Katanya, jatuh cinta tak pernah salah ya? Memang. Tidak pernah ada yang salah di dunia ini, yang ada hanya sudut pandang yang salah, termasuk jatuh cinta. Bukankah yang salah juga selalu punya hikmah?

Sejenaklah buka mata dan buka telinga. Lihatlah dunia yang begitu indahnya, juga dengarlah hiruk pikuk sekitarmu. Tidak akan ada yang salah, hanya sudut pandang mata yang membuat salah.

Kemarilah, ada sedikit dongeng pengantar mimpi tentang jatuh cinta. Jatuh cinta terbaik.

Ini tentang pencarian yang tak kunjung bertemu ujungnya. Tentang hati yang patah dalam kepingan yang tak terhitung jumlahnya. Cinta. Menyapa tak mengenal waktu juga situasi. Dan seperti biasanya, move on juga tak semudah membalik telapak tangan.

Semua sudah terlewati. Berbagai mesin pencari telah ku jelajahi. Bertemu, berpisah. Bertemu, berpisah. Begitu seterusnya hingga tak teringat lagi bagaimana rasanya tersayat dan menyayat.

Advertisement

Pernah suatu hari, cinta ku genggam erat. Seolah dunia memang hanya untuk kita berdua. Waktu dihabiskan hanya untuk berdua. Tak ada lagi relung kosong untuk bidadari-bidadari penyelamat diri berlabel sahabat. Apalagi pangeran-pangeran berkuda yang siap menjadi pelindung. Tidak ada. Semua terisi cinta berdua. Hanya berdua.

Sudah bisa ditebak bagaimana ujungnya. Tak ada lagi tonggak kokoh dalam diri seketika cinta tercabut dari tempatnya. Dunia yang katanya hanya berdua seketika menjadi tak berpenghuni. Kamu pergi dan Aku kehilangan jati diri. Move on? Oh tidak semudah itu.

Waktu boleh terus berjalan. Cinta yang lain boleh menyapa kemudian menghilang. Mungkin ada yang sempat tinggal lalu memutuskan pergi. Bagaimana tidak, ruang hati belum sempurna kosong. Masih tersisa sampah-sampah kenangan yang menunggu dipungut sang empunya.

Ya. Ku putuskan membersihkannya ribuan hari kemudian. Sedikit demi sedikit ku singkirkan dan ku bersihkan hingga tak tersisa satu sampah kenangan pun. Jangan, jangan kau bayangkan bagaimana rumitnya. Bagaimana mengukir ikhlas untuk membuang sesuatu yang pernah mati-matian dijaga. Rupanya move on memang sesulit itu dan aku telah melewatinya. Sekarang ruang ini sudah kosong kembali. Bersih tanpa sampah bernama kenangan. Ibarat mengisi bensin, semuanya mulai dari nol.

Kemudian apa? Apa yang harus diperjuangkan? Jalan Tuhan. Jalan yang pernah ku kelokkan, selangkah demi selangkah kembali ku luruskan. Jalan yang bermekaran dengan bunga-bunga indah. Wangi dan mempesona.

Langkahku semakin ringan, tanpa beban. Tentunya dengan ruang hati yang sementara kosong. Tak kulirik lagi apa itu virus merah jambu. Karena kepentingan hari ini adalah memantaskan diri.

Hingga pada suatu titik, ada seorang yang kembali mengetuk. Pelan dan pasti. Aku masih takut-takut untuk membuka. Tapi parasnya santun. Caranya menyentuh. Aku terenyuh.

Tidak ada satu baris kata menjadi pertanda janji. Semua bergulir mengikuti arahan waktu. Tawaku mulai renyah, senyumku mulai mengembang. Ruang itu kembali terisi. Benih benih cinta kembali ditebar.

Kali ini aku tak begitu mengamatinya. Kubiarkan saja ruang terisi dengan sendirinya. Biarkan saja rasa nyaman berkembang biak sesukanya. Hari ini hampir ribuan hari kau telah singgah. Menata ruang yang kosong menjadi berisi kembali. Bedanya kali ini penuh bunga.

