Saat aku menyadari bahwa banyak sekali waktu yang aku lewati terbuang percuma, aku memperbaiki cara berpikirku. Jatuh dan cinta datang selalu bersamaan. Saat Riyu pergi dan Andrian datang, saat Andrian pun pergi, lalu siapa lagi yang akan datang? Ego dan nafsu muda yang menggebu-gebu seringnya menghancurkan sebuah hubungan baik, dan mematahkan persahabatan. Seperti aku kehilangan berkali-kali hingga aku memperbaikinya lagi dan lagi, yang membuat aku sadar pentingnya untuk memantaskan diri.

***

Riyu adalah laki-laki baik. Ia datang saat aku membutuhkan seorang teman. Kami bertemu di perpustakaan kampus, saat aku menatap matanya dari seberang rak buku-buku yang aku baca. Senyumannya sangat manis sekali, namun aku tidak seperti perempuan berani lainnya; yang dengan percaya diri mendekati Riyu, lalu menyapanya. Aku lebih memilih untuk diam dan menatapnya dari jauh saja.

Perempuan mana yang berani menolak senyuman Riyu? Ya, kecuali perempuan itu tidak bisa melihat. Seperti aku saat ini yang sedang gelagapan saat tertangkap melirik Riyu dari jauh. Riyu tersenyum lalu menyapaku. “Oh, My God,” hanya itu yang bisa aku ulang-ulang di dalam hati ini. Sambil aku berusaha membalas senyumannya dengan yang manis juga.

Riyu datang menghampiriku, “Hai, Lula, ya?”

Advertisement

Riyu tahu namaku adalah sesuatu yang membuat hatiku bergetar dan salah tingkah. Aku tidak percaya bahwa lelaki seterkenal Riyu tahu namaku; wanita yang hanya biasa-biasa saja di kampus.

Aku tidak tau harus menjawab apa dengan sapaan Riyu itu, hanya seperti orang kebingungan di depannya. Lalu Riyu kembali bertanya lagi kepadaku, “Kamu lagi cari buku yang aku baca, ya? Dari tadi aku perhatikan kamu sering melirik judul buku yang aku baca?” dan "Oh, My God," lagi. Ternyata Riyu memperhatikanku dari tadi saat aku meliriknya. Sungguh memalukan, dan aku seperti perempuan bisu, yang tidak bisa berkata-kata! Apa yang harus aku jawab dengan pertanyaan Riyu ini?!

Semenjak kejadian di perpustakaan itu, Riyu dan aku menjadi dekat. Setiap sama-sama ada jadwal kuliah yang kosong, kami janjian untuk bertemu. Riyu menjadi teman baikku saat ini, tempat mengobrol dan berkeluh kesah tentang tugas, dosen dan film. Ya, film adalah satu-satunya keseruan kami saat bercerita tanpa henti.

Riyu dan aku sama-sama suka film. Riyu suka film thriller, dan aku suka film imajinasi. Kami akan saling bertukar pendapat dengan film-film yang sudah kami tonton, hingga lupa waktu. Kerana setiap Riyu menceritakan film kesukaannya, dia akan menceritakannya hingga detil, sedangkan aku hanya sering menceritakan tentang kehebatan-kehebatan film yang aku tonton saja, lalu bertanya-tanya, “Bagaimana mereka bisa membuat film sehebat ini?”.

Kedekatan kami banyak membuat perempuan lain iri dan membenciku. Tapi Riyu selalu mengingatkanku bahwa kebencian mereka jangan dibalas dengan kebencian juga, nanti mereka juga lelah sendiri. Seperti air es di siang bolong, aku segar kembali untuk menata jalanku di depan. Tidak peduli dengan perempuan-perempuan yang membenciku, yang melirik sebelah mata, aku tetap berjalan lurus ke depan. Selama aku tidak membuat salah kepada mereka, aku akan baik-baik saja!

Riyu memang nyaris sempurna. Tidak hanya berparas tampan, senyumannya yang manis itu membuat siapa saja yang melihatnya akan meleleh. Selain pintar karena suka membaca, Riyu juga terkenal ramah dengan siapa saja. Ah, pantas dia mendapatkan kekaguman dari perempuan-perempuan cantik di kampus ini. Tapi aku? Aku yang hanya biasa-biasa saja ini seperti mendapatkan kesempatan baik untuk bisa dekat dengan Riyu. Kesempatan itu kini telah berubah menjadi cinta.

