Saat pertama kali ia hadir di hidupmu, kau tak pernah mengira bahwa ia akan menjadi seseorang yang selalu kau rindukan. Caranya yang sederhana dalam menikmati hidup membuatmu terpana. Kau terpesona pada pergantian siang dan malam dalam dirinya. Bahkan keheningan bersamanya terasa menenangkan. Betapa mencintainya begitu mudah bagimu.

Ketika bersamanya, kau merasa bebanmu terangkat, kesedihan menguap. Kau lupa betapa menyesakkannya hidup yang kau jalani. Senyumnya membuatmu merasa cukup. Sikapnya membuatmu yakin, kau tak perlu orang lain untuk bahagia. Tatapan matanya berkata seolah kau memang tercipta untuknya. Dia adalah harmoni dalam tiap nada yang kau senandungkan.

Cinta akan membuatmu tetap percaya padanya walau semua orang meragukannya. Kau akan tetap mencintainya meski semua orang membencinya. Kau menumpukan harapan-harapan masa depan di pundaknya. Kau percaya, ia akan jadi cinta terakhir dalam hidupmu. Cinta sejatimu. Seperti yang pernah diucapkannya padamu.

Namun seperti selalu terjadi pada mereka yang terpisahkan jarak, waktu pun memudarkan segalanya. Kau bertanya-tanya, ke mana dirinya yang dulu. Dia bertanya-tanya, ke mana dirimu yang dulu. Dan jarak mulai membangun dirinya sendiri. Tapi, saat mencintai seseorang, kau takkan menyerah sekalipun kau lelah. Takkan berkata lelah meski sudah. Kau akan tetap percaya meski susah.

Hubunganmu dengannya terasa makin rumit.

Advertisement

Pada akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti dan pergi. Akhirnya kau dan dia berpisah. Dia bukan jodohmu, kau ingin berpikir sesederhana itu, tapi sesak di dadamu tak hendak sudah. Kau terus berusaha meyakinkan dirimu, tapi tangismu tak berhenti tumpah. Saat kata-kata tak mampu menanggung luka, air mata berteriak lebih bising dari suara.

Dia pergi.

Lalu kau tak tahu bagaimana caranya bernafas tanpa menghirup rasa sakit yang telah menyublim jadi udara. Kau merasa melayang. Menyublim jadi udara. Untuk apa? Lalu untuk apa selama ini kau berusaha? Kau sudah siap mengorbankan hidupmu, mimpimu. Kau siap menerima setiap kekurangannya, mencintai kelebihannya. Dan setelah dia pergi, untuk apa kau ada?

Dia pergi.

Kau bilang kau akan kuat, kau takkan membiarkan dirimu runtuh. Tapi, kau kehilangan dia tak cukup sekali. Kau kehilangannya berkali-kali. Kau kehilangan dirinya setiap kau ingin menyapanya di pagi hari. Kau kehilangan dirinya saat kau mendengar lagu kesukaannya. Kau kehilangan dia setiap saat kau mengunjungi tempat kau dulu pernah bersamanya. Di penghujung hari, saat kau ingin menceritakan harimu padanya, kau kembali kehilangan dia.

Dia pergi. Tanpa kata. Tanpa pernjelasan, tanpa kalimat perpisahan. Dia pergi meninggalkanmu. Kau inginkan penjelasan, tapi dia hilang bagai angin. Seperti itukah laki-laki sejati?

Benci, marah, kecewa. Perasaanmu menggumpal dan kau keras bertahan. Tapi tangismu tak mampu kau lawan. Kau mulai mempertanyakan apa itu cinta. Kamu mulai ragu, apakah ada cinta sejati? Kau berusaha memikirkan hal lain, tapi hanya terulang "Apa dan kenapa?" Dalam kepalamu, pertanyaan-pertanyaan mulai menggandakan dirinya.

Mungkin kau butuh pelarian untuk bertahan dan melawan. Kau butuh distraksi. Tapi, dalam kejatuhanmu, kau rasa tak butuh distraksi. Kau tak butuh pelarian. Kau butuh dia. Hanya dia. Kau merasa jadi mayat hidup. Kau menyeret tubuhmu ke mana-mana. Kau ingin memohon agar dia tetap tinggal. Tapi keputusannya adalah keyakinannya. Kalau kau berharap dia kembali, kau tahu bahwa dia tidak merasa ragu untuk pergi.

Sekeras kau mencintai, sekeras itu pula kau patah hati.

Kau runtuh. Tapi kau takkan menunjukkan padanya bahwa kau rapuh. Kau takkan lagi memberinya alasan untuk menertawakanmu dan bahagia atas deritamu.

Kau ingin berhenti mengingatnya. Dia akan kembali menemukan orang lain dan berkata dia jatuh cinta. Sama seperti saat dia bersamamu dulu. Kau heran secepat itu dia mengaku cinta, bahkan dia belum benar-benar mengenalmu. Kau mulai mempertanyakan cinta. Kau pikir, cinta adalah saat kau berubah sangat menyebalkan dan dia tetap bersamamu. Cinta adalah saat kalian menghadapi masalah bertubi-tubi dan dia tidak pergi. Cinta adalah saat kau mengecewakannya tapi dia tetap percaya. Cinta takkan pernah mudah. Cinta takkan semudah itu pergi.

