Aku sedang nongkrong di kafe waktu itu. Melepas penat sepertinya cukup nikmat dengan menikmati kopi latte. Tidak lama setelah aku duduk, datang seorang gadis menghampiriku. “Kamu kuliah di Universitas X, ya?” ia bertanya. Gadis ini cantik. Aku senang-senang saja dihampiri seorang gadis. Lumayan untuk sekedar teman ngobrol. Wajahnya tidak terlalu asing bagiku. “Iya benar. Kamu juga, kan?”

“Kok kamu tahu?”

“Iya. Aku sepertinya pernah melihatmu. Namun cuma sekilas saja. Makanya lupa-lupa ingat.” Aku berdalih mengatakan itu padahal aku tahu dia salah seorang primadona yang sering dibicarakan di kampus.

“Iya. Aku juga pernah melihatmu.”

Gadis ini sangat mudah sekali bergaul. Aku merasa bagai seorang teman dekat yang sudah lama tidak bertemu. Aku ingat, aku melihatnya waktu itu dengan seorang pria.

“Waktu itu, kamu bersama seorang pria. Apa itu pacarmu? Karena ketika aku melihatmu waktu itu sangat dekat sekali dengannya.”

“Oh, itu. Mantan.”

“Berarti kamu sekarang free?”

“Kalau aku free, emang kenapa?” Ia memikat halus.

“Siapa tahu saja aku bisa mendaftar jadi pacarmu.”

“Emang kamu mau sama aku?” Ia tersenyum tersipu.

Senyumnya manis. Aku jadi sangat suka dengannya. “Siapa sih yang bisa menolak gadis secantik kamu.” Aku akui dia memang salah satu primadona di kampus. Ia sering gonta-ganti pacar. Tetapi aku tidak terlalu mengikuti kisah percintaan orang lain terlalu dalam. Yang jelas kalau saja aku bisa mendapatkan gadis ini. Teman-temanku pasti iri padaku.

“Jadi gimana?” tanyanya memecah lamunanku.

Tak kusangka ia akan berkata begitu. Apa ia benar-benar ingin to the point. Baik. Aku suka gadis yang seperti ini. Apa adanya dan cukup agresif. Pas dengan kriteria gadis yang kucari. “Aku free. Kamu free. Karena kita sama-sama bebas. Kamu mau gak….” Lidahku kelu untuk melanjutkan kata-kata yang hendak keluar. Dengan menambah dorongan keberanian  untuk diri sendiri, aku akhirnya berkata, “jadi pacar aku?”

Tampangnya biasa-biasa saja. Tidak ada raut tegang di wajahnya, seperti ini adalah hal yang sudah sangat biasa yang ia lakukan. Aku memaklumi karena ia gadis yang cantik, sexy dan mempunyai tubuh yang singset. Mungkin ia sudah terbiasa dengan kata-kata tembakan seperti ini. Sedangkan aku, tampangku saat ini sangat gugup.

Ia berpikir-pikir sebelum menjawab namun gaya berpikirnya seperti orang yang sedang bermain lelucon. “Iya aku mau.” Akhirnya ia berkata. Persepsiku masih buram dengan jawaban itu. “Maksudmu… ???” tanyaku mempertegas.

“Iya. Aku mau jadi pacarmu.” Kata-katanya sekarang sudah sangat jelas untuk kupahami. Itu artinya kami sudah resmi berpacaran mulai dari sekarang.

Aku sangat senang bisa berpacaran dengan Mira. Ia sosok yang cantik, manja, perhatian dan romantis. Hari demi hari kami jadi sangat dekat. Sering jalan bersama. Suatu hari ketika aku sedang berjalan bersamanya menuju kontrakanku, ada gadis perempuan kecil umur sekitar lima tahun, meledek kedekatan kami. Ia sering meledek dengan menguluarkan kata, “Cie.” Sampai berulang-ulang ketika melihat Mira lekat menggandeng tanganku. Kami selalu tersenyum karena ulah perempuan kecil tersebut.

Kami membawa banyak makanan untuk dimakan bersama. Kami masuk ke dalam rumah kontrakan yang tidak terkunci. Di dalam pasti ada orang. Benar dugaanku, di dalam ada temanku, Anwar, sedang santai menonton acara televisi. Ia menoleh sekilas ke arahku dan Mira. Akan tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia membisu dan lanjut menonton televisi.

