Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 34 provinsi, yang diantaranya memiliki julukan bagi setiap kotanya. Terutama salah satu kota di Jawa Tengah yang dijuluki oleh masyarakat setempat dengan ‘Kota Lumpia’ . Siapa yang tidak mengenal Semarang, kota penuh sejarah nan eksotis ini menarik para wisatawan maupun backpacker untuk mengunjunginya. Termasuk saya sebagai mahasiswa yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh bersama keempat teman lainnya. Ya walaupun kantung saya dan teman-teman tidak setebal para wisatawan, namun pengalaman ini tidak dapat terbayar oleh apapun. Kebersamaan, keindahan, serta kekeluargaan yang tercipta tak dapat terlupakan. Saya memesan tiket sebulan sebelum keberangkatan, karena biasanya harga yang dipatok lebih murah dan tempat duduk dapat dipesan sesuai keinginan. Tepat pada hari H, saya dan keempat teman lainnya berangkat dari Stasiun Senen Jakarta pukul 10 malam. Perjalanan yang ditempuh menuju kota Semarang sekitar 10-12 jam, namun kami tidak jenuh karena menikmatinya dengan bermain kartu dan singgah ke gerbong lainnya. Untung saja kereta tidak terlalu penuh dengan penumpang lainnya.

Sesampainya di stasiun Tawang, kami langsung disambut dengan para porter yang menawarkan jasanya, beberapa penumpang yang menggendong carier di punggungnya, serta berbagai macam pedagang yang memenuhi stasiun. Saya merasa berada di tengah kerumunan orang yang memiliki kesibukan masing-masing dengan kegiatan mereka. Pertama kalinya bagi saya bepergian jauh dan menikmati setiap detik perjalanannya. Kami pun meninggalkan stasiun. Sebelumnya teman saya mempunyai kenalan disini, dia tinggal di sebuah kostan dekat kampus UNDIP (Universitas Diponegoro). Aisyah selaku kenalan teman saya juga sebagai tourguide kami selama di Semarang. Untuk menghemat pengeluaran, tidak ada salahnya menginap di tempat itu. Setibanya di kostan kami melepas lelah setelah perjalanan seharian dikereta, rasanya ingin tidur lebih lama, namun kota Semarang sayang untuk dilewatkan keindahannya. Semarang, we’re coming. Hari pertama kami awali dengan bersepeda di kampus UNDIP. Satu sepeda disewa 15 ribu untuk 2 jam, harganya yang murah bukan? Biasanya kalau di Jakarta bisa mencapai 20-30 rb. Terik matahari siang itu tidak menyurutkan semangat kami untuk terus mengayuh sepeda, perlahan tapi pasti kami memasuki wilayah kampus utama UNDIP. Siapa yang tidak mengenal salah satu kampus idaman para calon mahasiswa di Semarang, letak kampus yang tidak jauh dari kota serta teduhnya wilayah kampus. Selain itu jurusan di UNDIP banyak peminatnya, karena masuk dalam 10 besar kampus terbaik se-Indonesia. Wow.. rasanya ingin menjadi bagian mahasiswa UNDIP. Tapi tak apalah saya lebih memilih kampus tercinta. Kembali ke topik.

Pepohonan rindang dan sejuk membuat saya betah berlama-lama di kampus ini, namun tidak mudah bagi kami melewati rintangan jalan di depan, karena kondisi jalan yang tidak biasa dengan kampus lainnya. Terjal, bergelombang, tanjakan tajam, dan berlubang berhasil kami lewati dengan kegigihan. Saya mulai menyukai kota ini, kota yang sejuk namun tetap bersahabat. Hari berikutnya kami mengunjungi kampus kedua yang terkenal di Semarang yakni UNNES (Universitas Negeri Semarang). Lokasi utama kampus berada di tengah kota, sebagian lainnya berada di Bandan Ngisor, Ngaliyan dan Tegal. Tidak kalah dengan UNDIP, wilayah UNNES juga dikelilingi pepohonan sehingga terik matahari tidak menyinari langsung. Jarak yang agak jauh antar jurusan tidak membuat kami lelah mengunjunginya, terutama saya begitu bersemangat untuk melihat tempat lain yang tidak kalah menarik. Salah satu tempat favourit saya adalah tugu UNNES, pemandangan yang memanjakan mata membuat saya tersentak melihat nya. Pohon berbentuk segitiga tertata rapi di kedua sisi kiri dan kanan serta di tengah, tampak elok seketika ditambah angin yang berhembus kencang siang itu. Setelah puas mengelilingi UNNES, sore harinya kami mengunjungi salah satu bangunan bersejarah yang terkenal di Semarang.

