Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Mengeja hati seseorang bukanlah hal yang mudah. Apa ada yang lebih sulit selain memaknai arti diammu. Perlu kau ketahui, satu hal yang sampai hari ini aku tak bisa yaitu menganggapmu tak pernah datang karena tanganmu pernah menuntunku berdiri walau tak terlihat nyata.

Sebelum kau datang, harusnya kau berpikir matang. Jangan hanya mengikat karena takut lepas, lalu setelah itu kau diamkan begitu saja. Kau menyerah tanpa menanyakan apapun. Iya, aku salah. Maafkan aku. Sikap kekanak-kanakan waktu itu memang tak pantas aku tunjukkan kepadamu. Aku kira dengan begitu kau akan mulai bicara, ternyata tidak. Sikapku hanya menyakitimu. Maafkan aku.

Sungguh, kau yang merampas segenap hatiku. Aku merinduimu. Kau tahu bagaimana selama ini aku berjuang melawan perasaanku, mengekang setiap celah rindu? Perih. Rinduku melewati hari begitu saja. Tak ada henti meski kau abaikan. Tak berkurang walau sesenti pun.

Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, tapi sikap dinginmu membuatku takut. Terlebih, aku tak tahu aku siapa di hatimu. Jangankan untuk melepas rindu, untuk bicara saja aku tak tahu caranya. Aku tatap fotomu, bertanya heran kepada diriku sendiri dengan banyak tanya "kenapa, kenapa dan kenapa".

Advertisement

Semakin lekat kupandang fotomu, bukan benci yang datang tapi rindu yang kian melanda. Rasa apalah ini? Sebenarnya adakah aku menempati secuil hatimu? Disaat aku ada, kau diamkan. Ketika aku hilang, kau cari. Uhhh ! Apa kita sedang bermain petak umpet? Helloo! Ini hati, bukan mainan.

Ahh! Aku juga demikian. Begitupun aku, merasa hilang tanpamu meski kita saling tak mengerti cerita yang tiada bersampul. Sama sepertimu, aku pun menjaga meski kita tak tahu arahnya. Kita sama membungkam dalam ego untuk menggantungkan nadi pada takdir.

Belakangan ini ada sedikit hal yang menggoncang pikiranku. Cerita kita yang belum bersmpul ini mulai diketahui oleh banyak orang. Sesuatu yang dijaga selama ini, akhirnya terkuak. Bagaimana aku menanggapi pertanyaan yang beruntun? Aku harus mengatakan iya-tidaknya demi menjaga jawaban senada denganmu. Entah darimana kabar berhembus. Tapi tak apa-apa, kita sama mengunyah angin. Aku temani kau dalam tamparan ini.

Berkali-kali aku memohon agar Allah menemukanku denganmu agar dapat mengitip hatimu. Terkadang aku merasa itu mustahil. Setelah hampir setahun aku mengenalmu, kita hanya pernah bertemu satu kali yaitu saat kita dipertemukan oleh seseorang. Semenjak itu kita tak pernah bertemu. Oleh kerena itulah aku merasa mustahil bisa bertemu denganmu yang tampak seperti "patung". Tetap Subhanallah, kali ini pertemuan kita nyaris terjadi dalam hitungan menit. Seolah itu bukti Allah mendengar doaku. Entah Allah jawab doaku dengan kata "Nanti" atau "Tidak", tetapi jelaslah Allah menunjukkan bahwa sesuatu akan terjadi hanya dengan izin-Nya, dan meminta aku untuk bersabar.

Aku pikir ini adalah yang ketiga kalinya kita nyaris bertemu. Pertama, disaat dulu kau ingin menemuiku namun aku yang tak bisa menemuimu tersebab suatu hal. Kedua, disaat kita berada dalam sebuah lapangan dan juga ruangan yang sama, namun kita tak saling melihat. Terakhir, ketika kita berselisih jalan. Allah benar-benar belum merestui kita bertemu. Tak apa-apa, mudah-mudahan nantiya Allah merestui kita bertemu dalam ikatan yang satu sebagai penawar segala rindu. Aamiin.

Lewat tulisan ini aku sampaikan rinduku padamu.Andai takdir Allah mengantarkanmu bersanding dengan orang lain, maka kirimkan saja aku undangan. Tidak apa-apa.