Masih belum ku akui kau sebagai alamat sang penerima
Aku memelihara rasaku sendiri hingga sampai saat ini. Aku tetap jatuh hati padamu, jatuh hati pada semua sikap mu, jatuh hati pada semua candaanmu, dan jatuh hati pada tatap matamu.

Setiap waktu.

Masih ku suguhi kau dengan berbagai aksara. Ku tahu mungkin tak seluruhnya bisa kau terima secara utuh, mungkin ada sedikit celaan bagi setiap kata yang mengharuskan ku untuk sedikit mengalah, menahan rasa.

Kau mungkin tak percaya; aku berjuang mati-matian menahan rasaku, menahan tatap yang tak ingin lepas dari arahmu, menahan mata yang tak ingin jauh dari pandang mu. Sulit sekali, berlaga pada panggung yang mengharuskan ku bersikap biasa saja. Kau pasti hafal apa saja dan bagaimana aku merangkai 'kamu' di setiap aksaraku.

Sejauh ini, aku lelah menerka-nerka tentang untuk siapa hati dari laki-laki yang selalu ku abadikan di setiap tulisan dan doaku ini. Aku lelah menerka-nerka untuk siapa saja setiap senyum dan perhatian dari kamu yang sungguh ku anggap istimewa itu. Kamu terlalu menjadi prioritasku, hingga aku lupa menjadi diriku sendiri. Aku sadar, aku bukanlah aku ketika hatiku mulai jatuh padamu. Aku menjauh dari diriku sendiri. Lucu. Cinta ini membawa ku sangat jauh. Sadarkah kau bahwa kau ikut ambil peran dalam setiap perubahan ku.

Entah bagaimana pikiran tentang mu mampu mempermainkan emosiku. Entah kau ini sejenis mahluk apa, sehingga kau begitu berpengaruh dalam bahagia dan sendu ku.

Advertisement

Aku takut jatuh cinta padamu. Mengerikan sekali ketika aku mulai jatuh cinta padamu, layaknya monster; aku takut pada diriku sendiri. Aku takut tak mampu menahan rasa yang ku sembunyikan ini, aku takut jika aku mencintai mu aku akan melupakan kebahagiaanku, dan aku takut menerima kenyataan jika memang kelak kau tak bersamaku.

Ingin sekali ku bisikan rasa ini padamu. Langsung; dengan tatapan mata. Dengan suara bernadakan kelelahan. Dengan air mata yang mungkin tak akan tebendung ketika aku ungkapkan semua. Tapi sayang, aku tak seberani itu. Kau selalu bisa membuatku terbang hingga aku lupa cara nya untuk turun dan kembali. Tak sadar kah kau, kau adalah sebab tangisku, kenapa kau harus bertanya lagi jika kau adalah jawabannya.

Aku pernah mencoba untuk berusaha seolah tak mengenalmu, berusaha membencimu sejadi-jadinya, mencoba berkata kasar di setiap kau melemparkan canda. Namun, kau tahu jawabannya. Aku tak bisa.

Aku tak sanggup berjalan sejauh itu. Aku pernah berpikir, "Aku lebih suka menjadi pembenci yang benar-benar membecimu dengan dendam yang mengakar dari pada aku harus mencintai mu dan membiarkan kau menduduki kendali atas bahagia dan sendu ku," tapi itu hanya sesaat. Sebentar sekali. Hingga di detik selanjutnya aku kembali jatuh hati padamu.

Saat ini. Percayalah, aku menjauhi kamu dengan beribu siksa yang nyata menghujaniku. Kau tak harus berpikir bahwa aku suka berada di posisi ini. Jika kau berpikir, "Cukup amati aku dari jauh" adalah jawabannya, maka teruskanlah. Untuk saat ini aku memang tak perlu tindak nyata dari mu, tinggi sekali rasa nya jika aku terlalu berharap jauh padamu.

Meski aku sadar tak ada seorangpun yang sanggup berdiam dalam cinta dan pengabaian, aku akan tetap berdiri disini, memperhatikan mu, menimbang-nimbang sikap mu pada mereka dan padaku, dan (lagi) merangkai "kamu" dalam aksaraku.

Entah bagaimana kau selalu hadir di langit-langit malamku, tak tahu bagaimana ingatan tentang mu mampu membuat hatiku basah. Kenapa aku bisa setersiksa ini? Apa benar jika aku terlalu meninabobokan rasaku hingga aku lupa akan hal yang berbau biasa saja, apa benar aku hanya percaya diri dan berlebihan dalam merasa hingga aku lupa; aku tak lebih dari sekedar teman bagimu.

Sejauh ini pertanyaan itu selalu menarikku untuk berusaha menjauhimu. Hingga waktu itu, aku bertanya kepada sahabatku, benarkah aku harus lakukan ini? Menjauhi mu kemudian bersikap seolah aku benar-benar membencimu. Kemudian ia menjawab, "Apa yang kau takutkan dengan rasa cintamu sendiri? Ada hal yang harusnya kau takutkan sejak dulu; diam yang berasal dari rasa takutmu. Seharusnya itu yang kau musuhi sejak awal. Apa yang harus kau takutkan jika ia memang akan menjadi milik mu kelak?"

Hatiku basah, dadaku sesak mendengar setiap kata yang sahabatku ucapkan. Meski pada akhirnya sampai kini aku masih berusaha melupakanmu ; kau tetap menjadi orang yang ku kirimkan doa-doa terbaik.

Aku suka sekali kau perhatikan dari jauh, aku suka cara mu mencuri perhatianku, aku suka ketidakjelasan pada diriku saat aku mulai mencintai mu. Banyak situasi yang membuatku bertambah menyukaimu, namun tak sedikit pula hal-hal yang membuatku sangat membencimu. Benciku tak pernah sebesar cintaku. Teruslah bersikap seperti itu, hingga mungkin kelak kita akan sama-sama sadar bahwa kita hanya mempermainkan hati kita masing-masing. Atau mungkin lebih tepatnya "hanya aku yang dipermainkan" di sini.

Aku benar-benar mati kutu dalam mencintai mu. Bayangkan saja aku seperti jalan d itempat; selain mengabadikan kamu dalam tulisan, ingatan dan doaku, aku bisa apa? Menghampirimu? Memintamu menjadi seperti yang aku mau?

Tenanglah, aku tak seburuk itu, hatiku tak semati itu dalam mencintaimu. Bisu yang ku pelihara sejak pertama merasa degupan jantung yang berbeda dalam tatap mata itu kini terasa semakin buruk, bagai kutukan aku terkurung dalam rasa cinta yang semakin hari semakin mematikan kehidupanku.

Ah, aku terlalu terbawa suasana. Lagi, kesan kelabu mulai muncul di peraduan malam lengkap bersama hujan dan ingatan tentangmu. Melankolis sekali, aku menjadi gadis berlebihan ketika jatuh hati padamu, mungkin kau risih. Jadi, maafkan aku jika diam dan tatapku mengganggu mu, maafkan aku jika aku pernah begitu mencari perhatianmu hingga kau merasa terbebani. Aku begitu memikirkan perasaan ku, hingga aku lupa kau pun punya perasaan dan mempunyai hak utuh untuk siapa hatimu kau berikan. Maaf. Jika kau merasa terbebani mungkin kau bisa lontarkan canda yang berartikan suruhan untukku pergi.

Dari gadis yang selalu menganggap candaanmu sebagai sesuatu yang serius.