Dari sekian banyak waktu yang telah berlalu, kesedihan ini masih terasa. Begitu berat awalnya, tapi hal inilah yang aku alami. Terbenam dalam sepi, terbalut dalam sunyi. Kesedihan ini saat menyiksa, kesepian ini membuat hati terluka. Tidak bisa aku pungkiri, bahwa aku sangat merindukan keramain, aku merindukan kebahagiaan. Tapi, aku terlalu terbenam dalam kesedihan ini. Akankah ada yang dapat mengobati sedihku ini?

Akankah ada satu hal yang bisa aku lakukan agar aku tidak terlarut dalam sedihku ini? Pasti ada yang bisa aku perbuat di tengah rasa sepiku ini. Pasti ada satu hal yang bisa aku lewati di tengah heningnya sunyi.

Aku terdiam, mataku mulai memandang ke depan, samar-samar aku perhatikan dari kejahuan. Mimpi itu tepat di hadapanku, harapanku berada di depanku. Tapi, jaraknya terlalu jauh untuk aku gapai. Bagaimana caranya aku melangkah, sedangkan aku berada di tengah lautan yang dalam ini? Apa yang harus aku lakukan? Nafasku, tenagaku rasanya telah direbut oleh kesedihan. Aku berindukan kebahagiaan, aku merindukan tawa lepasku. Aku merindukan semua itu. Tenggelam dalam kesedihan ini membuat hatiku tersiksa, sungguh aku ingin bangkit dan menggapai mimpi itu.

Dalam kepasrahanku ditengah lautan kesedihan ini, aku merasakan tangan lembut menyentuh punggunku, tangannya begitu hangat dan berusaha untuk mendorongku membawa ke atas terbebas dalam lautan ini. Aku melihat ke belakang itu tangan ibuku, tangan kedua yang terasa lebih besar menyentuh punggunggu lagi, itu tangan ayahku. Aku merasakan tangan mereka mencoba untuk mendorongku, terbebas dalam belenggu kesedihan ini.

Tangan ketiga kakaku, tangan ke empat adalah adikku. Tidak hanya tangan mereka saja yang aku rasakan, tapi tangan-tangan yang lain yang mencoba untuk mendorongku ke atas dan mencoba melepaskanku dalam lautan kesedihan ini. Mereka adalah sahabat-sahabatku. Hingga akhirnya nafas ini tidak terasa tercekat lagi, dan aku bisa melihat mimpi itu dengan sangat jelas.

Advertisement

Diriku yang selama ini hanya tenggelam dalam kesedihan ini, akhirnya bisa menggapai mimpi itu. Dorongan dari orang-orang yang aku cintai membuat diriku termotivasi untuk menggapainya. Mimpi adalah sebuah harapan, mimpi adalah sebuah cita-cita. Dan mimpi itu akan tercapai saat kita benar-benar terlepas dalam kesedihan. Aku bebaskan diriku dari lautan kesedihan ini,hingga akhirnya mereka datang untuk membebaskanku.