Setelah kalian berakhir, muncul gempuran kata-kata, kenangan, kecewa, marah, sedih, harapan, pertanyaan, dan perasaan yang menyesakkan.

Pada sahabatmu, kau kisahkan semua. Kecewa, marah, benci, harapan-harapanmu tentangnya, mimpi-mimpimu bersamanya, bagaimana kau tetap berharap padanya walau dia membuatmu kecewa, kau tetap percaya dan berharap bahwa dialah cinta terakhir di hidupmu. Bagaimana caranya meninggalkanmu dan sekarang kau ingin melupakannya.

Bahkan di titik terendah hidupmu, kau masih bisa bersyukur. Kau memiliki seseorang yang membelamu, berkata bahwa semuanya akan membaik walau tidak segera. Sahabat yang bersedih karena kesedihanmu. Yang mengatai mantanmu dan membuatmu tertawa. Yang memberimu alasan lain untuk menangis selain patah hati. Sahabat yang membuatmu teringat bahwa setelah malam yang panjang, gelap dan dingin, matahari akan terbit menghapus keputusasaan dan akan datang harapan. Having them in your life, you’re so damn grateful.

But things didn’t go away just because you decide to get rid of them.

Perasaan, harapan dan pertanyaan yang tak kunjung usai memberatkan langkahmu. Menyesakkan dadamu. Kau ingin terbebas dari rantai yang mengikat sayapmu. Kau ingin mengeluarkan semua perasaan dan sesak yang menyebalkan itu. Dan kau mulai menulis. Menumpahkan dan mengubur semua sakit tentang kau dan dia dalam buku-buku yang takkan pernah kau buka lagi. Kau tak ingin meninggalkan jejaknya di hatimu. Kau ingin melepasnya. Kau ingin membebaskan dirimu.

Kau harap kenanganmu akan dia, bahkan kenangan terkuat yang kau miliki bersamanya, akan tumpul dimakan waktu, sama seperti kenangan-kenangan lain yang kau punya. Dan kenanganmu tentang laki-laki itu takkan lagi menggores inti jiwamu seperti dulu. Pada akhirnya kau akan mengenang masa-masa itu dengan senyum tanpa dendam. Tanpa beban.

Lalu kau sadar bahwa mengeluarkan semua tentangnya tak berarti membuat patah hatimu musnah seketika. Tak membuat sakit hatimu sembuh secara otomatis. Ternyata kau masih kehilangan dia. Dia orang pertama yang berusaha untuk kau pahami utuh seluruh dirinya. Kini kau berusaha memahami kepergiannya. Tetap saja, perasaan kasihmu padanya tak semudah itu hilang.

Kau mulai merasa sepi. Saat kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apapun yang bisa kau lakukan agar mereka tetap bersamamu. Sayangnya, juga ada titik ketika kau harus mundur dan mengatakan sudah waktunya untuk melepaskan. Kau pikir jika kau memintanya untuk kembali, itu adalah keegoisanmu. Jika melepaskan adalah bagian dari mencintai, maka hanya cinta, satu-satunya bagian dirimu yang mampu pahami inginnya.

Tapi bukan berarti kau ingin kembali padanya. Sakit hatimu lebih dalam dari yang dia kira.

Lalu dia kembali.

Seketika semua kenangan, kemarahan, dan kebencian kembali memenuhi hatimu. Kau ingin meledakkan kata-kata paling mematikan, paling menyakitkan. Kau ingin dia merasakan derita yang melebihi sakitmu. Kau ingin balas dendam. Tapi di sisi lain kemarahanmu, kau sadar dia menyimpan penyesalan. Semua orang pernah disakiti, dan salah satu kebahagiaan langka dalam hidup ini adalah melihat orang yang menyakiti kita menyadari kesalahannya.

Kau tak ingin bersikap bodoh dan terlihat hilang kendali. Singa disegani karena ia bersikap tenang, anjing dipermainkan karena mudah sekali menggonggong. Kau bersikap tenang dan kau takkan memperlihatkan padanya bahwa kau lemah. Kau takkan mengemis apapun padanya. Kau tetap bersikap baik dan menunjukkan bahwa kau kuat. Dan toh, kau setuju dengan kalimat ini: “Be kind to unkind people, they need it most.”

Hari-hari berganti. Kau makin menyibukkan diri. Banyak hal telah terjadi dan berlalu setelah perpisahanmu dengannya.

Bersama berlalunya waktu, kau menyadari banyak hal. Perbedaanmu saat kau bersamanya dan setelah kau berpisah dengannya. Dulu, kau hanya terfokus padanya. Sekarang kau bisa menghabiskan banyak waktu bersama keluarga dan sahabatmu. Fokus mencintai dirimu. Dulu kau dan dia saling berbagi setiap momen yang kalian lewati. Sekarang kau membaginya dengan keluarga dan sahabatmu. Ternyata, sudah lama kau jauh dari mereka. Setelah kalian berakhir, justru kekeluargaan dan persahabatanmu jadi lebih baik.

