Hidup memang tak selamanya mulus, tak selamanya sesuai dengan harapan dan cita yang diinginkan. Begitu juga dengan hidupku, ada masa dimana aku merasa tak adil dengan nasib yang kualami.

Kisah ini mungkin bisa menjadi catatan untuk kawan-kawan yang sedang masih berjuang mendapat kursi di kampus impian.

Waktu itu aku masih duduk di kelas 12 di SMA favorit di kotaku. Bagiku predikat kelas 12 merupakan sesuatu yang mengerikan. Betapa tidak, banyak tanggunganku saat itu, lulus UN dengan hasil memuaskan dan masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) favorit menjadi bayang-bayang yang menghantui tiap malamnya. Rentetan tugas yang tiada henti menjadi temanku selama setahun. Apakah itu yang membuatku merasa tak adil? Tidak, uraian diatas hanya sebagai prolog pembuka tulisan ini karena itu adalah awal dari cerita ini, cerita yang tak terlupa dalam sejarah hidupku.

Hari-hari berlanjut, musim ujian telah berlalu. Tibalah saatnya aku melihat hasil kerja kerasku setahun terakhir. Mulanya aku cemas, sangat cemas dengan nilai-nilaiku nantinya. Aku terlalu takut untuk melihat raut kesedihan pada wajah orangtuaku. Sebagai anak pertama di keluargaku, aku bertekad harus menjadi contoh baik untuk adikku. Dan bagaimanakah hasilnya? Apakah aku merasa diuji dengan hasil ujianku? Belum kawan, nilai ujianku Alhamdulillah bagus, meski tak bagus-bagus amat.hehe.

Setelah itu tibalah waktunya bersiap untuk bersaing dengan seluruh siswa SMA/SMK/MA se Indonesia untuk berebut kursi di PTN yang diinginkan lewat jalur SNMPTN yakni jalur tanpa tes dan hanya mengandalkan nilai rapor dan nilai ujian. Aku mantap memilih universitas paling favorit di Kota Pelajar sebagai pilihanku. Aku optimis dengan nilai dan kemampuanku untuk masuk kedalam jurusan yang aku pilih tersebut. Aku berdoa disetiap sholatku dan mengusahakan untuk sholat tahajud di tiap malamku. Waktu terus berjalan dan hari pengumumanpun tiba. Bagaimanakah hasinya? Apakah aku diterima? Mungkin engkau sudah bisa menebaknya kawan. Ya, aku ditolak. Ditolak kawan, sakit hati rasanya kawan melihat begitu banyak teman-temanku yang diterima di PTN dengan mudahnya , mungkin lebih dari setengah teman-temanku yang diterima.

Advertisement

Apa aku berputus asa? Tentu tidak, karena aku yakin masih ada banyak jalan menuju asa. Mungkin pintu pertama masih tertutup. Begitulah fikirku saat itu.

Selanjutnya aku lebih giat belajar untuk menghadapi ujian masuk PTN lewat jalur SBMPTN yaitu jalur tertulis untuk masuk PTN. Kalau sewaktu SNMPTN aku idealis memilih Universitas Karung Goni tersebut sebagai pilihan aku, kali ini aku lebih realistis untuk memilih universitas keguruan negeri di Bandung, Yogyakarta dan Semarang. Aku yakin aku bisa menembusnya. Selain mengikuti SBMPTN, aku mengikuti Ujian Mandir i(UM) di sebuah PTN di Semarang, sebenarnya aku tidak terlalu yakin mengikuti UM ini karena jumlah peserta dan kursi yang ditawarkan sangat tidak berimbang. Namun apa salahnya berusaha bukan?

