Kiranya saat itu adalah saat terindahku mengenalmu. Saat itu, tak lebih dari satu jam aku bercakap denganmu. Percakapan yang amat sangat singkat itu ternyata sempat membuatku berharap lebih untuk mengenalmu. Ya, kamu yang menurutku baik meski irit bicara (saat itu).

Ketika kamu beranjak dari tempat duduk antrian registrasi kala itu dan berlalu pergi, ku hanya bisa melihatmu dari jauh. Seraya berharap, semoga Tuhan mempertemukan kita lagi. Lalu, kulupakan tentangmu.

Aku terkejut, ketika ada SMS di ponselku dengan nomor tidak dikenal, ternyata itu kamu. Kamu sempat menulis nomorku. Betapa senangnya aku.

Hari demi hari kulalui bersamamu. Saling mengenal satu sama lain. Menyenangkan dan nyaman rasanya. Sampai suatu malam, kamu berubah. Kemudian meninggalkan aku. Kamu tahu, betapa terpuruknya aku. Betapa sakitnya perasaanku. Betapa aku harus merelakanmu pergi dengan yang lain, terlebih aku mengenalnya. Ya Allah, Ya Tuhanku…

1. Aku harus menyadari bahwa tidak ada lagi ucapan selamat pagi di ponselku

Setiap pagi, tak hanya mentari yang menyapakutetapi juga kamu. Lewat pesan singkat, kamu sampaikan spirit dan supportmu. Kini, aku harus sadar, tidak akan lagi pesan singkat darimu, apalagi dering telepon.

2. Menangis, hanya itu yang kubisa

Advertisement

Ya, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, aku belajar mengikhlaskanmu. Itu sulit. Aku tidak mampu rasanya, teringat tentangmu air mataku terjatuh. Sahabat-sahabatku selalu hadir menyemangatiku hingga aku benar-benarmampu berdiri tegak tanpa menoleh ke belakang. Hari demi hari kuisi dengan berbagai kegiatan dengan harapan hari berlalu cepat dan aku mampu tanpamu.

3. Pesan singkat yang kukirimkan, perlahan berkurang

Setiap senggangku, selalu ku bertanya kabar. Sekadar untuk mengetahui yang kamu lakukan, dengan siapa kamu, kesehatanmu, dan sebagainya. Perlahan aku mengurangi pesan singkatku kepadamu. Hingga sama sekali tidak aku lakukan, bahkan ketika hari ulang tahunmu. Percayalah, selalu ada doa untukmu.

4. Aku mulai menata hidupku

Perlahan tetapi pasti, aku harus menatap masa depan. Seperti lirik lagu “…ternyata tanpamu langit masih biru. Ternyata tanpamu bungapun tak layu. Ternyata dunia tak berhenti berputar walau kau bukan milikku…”

5. Aku mampu melakukan hal yang sebelumnya tak pernah kulakukan

Dulu, aku selalu ingin segera menyelesaikan tugas di laboratorium. Aku segera ingin pulang dan bertemu denganmu. Menyantap makan malam bersama atau hanya sekedar membeli bakso samping kampus. Sekarang, aku mampu berada di laboratorium berjam-jam tanpa ada keinginan pulang lebih cepat. Dulu, aku selalu ingin segera menyelesaikan latihan ekstra kurikuler tari dan cepat-cepat bertemu denganmu. Sekarang, aku selalu berharap latihan yang lama, hafalkan gerak iramanya secepat mungkin,dan kuharap waktu berputar cepat.

6. Aku mulai mendengar kabarmu

Tanpa kamu sadari, kamu bertemu dengan temanku. Katanya, kamu baik-baik saja, sehat, dan terlihat bahagia. Syukur kuucap, semoga benar adanya. Aku merindukan kamu yang dulu

7. Kamu kembali

Setelah sekian lama tanpa kabar, kamu kembali. Maaf yang terucap dari bibirmu hanya mampu kubalas dengan tangis. Ya Allah, Ya Tuhanku….seraya ku berdoa jangan pergi lagi untuk kedua kalinya dari sisiku kecuali maut yang memisahkan. Aamiin…