuji “kamu cantik banget malam ini”.

Saat kondisi sudah membaik, mulailah berbincang dengan tenang, bahwa kalian harus intropeksi dan belajar dari kesalahan hari ini. Supaya masalah seperti ini tidak terulang lagi, apa yang bisa kalian lakukan. Kemudian buatlah komitmen dan bersama-sama saling memahami. Begitulah yang seharusnya dilakukan oleh pria sejati. Dijamin hubungan kalian langgeng terkendali.