Aku jatuh cinta kepada pria baik hati ini. Aku mulai ada rasa cemburu saat Riyu berbicara dengan perempuan lain, ataupun mendapatkan telepon, sms, dan Whatsapp dari mereka. Seperti ada yang sakit di dada.

Riyu dan aku memang sudah seperti sepasang kekasih. Hampir setiap saat kami bersama di kampus. Walau dengan jelas Riyu belum menyatakan perasaanya kepadaku, tapi hatiku mengatakan bahwa Riyu juga merasakan hal yang sama denganku. Hingga kini rasaku berubah menjadi rasa memiliki yang teramat sangat kepadanya, hingga mempengaruhi pikiranku.

Tidak tahu apa yang aku rasakan saat Riyu mulai sering terlambat datang saat kami berjanji di sebuah tempat. Aku menuduhnya dengan berbagai kata. Mungkin aku cemburu dan tiba-tiba saja marah lalu berdebat dengannya, hingga membuat Riyu tidak nyaman. Sepertinya dia mulai tidak menyukai perubahan sikapku kali ini dan bertanya berulangkali kepadaku, “Lula, kamu kenapa? Kamu aneh. Ada apa? Kamu tidak seperti ini? Ini bukan kamu!”

Sikapku meruntuhkan hubunganku dengan Riyu. Aku merasa bahwa kini dia sedang memberikan jarak kepadaku. Perpustakaan tempat biasa kami bertemu kini hanya ditinggali bayangan senyum Riyu dan suara tertawa kita.

“Riyu, maafkan aku!”

Berhari-hari aku memikirkan betapa banyaknya salahku terhadap Riyu. Huh, rasanya ingin sekali meminta maaf dan memohon kepadanya. Tapi sepertinya sudah terlambat. Benar yang orang-orang katakan bahwa rasa penyesalan datangnya selalu belakangan.

Riyu pergi dan seseorang pun datang. Aku menyadari bahwa tidak ada yang seperti Riyu. Andrian datang menemaniku kali ini. Dia hanya teman biasa yang butuh tempat curahan hati saja, karena setiap orang mempunyai permasalahan hidup masing-masing dan kami larut dalam cerita-cerita penyesalan.

Andrian hadir karena cerita patah hati dikhianati kekasihnya, lalu bertemu denganku yang sedang bersedih karena rasa penyesalan. Kami berdua sama-sama larut dalam cerita sedih, namun satu tujuan untuk memulihkan rasa sakit dan kembali tersenyum.

Sekali lagi, Andrian bukan Riyu.

Dia hanya teman biasa untuk menemani hari-hariku melupakan Riyu. Walau hingga saat ini aku masih berharap Riyu menghubungiku kembali dan menerima permintaan maafku, tapi di samping itu aku juga harus belajar menerima kenyataan bahwa nasi yang telah menjadi bubur. Ya, semuanya hanya kata-kata terlambat.

Riyu adalah pembelajaran penting buatku dalam pencarian jodoh, seperti ujian aku harus lulus melewati ini. Semoga pengalamanku dengan Riyu dapat membuat aku naik kelas dalam berpikir dan menentukan sikap dalam berbagai hal. Lebih dewasa lagi tentunya dan yang terpenting adalah aku harus bisa belajar dengan memantaskan diri menjadi orang yang tepat; yang nantinya akan menjadi jodoh terbaikku.

Belajar dari jatuh cinta dan patah hati berkali-kali akan membuat setiap orang lebih baik lagi dan lebih baik lagi dalam menentukan sikap.

Saat Riyu pergi dan Andrian datang, lalu Andrian pergi dan entah siapa lagi yang akan datang? Semua ini hanyalah pembelajaran hidup yang harus kita maknai dengan perubahan cara berpikir kita juga. Belum tentu apa yang kita sukai bisa dengan mudahnya untuk kita, ataupun yang tidak kita sangka-sangka ternyata adalah untuk kita. Dan yang terpenting saat ini adalah menjadi “yang terbaik” dengan begitu semoga apa yang kita dapatkan juga “yang terbaik”.