Banyak orang yang salah mengartikan cinta, termasuk saya sendiri. Namun begitu saya mencoba memahami cinta itu tidak serumit yang pernah saya ketahui.

Saya pernah merasakan sakitnya mencintai, sakit karena cinta, terpuruk karena cinta. Saya berpikir kenapa cinta membuat seseorang yang merasakannya menderita? Bukankah cinta itu kedamaian, kenyamanan, kebahagiaan? lalu mengapa cinta berubah menjadi sekejam ini? pikirku ketika itu hingga akhirnya saya tak percaya lagi dengan yang namanya cinta.

Kehilangan kepercayaan akibat cinta tidaklah mudah. Aku memerlukan waktu cukup lama untuk kembali percaya dan bahkan aku hampir tidak percaya bahwa waktu dapat mngembalikan kepercayaanku terhadap cinta. Sampai pada suatu saat aku menyadari ternyata akulah yang salah mengartikan cinta. Cinta yang aku percaya selama ini tidak lebih dari sebuah keinginan semata, penggenggaman erat untuk tetap memilikinya dan keegoisan diri dalam penafsirannya.

Aku melupakan bahwa cinta itu seperti pasir, semakin digenggam erat untuk dapat memilikinya semakin pasir itu luruh menjauh dari tangan kita. Aku melupakan bahwa cinta itu tidak lain adalah sebuah pembebasan yang mengaggumkan seperti yang diungkapkan oleh seorang tokoh Budhisme ternama YM. Bikkhu Ajahn Brahm bahwa apapun yang kamu lakukan pintu hatiku tetap terbuka untukmu, itu artinya cinta juga berarti memaafkan. Ketika saya memahami cinta yang sesungguhnya kini tidak lagi sulit untuk menjawab pertanyaan "Can we love without expecting anything?"