Dan kau mulai memikirkan kembali kebencian dan kemarahanmu. Move on adalah ketika semua tentangnya tak lagi menyakitimu, tak lagi membuatmu terpuruk. Kau terbebas darinya jika kau mampu mengenang semua tentangnya dengan senyum. Tanpa dendam, tanpa beban.

Kau mulai memaafkan. Kau mulai melepaskan.

Memaafkan bukan berarti kau lemah, bukan berarti kau kalah. Memaafkan bukan berarti kau menyukai sikapnya, sampai kapanpun kau membenci sikapnya. Memaafkan berarti membebaskanmu dari ikatan kebencian dan ketidakbahagiaan. Dengan memaafkan, kau berhasil menempatkan dirinya sebagai masa lalu.

Kalau ini bukan cintamu yang terakhir, ini akan jadi patah hatimu yang terakhir.

When you forgive you heal. When you move on you grow.

Memeluk dan menerima sesuatu yang tak kau inginkan, sesuatu yang kau benci, sesuatu yang tak bisa kau terima sama sekali, adalah pekerjaan yang sangat sulit. Terlalu sulit. Tapi bukan mustahil. Dan kadang kau membutuhkan orang lain.

Kau berusaha melihat perpisahan kalian dari sudut yang berbeda. Kepergian orang yang kau kasihi membuatmu bersandar pada sandaran yang kuat, sandaran yang takkan pergi sekalipun kau menjauh. Perpisahan membuatmu kembali dekat dengan Nya. Walaupun perpisahan terasa menyakitkan, bukankah kedekatan dengan Nya adalah anugerah? Dia memisahkan kalian agar kau bisa kembali dekat dengan Nya.

Setelah kepergiannya kau belajar jadi lebih dewasa, lebih bijak menjalani hidup. Sekarang kau mengerti kau tak bisa terlalu berharap pada orang lain. Kau tak bisa menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain. Kau sendirilah yang menentukan kebahagiaanmu. Bukan orang lain.

Kehilangan adalah pelajaran untuk menghargai kebersamaan dan keberadaan orang yang kita sayangi selama mereka masih ada.

Sebenarnya, tak pernah ada alasan yang pasti kenapa dua orang bisa berpisah. Kini kau sudah berhenti mencari jawabannya. Sekarang kau mengerti, bahwa cinta bukanlah jaminan. Mencintai lalu kehilangannya membuatmu lebih mengerti tentang dirimu sendiri, membuatmu lebih bijak dan lebih dewasa. Kau mengerti ada beberahapa hal yang tak bisa kau ubah dalam hidupmu. Mencintainya adalah anugerah, patah hati karenanya juga.

Kau percaya, kau pernah mencintainya dan dia juga mencintaimu. Jika kau kecewa, dia pun merasakannya. Saat kau terluka, dia juga terluka. Kisahmu dengannya sudah usai. Kau memeluk masa lalu dan tak lagi mempermasalahkannya. Kau memainkan peran patah hatimu dengan elegan.

Pada akhirnya, kau kagum pada dirimu sendiri. Berusaha untuk bangkit dan tak pernah menyerah. Perlahan-lahan move on dan menolak kalah. Kau tahu kau kuat.

Kau terus melangkah ke depan. Sampai saat kau menoleh lagi, kau tahu kau telah meninggalkan masa lalu. Saat bersamanya, kau mencukupkan kemampuanmu dan kau bermimpi dengan mimpinya.

Kini kau berusaha menikmati dan mencintai hidupmu yang tidak sempurna. Bagimu, bahagia itu sederhana, sesederhana kau bersyukur dengan apa yang kau punya. Kini kau bisa memimpikan mimpimu sendiri. Kini kau mengambil setiap kesempatan yang dulu kau korbankan demi dirinya. Memanfaatkan waktumu sebaik-baiknya. Melanjutkan skripsimu yang terbengkalai, bertualang bersama sahabat, memulai bisnis, bahkan kau kembali merajut mimpi sampai ke luar negeri.

Awalnya memang sebagai pelarian, tapi kini kau mulai menikmati. Memperbaiki diri, berubah dan berkembang bukan hanya sekedar pelarian atau balas dendam. Berkembang adalah salah satu cara untuk membahagiakan diri sendiri.

As the legend goes, when the phoenix resurrects from the ashes, she is even more beautiful.

Di antara perjuanganmu untuk memperbaiki diri dan berkembang jadi lebih baik lagi, kau menunggu seseorang yang sejati. Yang akan mencintaimu hingga kau lupa pernah ditinggalkan, sampai kau lupa pernah sesakit ini. Dia adalah melengkapimu dan kau melengkapinya. Dia adalah harmoni di hidupmu dan begitu juga kau baginya.

Kau meletakkan yang lalu di masa lalu, bersiap menjemput dan dijemput seseorang yang sejati. Yang takkan pernah pergi.

All endings are also beginnings.