Halo kamu yang disana, sedang apa dirimu kini? Masihkah kiranya kamu memikirkan aku seperti setiap malam dulu kau lakukan? Pernahkah kamu berniat mencaritahu kabarku, menanyakan apa yang kulakukan hari ini atau sekedar mencaritahu apa yang ingin aku katakan seperti dulu saat “kita” masih ada.

Ah.. aku rasa sudah tak mungkin lagi itu terjadi. Semenjak kau menghapus semua fotoku dan kata-kata “kita” dalam kamus hidup dan hatimu. Aku sadari kini tak lagi ada kamu yang panik saat aku tak memberimu kabar. Tak ada lagi kini kamu yang marah saat aku lupa meminum obat dan makan tidak tepat waktu.

Ya.. perhatian kecil seperti itu yang membuat masa-masa kita bersama terasa semakin indah. Jauh memang jarak yang membentang diantara kita. Hingga sering menjadi cela dan puji dari setiap mereka yang tahu bagaimana kisah kita. Tapi tak jarang juga jarak yang membuat rindu menggebu itu semakin indah.

Namun semuanya kini jelas berbeda. Jika dulu jarak hanya berbatas km dalam peta dan keadaan nyata. Kini ada jarak dan jeda yang kau berikan untuk “kita” yang dulu seolah tak terpisahkan detik dan menit saling mencari. Kini aku dan kamu bukan lagi “kita” yang terus bersama mencipta asa dan mimpi berdua. Bukan juga lembaran kertas berisi dongeng dan naskah drama kisah cinta kita.

Ya, kamu memilih untuk mundur dan berbalik pada masa itu. Entah kapan, bahkan sebelum aku mengenalmu. Tak ada lagi tangan yang menggenggam tanganku erat. Mengajakku menjadi penggenap dalam hidup dan juga cinta di hati. Tidak ada juga rasa untuk saling membahagiakan dengan langkah ke depan yang kita rasa dulu akan semakin indah dari saat ini.

Advertisement

Kamu memilih untuk berbalik arah, sedangkan aku di sini. Tetap pada posisi kaki yang menghadap ke depan. Atau mungkin kini aku hanya bisa terdiam di tempat. Entahlah apa kini aku bisa menyebutnya. Langkahku tak lagi sama. Yang dulunya aku bersemangat, karena selalu ada “kita” disetiap langkah pencapaian mimpi dan asaku. Kini hanya tinggal “aku”. Kurang rasanya, tapi begitulah adanya.

Masih ingin rasanya aku menarik tanganmu kembali, mengajakmu melangkah lagi bersamaku ke tujuan awal “kita” dulu. Ya, menciptakan kehidupan baru dengan penuh cinta dan kasih. Seringnya aku mengingatmu, mendoakanmu dan meminta teman untuk mencaritahu kabarmu. Menyakitkan memang saat aku tak lagi sanggup menanyakan langsung itu kepadamu. Tapi apa daya, inilah aku yang sekarang.

Terjerembap dalam kisah drama yang aku ciptakan sendiri. Tak lagi mampu aku lakoni bersama dengan lawan main paling solid, yaitu kamu. Keinginanku untuk terus dekat denganmu, dan tanggapanmu yang tak jauh berbeda saat masih ada “kita”. Bolehkah aku berkata kau kini semakin kejam? Pergi, meninggalkan namun tak sepenuhnya melepaskan.

Ku akui hatimu tak sekejam itu. Sikapmu yang ramah pada siapapun kini aku rasakan jauh berbeda dan semakin menghancurkan.Mungkin benar harapanku akan menggenapkanmulah yang terlalu besar. Bolehkah aku memintamu untuk tak mudah goyah dengan sapaanku? Untuk tak lagi mau menanggapi pesanku? Bahkan untuk bertemu lagi denganku?

Cukup sakit saat kau hanya membalas pesan tanpa menanyakan itu kembali padaku. Hanya aku yang seolah ingin mencarimu, tapi kamu? Jika aku bodoh, mungkin iya. Aku terlanjur menjadikanmu tempatku mengadu setelah Tuhanku. Kugantungkan segenap mimpi dan asa tentang masa depan hidup. Kau iyakan, dan kau jugalah yang mengenyahkan. Terluka? Jelas.

Aku mohon, jangan mudah goyah dengan apapun yang aku katakan. Biarkan aku memulai langkah maju tanpa harus terluka lagi dengan sikap ramahmu itu. Kini aku ingin menjalani hari dengan penuh keikhlasan melepasmu. Jangan abaikan aku, lapangkan jalanku untuk benar-benar melepasmu pergi.

Jika suatu saat kita bertemu lagi. Mungkin akulah yang masih jua mencintaimu. Jangan pernah terkejut dengan sikapku yang tak lagi sama. Sekalipun masih dengan rasa yang tak kunjung sirna. Aku harap kepura-puraanku untuk baik-baik saja bisa sedikit mengikhlaskanmu pergi dengan mudah tanpa takut terluka.