Mungkin akhirnya sebagian dari kami memilih untuk mengakhiri petualangannya dalam dunia programming dan beralih profesi menjadi pengusaha yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia IT, atau bahkan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Aku? Sama Coding? Alergi! Aku memilih jualan bunga daripada suruh ngoding. Bukan passionku“ Yusida (Mahasiswa TI, 23 Tahun)

But at least selama kami berkuliah di TI (Teknik Informatika), coding atau kegiatan peng-kode-an untuk membangun sebuah software merupakan hal yang menjadi kebiasaan kami, makanan sehari-hari kami. Sayangnya banyak cowok yang meremehkan kami karena kemampuan kami yang masih belum bisa sejajar dengan kalian dalam urusan logic.

Hmmm… belum tau dia! Kami ini wanita hebat lho.

Di dunia nyata kami tetaplah seorang wanita dengan keunikan masing-masing. Kami masih harus melakukan kegiatan yang memang lazimnya seorang wanita, melakukan pekerjaan rumah tangga (at least membantu Mama di rumah), belum lagi kalau yang sudah menikah kemudian memiliki anak bisa bayangin ngga tuh nggendong sambil ngoding (but, thats true, my workmate does).

Advertisement

Atau paling gampangnya kami setiap bulan masih harus merasakan PMS yang kalian-pasti-tau, emosi yang labil, drama-drama ngga jelas dan kami masih ngoding, apalagi ketika tiba masa menstruasi pun penderitaan kami masih belum berakhir. Pada kasus beberapa wanita ketika mengalami menstruasi, bahkan sampai kram perut dan sakit yang aneh-aneh dan kami masih ngoding.

Berdasarkan pengalaman pribadi nih, apalagi yang sudah bekerja, pressure kerja di dunia IT itu sangat besar. Selain karena IT itu didominasi oleh kaum Adam, kami juga memiliki masalah perasaan, bayangin ngga pas code-nya error ngga jalan, tanya leader malah kena marah, pas PMS duuuhhhh dunia rasanya menjauh dari kami. 😀

Namun banyak juga yang masih bertahan sampai sekarang menggeluti bidang programming. Di beberapa daerah misalnya ada sebuah organisasi yang isinya cewek-cewek programmer semua. Biasanya nih cewek-cewek yang over geek, dan memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata. Hal ini pasti sangat membanggakan kaum kami laaah. Setidaknya di antara kami ada yang bisa bersaing dengan kalian.

Tapi sebenarnya kami bukannya tidak memiliki kemampuan, jangan lupa juga kami ini ahlinya ketelitian lho (apalagi sama duit). Toh kalo kata orang tua, cewek itu pintar karena rajin. Jadi, bisa disimpulkan sendiri ya kalau kami sangat rajin (dan memiliki mentor yang sabar menghadapi kelakuan aneh kami) hmmmm, masih berani meremehkan programmer cewek?