Malam berada diseperempat waktu, senyap, seakan semua jiwa tertidur pulas dibawah guyuran hujan yang amat deras. Namun, tidak begitu dengan Pak Hasan, kakek pensiunan perwira yang usianya hampir seabad itu tampak begitu gelisah, bola matanya tampak terus menari dibawah kelopak mata yang tampak dipaksa tertutup, sesekali dia menarik selimut tebal lusuh yang telah lama dia pakai.

Cukup, kali ini dia sudah tidak bisa menahan kegelisahannya, Pak Hasan bangkit dan menekan saklar lampu yang terletak tepat disudut sebelah kanan kamarnya, cukup dekat untuknya kemudian meraih gagang pintu dan langsung keluar, Pak Hasan berjalan menuju ruang tengah, di ruang tengah sejenak dia berdiri dan menatap kesebuah sudut, lampu remang-remang yang dipasang Budi, anak tengahnya ketika pulang tiga bulan yang lalu cukup terang untuk memastikan bahwa seseorang sedang tertidur pulas disana, diatas sebuah tempat tidur tua yang dulunya dia buat untuk Nadia, anaknya yang nomer dua.

Perlahan Pak Hasan melangkah, tak ada sedikitpun bunyi yang keluar dari gerakan kakinya, sepertinya dia sangat menjaga agar tidak membangunkan orang tersebut. Ya, dia Sanah, perempuan cantik yang telah dia nikahi selama 62 tahun, perempuan yang telah melahirkan anak-anaknya, yang telah membesarkan putra-putrinya dan perempuan yang telah mengikrar janji untuk tua bersamanya. Masih lekat di ingatannya, ketika pertama kali melihat sanah, dan ketika saat itu juga, ada rasa yang lembut seolah menyelinap dihatinya, pelan tapi pasti, terus tumbuh merindang, melambaikan angan dan harapan, membisikkan kerinduan yang terkadang menghujam. Senyum tersungging dipipi keriput pak hasan, dia tampak begitu menikmati ingatan masa silamnya. Dia juga masih begitu ingat, ketika tangannya berubah dingin dan berkeringat saat ijab-kabul agar Sanah halal baginya, dia tak lupa bagaimana sanah selalu mengomelinya ketika makan daging kambing yang tidak bisa ia makan karena penyakit darah tingginya. Sekarang Pak Hasan berada tepat disamping tempat tidur istrinya, diperbaikinya selimut istrinya yang telah turun sampai ke kaki.

“Euunggg”

Istrinya mengerang, Pak Hasan mengusap kepala sang istri yang kemudian pulas kembali. Dan sekarang bulat bening pula yang keluar dari matanya. Matanya menilik inci per inci sang istri, rambut yang tebal hitam itu, seiring waktu berubah menjadi sangat sedikit dan uban semua, tubuh itu berbalut tulang dan kulit,dan ia tau, ada luka mnganga dibagian pinggang istrinya yang kata mereka itu akibat dari posisi tidur yang tak pernah berubah. Terkadang dia merasa bersalah mengasingkan tempat tidur perempuan yang dia cinta itu darinya, tapi disisi lain, dia harus melakukannya, dirumah tua itu hanya ada 2 kamar, satu untuknya, dan satu lagi dihuni anisa putrid sulung mereka satu-satunya yang masih tinggal bersamanya, karena takdir tuhan memutuskan mereka melewati usia sejauh ini, dan takdir tuhan juga yang membuat sanah lebih dulu kembali kemasa kanak-kanaknya.

Advertisement

Sanah tidak bisa bergerak, hanya bisa berbaring. Kadang Sanah tidak mengenalinya, tapi dia tak pernah marah, karena ini memang siklus yang akan dilewati manusia bukan? Kadang sanah menangis merengek seperti bayi ketika lapar, tak urung sanah mengumpat kepadanya, yang memancing amarahnya, hingga kadang membuat hasan malas menyuapi nasi halus yang biasa dibuat Anisa sebelum berpergian. Sanah juga seakan tak jijik dan tak malu buang hajad di tempat tidur, yang akhirnya membuat dia atau Anisa harus membersihkannya.

Hasan terus menanngis, mengingat betapa buruk perilakunya pada Sanah. Bukankah cinta di hatinya masih sama, tak berkurang secuil pun sejak pertama memutuskan untuk menikahi Sanah. Walau terkadang jenuh itu datang mengombang ambing laju bahtera rumah tangga mereka. Namun, itu biasa bukan, dan cinta yang membuat mereka bertahan. Cinta yang membuat mereka berhasil melewati badai perceraian dan beranjak tua bersama. Cinta itu pula yang membuat mereka bertahan saling menopang menjalani sisa-sisa usia senja. Dan cintanya masih cinta yang dulu, cinta yang memberikan 2 putri dan 1 putra dikehidupan mereka. Ah, Hasan selalu berdoa disela sholatnya, agar dilindungi dari rasa bosan dan jenuh dalam mengurus cintanya. Dia tidak ingin membebani anisa, yang sedng sibuk dengan tugas akhir kuliahnya, apalagi budi dan nadia, yang pasti lebih sibuk dengan kehidupan kerja dan rumah tangga mereka. Entahlah…

Pagi menjelang, seperti biasa anisa mempersiapkan bubur ibunya sebelum berpergian, “ Bah, bubur ibu dimeja, sanah baru pulang siang”,

“Iya, hati-hati”, jawab Pak Hasan, dengan langkah yang gontai, dia menuju ruang tengah dan mengambil semangkuk nasi halus yang telah disediakan Anisa. Pelan dia membangunkan istrinya dengan mengelus-elus lembut rambut sang istri. Namun Sanah bergeming, mungkin terlalu lelap tidurnya, dengan penuh sabar hasan kembali membangunkannya, tetap saja tak berhasil, dia mulai kauwatir dan memeriksa nadi sang istri. “Ya Allah”, gumamnya pelan, darahnya mengalir kencang, degub jantung terdengan bak genderang, nadi itu terhenti, tak ada lagi gerakan turun naik d idada istrinya“

"Innalillahiwainnailaihi rajiun”.

Berakhir sudah perjalanan cintanya… berakhir sudah perjalanan sanahnya, dikecup lembut kening sang istrinya, kecupan cinta terakhir didunia, kecupan terakhir yang akan diingatnya ketika rindu, rindu yang akan terus menghujam jiwa sampai tiba waktunya menemui sanah. Satu yang kemudian terlintas dipikirannya, mereka berhasil menepati janji untuk tua bersama sampai maut memisahkan. Dia tersenyum dan menggenggam erat tangan kaku dan dingin Sanah yang tiba-tiba terlihat cantik dan kembali muda di matanya.

Sontak dia teringat Anisa yang menghidupkan motornya

“Anisa… kembali dulu nakk” teriakknya dengan suara gemetar entah karena usia atau karena menahan sebak di dada.

Cinta sejati bukan hanya sekedar lafaz disaat masa muda dan sempurna, tapi sejauh mana engkau mampu bertahan, saling menopang dalam rumah tangga, hingga telah tertatih bersama melawan kelemahan masa renta.