Sudah berapa malam kita lewati dengan berbincang melalui telepon genggam? Sudah berapa kali aku mengganti cangkir kopi yang sudah dingin karena menunggumu? Sudah berapa lembar tissue yang aku pakai ketika menahan air mata untuk tidak menangis ketika berbincang denganmu?

Malam ini, di tempatku sedang mendung. Mungkin tinggal menunggu hitungan menit lagi akan turun hujan. Bagaimana di sana?

Oh iya, apa kabarmu hari ini? Seandainya kamu ada di sini, aku ingin menceritakan tentang pekerjaanku. Tidak ada yang spesial memang, sama seperti hari kemarin. Aku datang ke tempat kerja pukul tujuh tiga puluh dan pulang pukul lima belas.

Tapi menceritakan ini kepadamu pastinya menyenangkan. Bukankah jika bersama orang tersayang segalanya akan terasa lebih menyenangkan. Meski hanya duduk bersama tanpa kata-kata.

Ngomong-ngomong, apa kesibukanmu sekarang? Apapun yang kamu lakukan, aku di sini akan selalu mendukungmu. Aku yakin pilihanmu yang terbaik.

Advertisement

Aku hanya terbatas pada doa. Aku tak bisa menepuk pundakmu. Aku tak bisa membersihkan keringat yang mengalir dipipimu saat kamu merasa gerah dan kepanasan.

Jarak kini menjadi bagian dari cerita kita yang kadang membuatku ragu untuk bertahan. Bahkan janji yang pernah terucap pun dipertanyakan. Sampai terkadang aku sulit merasakan hadirmu.

Aku sempat berpikir untuk melupakanmu, Tak peduli kamu ada di mana dan bersama siapa di sana. Tapi aku berpikir, barangkali di saat yang sama kamu juga mengalami hal yang sama. Saling memikirkan walau terpisah.

Tapi aku yakin, Tuhan tahu segalanya. Tuhan tahu siapa yang sering kusebut dalam doa. Yakinlah kita akan bersama. Tidak hanya dalam doa, tapi juga dalam cinta.

Suatu saat nanti, kita bisa melakukan apa yang orang lain lakukan, bermesraan dan menghabiskan waktu berdua.

Semoga semua akan baik-baik saja.

Jujur saja, malam ini aku rindu. Rindu. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Merindukan semua tentangmu.

Kamu tahu, selama kamu tidak ada di sisiku, aku selalu menulis tentangmu. Mungkin kamu adalah inspirasiku. Jari jemariku begitu lancar saat mengetik kata demi kata dan merangkainya menjadi satu kalimat tentangmu.

Banyak hal yang kulakukan selama kamu berada jauh di sisku. Banyak juga mimpi-mimpi yang kuharapkan. Salah satunya, mimpiku yang terakhir adalah mendampingimu. Menjadi pendampingmu, seperti apa yang dikatakan orang-orang tentang cinta.

Mengenalmu, aku belajar banyak tentang hidup. Bersamamu, aku belajar bagaimana untuk menjadi sabar dan tidak berprasangka buruk pada hal apapun. Menjalani hari bersamamu, aku banyak belajar menemukan pengalaman baru.

Terima kasih. Tetaplah bersamaku, kekasihku. Sampai aku memanggilmu dengan sebutan suami, karena mimpiku yang terakhir adalah mendampingi.

Desember2016