Kita tidak akan pernah tahu dimana dan kapan langkah kaki kita akan berhenti. Setiap langkah kaki kita, pasti akan meninggalkan jejak. Seperti jejak – jejak kaki manusia yang tergambar jelas di pinggiran pantai. Setiap jejak kaki kita, akan menghasilkan suatu memori yang kemudian akan menjadi sejarah. Memori itu pun beraneka ragam, ada yang sedih, bahagia, dan sebagainya. Setiap langkah yang kita buat dalam kehidupan, pada akhirnya akan membawa kita kepada suatu titik. Titik itulah yang sering kita sebut dengan mimpi. Mimpi yang sudah kita persiapkan sejak pertama kali jejak kaki kita tercetak di hamparan pasir putih. Mimpi itu tergambar jelas dalam benak dan pikiran kita, dan energinya mengalir deras dalam aliran darah. Ketika kita berusaha untuk segera menuju titik itu, tanpa sadar kita akan mengeluarkan segala yang terbaik yang ada dalam diri kita. Tapi yang sering menjadi pertanyaan dalam batin adalah apakah kita benar-benar akan menuju titik itu? Apakah kita benar-benar akan meraih mimpi yang sudah kita siapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya? Jawabannya tergantung pada diri kita.

Aku juga adalah seseorang yang sampai saat ini masih berusaha melangkahkan kaki hingga mencapai titik itu. Semakin hari, keinginan itu semakin kuat. Aku mulai mengenal mimpi ketika duduk di bangku SMA. Saat mulai terbersit keinginan untuk dapat meneruskan studi ke luar negeri. Waktu itu aku mulai tahu bahwa sepertinya akan menyenangkan bila aku bisa ke negeri orang dan belajar banyak di sana. Itulah awal mula aku mengenal mimpi dan bagaimana mimpi itu jugalah yang membentuk pola pikir dan mempengaruhi tiap langkah yang bisa kuambil. Mimpi itu kemudian bertambah besar, dan sampai saat ini masih ada dalam diriku.

Harus aku akui, energi dari sebuah mimpi itu sangatlah luar biasa. Bagi yang sudah pernah merasakannya, pasti tahu bagaimana sebuah mimpi bisa mempengaruhi hidup kita. Setiap mimpi yang ada dalam diri kita akan memberikan ratusan energi yang dapat memperkokoh langkah kita. Namun tak bisa dipungkiri, kadang mimpi itu juga dapat terkikis oleh derasnya arus kekhawatiran, kecemasan, keraguan ataupun ketakutan. Rasa takut itu bisa membuat kita berpikir untuk menenggelamkan mimpi dan membiarkannya terbenam dalam memori yang terbentuk dari jejak kaki hidup kita. Tapi setiap kali ingin menenggelamkannya, muncul perasaan-perasaan tak tega dari dalam diri kita. Rasanya sulit untuk menenggelamkan sebuah mimpi yang sudah kita bangun sejak lama. Lantas, akhirnya kita membiarkan mimpi itu tetap mengalir dan tetap merasakan energinya.

Pada akhirnya, walaupun masih tak tahu apakah kita bisa sampai pada titik yang disebut mimpi itu, tapi keyakinan dan kekuatan yang ada dalam diri kita akan senantiasa membawa kita pada mimpi itu. Mimpi tidak dapat lepas dari kehidupan kita. Mimpi lah yang akan senantiasa bersama-sama dengan kita kemanapun kita melangkah. Seperti layaknya seorang sahabat, dia yang akan memberikan kekuatan pada kita ketika kita terjatuh. Dia yang akan memberikan energi positif saat kita mulai ragu untuk terus melangkah atau berhenti. Tanpa terasa waktupun berlalu dan persahabatan kita dengan sang mimpi terus berlangsung, sampai pada akhirnya jejak kaki kita akan mulai pudar tersapu ombak.