Aku dan Mira duduk agak berjauhan dari Anwar. Tidak biasanya Anwar seperti ini, biasanya kalau ada pacar atau temanku yang datang, ia pasti akan menyapa atau berbasa-basi kemudian pergi dengan alasan mengerjakan sesuatu. Ia selalu memberikan keleluasan untukku sebagai mana juga biasa yang aku lakukan padanya.

Aku menawari Anwar makanan, tapi ia bilang lagi tidak berselera, sedangkan pandangannya terus terpaku pada layar televisi. Untung saja Mira orangnya sangat cuek, jadi ia tidak masalah sama sekali dengan sikap Anwar. Aku sangat suka sikapnya itu, jarang sekali perempuan memiliki sikap seperti itu.

Keesokan harinya, aku dan Mira janjian lagi untuk bertemu dan berakhir seperti biasa, kami berbelanja membeli makanan kemudian dibawa ke kontarakanku. Sesampai di kontrakan, kami bertemu lagi dengan gadis kecil yang merupakan anak dari tetanggaku. Ia kembali mengeluarkan kata “CIE” melihat kemesraan kami. Mira sangat menyukai gadis kecil ini. Mira bertanya kepadaku, “Bagaimana kalau kita ajak gadis kecil ini main ke dalam?”

“Boleh.” Aku menyetujui tanpa pikir panjang karena aku juga menyukai tingkah laku gadis kecil ini.

Mira mengajaknya ngobrol di luar sedangkan aku masuk terlebih dahulu ke dalam, aku berkata, “Aku tunggu di dalam.”

Mira mengangguk serta melempar senyum manisnya ke arahku. Ia kembali melanjutkan obrolan cerianya dengan gadis kecil itu.

Ketika masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu, aku melihat Anwar berbaring lemah di pembaringanku. “Kenapa loe?” tanyaku.

Ia tak menjawab malah membalikkan badannya membelakangiku. Jelas terlihat dari caranya berbaring, ia sedang mempunyai masalah.

“Kalau loe punya masalah, cerita dong! Siapa tahu gue bisa bantu. Gak biasanya loe kayak gini.— Oh ya, kalau Mira cari aku entar, bilang aku lagi mandi, ya.”

Walaupun ia tak menjawab, ia pasti mendengar kata-kataku tadi. Aku langsung beranjak ke kamar mandi. Ketika hampir menyelesaikan kegiatan mandiku, aku mendengar sayup-sayup perdebatan di luar. Aku penasaran dan menengok apa yang sedang terjadi. Aku melihat Anwar sedang mengobrol dengan Mira. Suara mereka agak tertahan dan mimik Anwar mengeluarkan semburat kekecewaan. Aku mendengar obrolan mereka sayup-sayup.

“Kau memang tidak pernah menghormati perasaanku.”

Mira yang merasa bersalah hanya diam saja. Ia tidak tahu mau berkata apa.

“Kau juga tidak pernah memakai tas yang sudah aku belikan untukmu? Kenapa, Mir? Kenapa kau bersama sahabatku sekarang?” Anwar sangat kecewa sekali.

Aku tidak tahu apa sebenarnya hubungan mereka. Namun aku memilih untuk melanjutkan mandi saja. Karena kalau lebih lama, takut nantinya mereka melihatku yang sedang mengintip mereka. Sembari terus membersihkan badan ini, kepalaku berkecamuk dengan keadaan yang sedang terjadi. Di satu sisi, aku kasihan melihat sahabatku yang merasa sangat tersakiti, karena sepenglihatanku, Anwar sangat menyayangi Mira. Di sisi lain, aku juga tidak bisa menampik bahwa aku juga mulai sayang dengan Mira, dengan kedekatan kami.

Tapi yang membuat aku bertanya-tanya. Ada apa dengan Mira? Apa dia gadis baik-baik? Tidak, tidak. Ia memang sering bergonta-ganti pacar. Apa aku salah telah menaruh rasa padanya? Aku telah keluar dari kamar mandi. Syukurlah mereka sudah berhenti berdebat. Aku masuk kamar dan mengganti pakaian. Di sana masih ada Anwar yang tidur seperti orang tidak ada kekuatan.

