Seiring senja yang melarut di gelapnya air selat. Kutegaskan gelap ini adalah sekat antara aku dan kamu. Tak perlu kamu pudarkan dengan mengejar. Aku sedang tak minat digoyahkan.

Telah banyak jalan yang kita susuri dan tak sedikit yang meninggalkan duri. Namun, takdir belum juga merestui. Keabu-abuan makin sulit ditakar. Terkadang melintas pikiran, 'Barangkali kita diciptakan tidak untuk berpasangan.'

Di detik lelahku terkumpul. Tekadku menguat. Menjadi keputusan bulat. Kutelan hingga dada sesak, mataku berair dan tak kering-kering. Aku akan pergi dan membuat kepastian. Memastikan kita berjarak hingga saat takdir mengetukkan palunya. Entah bersamamu, entah tidak harus kumulai matahari yang baru. Entah hangat, entah menyengat aku harus kuat. Kulangkahkan kaki tanpa pamit ke tanah yang kurahasiakan.

Maka aku tak akan minta maaf meski kamu begitu menderita atas yang kulakukan. Sebab aku tak mau membuat kupingmu gatal, segatal kupingku mendengar pinta maafmu yang kamu ulang tanpa memperbaiki kesalahan. Aku juga tak ingin berjanji kapan aku akan pulang karena aku tak ingin kamu menunggu seperti aku menunggu tanpa kepastian.

Aku tak berjanji akan menjaga hati. Aku sedang mengobatinya dengan mengikut langkah angin. Mungkin angin membelainya lembut dan ia menjadi kalem. Mungkin juga angin menerpanya keras hingga ia terbang bebas. Yang ku upayakan adalah menggapai mimpi-mimpi sebelum kamu memenuhi mimpiku. Tapi, tak akan kubatasi bila ternyata aku mampu melakukan banyak.

Advertisement

Jarak dan batas ini, ku harap membuatku tak kosong lagi.