Lawang Sewu berdiri sejak 15 tahun yang lalu, bangunan yang dikenal dengan istilah 1000 pintu ini awalnya digunakan sebagai pusat pemerintahan Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, banyak perubahan yang terjadi baik fungsi maupun bangunannya. Arsitektur Lawang Sewu masih mempertahankan gaya bangunan klasik jaman dulu, walaupun ada beberapa yang direnovasi untuk kepentingan umum. Setelah pemerintahan Belanda runtuh, bangunan ini dialihfungsikan menjadi kantor pusat PT.KAI di Indonesia. karena permasalahan di tanah air saat itu yang tidak kondusif, maka Lawang Sewu tidak lagi digunakan. Akhirnya pemerintah Semarang mengusulkan untuk menjadikannya sebuah museum tentang perkembangan kereta api dari dulu hingga sekarang dan dapat dinikmati masyarakat maupun para wisatawan, termasuk saya dan teman-teman. Kami berkesempatan mengelilingi Lawang Sewu sekitar 1 jam, karena pukul 17.00 museum sudah ditutup. rasa lelah dan letih agaknya tidak singgah terlalu lama pada kami, meskipun dari UNNES menuju Lawang Sewu kami memilih berjalan kaki. Maklum backpacker ala mahasiswa memang mengutamakan penghematan. Di hari ke-3 kami berangkat lebih awal. Tak apalah waktu tidur berkurang asal jangan kehilangan kesempatan untuk mengeksplor Semarang. Kota Lama adalah tujuan kami berikutnya. Bayangkan kami harus berkeliling kota Semarang tanpa pemandu, karena Aisyah harus pergi ke kampus. Jadilah saya bersama ketiga teman lainnya berlagak seperti wisatawan asing. Kota Lama merupakan peninggalan bersejarah pada zaman Belanda yang terletak di utara kota Semarang. Dahulu tempat ini dijadikan persembunyian para serdadu dan senjata untuk perang melawan sekutu. Bangunan tua tersebut menghadirkan aura negatif. Konon masyarakat setempat pernah melihat bayangan seorang serdadu yang dipenuhi darah berjalan memasuki salah satu bangunan. Bahkan ada pula yang mendengar suara jeritan orang pribumi yang sedang disiksa. Namun keeksotisan dan panorama bangunan dengan arsitektur bergaya art deco itu menahan kami sejenak untuk menikmatinya.

Kami melanjutkan perjalanan ke klenteng agung terbesar di Semarang, yakni Sam Poo Kong. Klenteng yang juga dikenal dengan nama Gedong Batu ini bernuansa warna merah cerah serta patung dewa dewi yang mengelilinginya. Saya berdecak kagum ketika memasuki komplek utama yang dahulunya dipakai Laksamana Cheng Ho untuk tempat ibadah, tidak perlu lagi jauh-jauh ke Cina, Semarang juga tak kalah menghadirkan miniatur budaya Cina. Di penghujung waktu kami sempatkan membeli souvenir untuk buah tangan keluarga serta teman di Jakarta. Setiap perjalanan memiliki akhir, namun tidak untuk pengalaman serta kenangan yang terukir didalamnya. Bahkan untuk dilupakan pun rasanya enggan.

Advertisement

#IniPlesirku