“Tadi ada Mira cari aku?” Aku berpura-pura bertanya.

“Tidak ada,” katanya.

Ia segera keluar kamar ketika aku sedang mengenakan pakaian. Tapi ia berjalan sangat lemah. “Mau kemana loe?” sambarku.

“Mau ke kakakku.”

“Biar aku antar. Tunggu sebentar, aku hampir selesai.”

“Tidak usah,” katanya. Ia melanjutkan langkahnya yang gontai.

Iskandar, kakaknya, sedang berada di kontrakan temannya, beberapa meter saja dari kontrakan kami. Beberapa menit kemudian, akhirnya aku selesai berpakaian lalu keluar kamar. Aku segera menengok keluar rumah untuk melihat Anwar, tetapi ia sudah agak jauh. Aku ingin mengejarnya namun aku harus minta izin dulu ke Mira.

“Mir… Aku keluar sebentar, ya!—Mau cari rokok dulu bentar.”

“Iya,” katanya mengizinkan.

Aku hendak menyusul Anwar namun tampaknya ia sudah sampai di tempat Iskandar. Aku mendengar percakapan mereka. “Gimana hubunganmu sama si Mira?” Anwar hanya menggeleng-geleng kepalanya lemah.

“Cewek kayak gitu juga. Tidak usah disedihin. Dia itu manis di luarnya saja. Dalamnya sudah tahu kamu kan kayak gimana?”

Aku terkejut mendengar kata-kata Iskandar. Aku terus bersembunyi, mereka tidak mengetahui keberadaanku saat ini. Aku telah kecewa menaruh hati pada Mira.

“Sekarang ia dimana?” tanya Iskandar ke Anwar.

“Sedang di kontrakan.”

“Biar aku yang ke sana.”

“Jangan! Di sana ada Rendi.”

“Ah nyantai saja. Wanita kayak gitu juga. Pasti mau di mana dan kapan aja.”

Aku sangat linglung mendengar kata-kata Iskandar tadi. Aku tahu ia nakal. Tapi sebegitu rendahkah Mira di matanya? Ia berjalan menuju kontrakan. “Mana Rendi?” tanya Iskandar ke Mira ketika sudah berada di kontrakan kami.

“Sedang keluar sebentar.”

“Kenapa kau sakiti adikku?” ia mulai mendekat ke arah Mira. Aku bisa mengintip mereka dari pintu yang terbuka.

“Aku tidak pernah.” Mira menyangkal.

“Apa kau rindu buaian?” Iskandar mulai menyentuh pahanya.

Mira agak terkaget dan bergeser sedikit menjauhinya. Namun Iskandar semakin liar. Ia semakin mengelus paha Mira. “Apa ini yang kamu inginkan?”

Mira sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia terbuai.

————————————————————————————————————————

Aku sangat marah waktu itu, sebelum semuanya berlanjut lebih dalam lagi. Aku segera masuk. Mereka terkaget dengan kedatanganku dan tertangkap basah. Mira terlihat sangat kalut dan takut. “Mengapa kamu mau aja disentuh?” umpatku.

Ia terlihat sangat malu dan menyingkirkan tangan Iskandar jauh. Aku sangat emosi waktu itu. Iskandar juga masih berdiam di sana. “Apa kalian masih mau melakukannya? Iskandar kamu mau?”

“Ia hanya wanita murahan. Dan ia telah menyakiti adikku.”

Mira menutup mukanya. Kemudian terdengar isak tangis darinya.

“Mending loe pergi aja dulu.” Kataku ke Iskandar. Ia pun pergi.

“Mending kamu juga pulang aja deh dulu,” kataku ke Mira. “Aku sedang ingin sendiri. Biar aku antar.”

Ia menurut saja. “Kamu mau kan maafin aku?” katanya ketika sedang di jalan. Aku tak menjawab. Pikiranku sedang berkecamuk antara cinta, nafsu dan dusta. Aku baru tahu, ia orangnya seperti itu. Aku berkemungkinan bersar untuk melepasnya.