Waktu berputar hari pengumuman SBMPTN pun tiba, ah rasanya dagdigdug tak karuan menanti waktu pengumuman. Aku sangat berharap dan sangat yakin untuk bisa masuk lewat jalur ini. Dan bagaimanakah hasilnya kawan? Apa prediksimu? Apakah aku berhasil atau gagal lagi? mungkin jawabanmu benar kawan, aku ditolak (lagi). Aku sudah tak tahu lagi bagaimana kacaunya hatiku saat itu. Aku menangis kawan, menangis sejadi-jadinya. Aku merasa dunia runtuh. Bertanya-tanya apa salahku sampai aku harus mengalami kejadian seperti ini. Aku sudah setengah putus asa kawan. Banyak teman yang mencoba menghubungiku namun aku abaikan. Aku malu pada teman-temanku, malu sekali. Aku merasa bersalah, merasa gagal dengan semua itu. Aku merasa bersalah kepada kedua orangtuaku. Meskipun mereka legowo menerima kegagalanku dan tidak menyalahkanku sama sekali namun aku tahu pasti ada rasa kecewa di hati mereka meski tidak diungkapkan. Aku bingung saat itu, aku harus bagaimana.aku merasa hidup ini tidak adil manakala melihat belajar kerasku sebelumnya. Apa aku harus menyerah utuuk bercita-cita kuliah di PTN? Aku sangat tahu bahwa orangtuaku pun sangat berharap aku bisa kuliah di PTN . Beruntunglah saat itu aku sudah diterima di perguruan tinggi swasta (PTS) favorit di Surakarta dan masuk jurusan favorit di kampus itu. Hal itu emang sedikit menghibur hati saat itu. Lantas apa langkahku selanjutnya? Melanjutkan kuliah di PTS tersebut? Ya, aku hampir berfikiran seperti itu. Hampir mengubur dalam-dalam keinginanku untuk kuliah di PTN.

Namun, takdir berkata lain kawan, saat harapanku telah musnah untuk mimpiku tersebut, aku mendapat kabar dari teman bahwa aku lulus UM. Ya, aku lulus UM kawan, ujian masuk yang tadinya sudah aku ragukan. Awalnya memang aku tak percaya, namun setelah aku melihat sendiri di website universitas tersebut tercantum namaku sebagai peserta yang lulus ujian, akhirnya aku percaya sudah. Rasa haru, senang, kaget bercampur jadi satu. Sujud syukur aku lakukan saat itu sebagai wujud terimakasihku kepadaNya atas nikmat yang diberikan kepadaku. Perlu kawan ketahui juga sebelum ikut tes SBMPTN , aku ikut SPMB PTAIN yaitu seleksi masuk Perguruan Tinggi Islam Negeri tanpa tes, namun gagal juga kawan . Sedih bukan?

Perjalanan berliku ku telah sampai pada tempatnya. Dan disinilah aku belajar, di sebuah universitas negeri di Semarang. Dan ditempat ini, aku mencoba belajar segala hal, mencoba berdedikasi untuk almamater tercinta, untuk kesempatan yang diberikan Allah kepadaku mengecap pendidikan di kampus ini. Mungkin kisah ini tidak terlalu mengharukan atau berkesan dihati karena tidak semua orang merasakan bagaimana menjalani kisah ini. Namun, bagiku kisah ini menjadi pengingat bahwa aku berdiri disini bukan karena kebetulan, namun hasil usaha yang begitu melelahkan.

Mungkin kamu tak menyukai perjalananmu sekarang, mungkin engkau merasa Allah terlalu mengujimu. tapi Ingatlah "Bisa Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (Al-baqarah:216)

Dari perjalanan tersebut dapat diambil hikmah bahwa putus asa bukanlah pilihan. Selama kita masih ada nafas untuk berusaha, berusahalah. Karena tidak ada yang sia-sia dari sebuah usaha. Wajar memang ketika kita merasa lelah, sakit hati atas ‘ketidakadilan’ yang kita rasakan. Namun, harus diingat bahwa hasil yang kita peroleh memang apa yang paling pas untuk hidup kita. Dan jangan lupa, bersyukurlah untuk setiap yang kita dapatkan, apapun itu. Karena apa yang kita peroleh, belum tentu orang lain memperolehnya. Bersyukurlah untuk tiap oksigen yang kita hirup , untuk apa yang telah kita dapatkan. Tetap semangat untuk menggapai asa. SALAM SUKSES! SALAM BISA!!

catatan : Tulisan ini diedit dari tulisan lama penulis yang telah dibukukan di sebuah penerbit dengan judul asli "Catatan MABA (Gagal bukan Ending)"