Tunggu. Jangan kau pikir ini begitu mengasyikkan, tidak. Akan selalu ada keringat-keringat perjuangan yang mengiringinya. Juga sabar yang tak hentinya ku paksa. Karena cinta yang dewasa tidak harus ada dunia milik berdua. Sikapmu membuat ku belajar bahwa cinta sejatinya harus mandiri. Tidak ada kata menggantungkan diri.

Ada atau tidak ada kamu segalanya tetap harus sama. Aku harus sama semangatnya, aku juga harus sama produktifnya. Sehingga kehidupanku dan kehidupanmu tetap berjalan sewajarnya tanpa menganggu kehidupan kita.

Jika boleh ku bilang, kamu manusia unik. Katanya, banyak yang akhirnya berpaling karena ketidaknyamanan yang kau buat. Ketidaknyamanan yang bermuara pada minimnya perhatian. Akan ku tertawakan untuk yang satu ini.

Kau memang bukan orang yang suka bermanis manja berlebihan. Juga bukan orang yang bisa mengobral perhatian, bahkan untuk seseorang yang kau sayang. Tapi kembalilah berfikir secara dewasa. Apakah satu-satunya indikator sayang adalah perhatian? Tidak. Kalau hanya itu anak SD juga pasti bisa. Perhatian yang minim selalu kau kemas dengan apik dan tak terduga. Menyenangkan bukan jika sering dapat surprise?

Rindu kita juga tidak sembarangan. Ada kalanya kita menabung rindu, baru kita pecahkan di suatu waktu dengan bertemu. Kita tahu rindu harus di pupuk dengan baik, bukan dibiarkan tumbuh liar dan tak tertata.

Jatuh cinta bukan melulu tentang kesamaan, tapi tentang perbedaan. Tentang hal-hal yang kau sukai tenyata malah ku benci. Tentang hal-hal yang kusukai tapi kau hindari. Tentang perbedaan-perbedaan yang terus membentang di tengah rasa yang semakin menguat dan harus dipertahankan.

Bukan jatuh cinta jika tak kau beri kebebasan pasanganmu. Karena dengan kebebasan, cemburu bisa mengatur kadarnya. Tidak berlebihan juga tidak kekurangan. Cemburu yang berlebih akan menggenggam erat tapi akan lepas suatu saat. Cemburu yang kurang juga akan semakin mudah melepaskan.

Entah harus berapa terimakasih yang kuucapkan padamu. Padamu, seseorang yang telah mengisi ruang yang mati-matian pernah berusaha kukosongkan karena terlalu banyak sampah kenangan. Padamu, lelaki yang menjelma menjadi guru kehidupan. Tentang banyak hal yang selalu diajarkan pada suatu peristiwa, bukan ocehan. Padamu, lelaki bergingsul yang menenangkan ketika ombak bertubi – tubi datang menerpa kita. Juga tentang persahabatan dengan alam yang sering kau ajarkan. Tentu saja kesabaran yang kau bentuk dari ketidaksengajaanmu menyulut emosiku. Dan banyak hal lagi yang telah membuatku merasa kau istimewakan.

Tak lupa atas setiap detik dan menit selama ratusan hari terakhir ini. Tentang kesibukan yang selalu bisa menjadi maklum dan pembuat rindu. Denganmu, membuat jatuh itu indah. Jatuh cinta yang tak pernah salah. Hanya sudut pandang yang akhirnya menyalahkan.

Terima kasih waktu yang menepati janji bahwa semua akan indah pada waktunya. Tetaplah seperti ini wahai pujangga hati. Menjadi pelindung yang tak terlihat, menjadi penopang yang tak pamrih juga menjadi pendongeng dan pendengar yang setia.

Bertemu dan berpisah hanya masalah waktu, berdamailah dengan waktu. Bagaimana? Dengan melekat pada sang pemilik waktu, Tuhan. Karena Tuhan ada di antara kita berdua. Aku dan Kamu.

Jatuh cinta yang dewasa bukan dunia milik berdua. Tetapi dunia milikku dan kehidupanku, juga milikmu dan kehidupanmu. Jika keduanya menyatu dan membaur dengan baik, maka cinta seperti apalagi yang kau cari? Semogaku hari ini hanya satu, bahwa jatuh yang kesekian, yaitu padamu benar-benar menjadi jatuh cinta terbaik, yang membaikkan diri dan sekitar. Yang menyabarkan dan memberi pengertian.