Mungkin bukan dikatakan bernostalgia, namun hanya mengenang harapan yang sirna. Mimpi yang terbunuh atau mimpi yang tertunda. Hidup adalah sebuah pilihan yang pasti ada konsekuensinya. Sayangnya pemahaman ini baru bisa dimengerti setelah menuruti pilihan yang diharuskan untuk dipilih. Dengan demikian semua yang telah terjadi bisa dikatakan sebagai budak yang dilembagakan.

Terlahir dari keluarga yang sederhana dan tidak terlalu kental dengan yang namanya seni. Namun sedikitnya darah seni tercurah dari orang tua saya. Bapak saya seorang pegawai di perusahaan BUMN dan menurut penilaian saya terhadap semua hobinya bisa saya sebut seorang seniman, pujangga, serta kreativitasnya yang tinggi. Mamah saya seorang ibu rumah tangga yang menurut saya mempunyai jiwa seni juga. Entah apa yang membuat saya menyimpulkan demikian, namun semua pekerjaannya dan kreativitasnya di dapur bisa membuat saya terkesan dengan hasil buah tangannya membuat kue, cemilan, atau makanan lainnya.

Ini sebuah kisah yang mungkin sudah sering didengar. Kekecewaan atas bukannya pilihan dari hati. Sejak duduk dibangku sekolah dasar aku sudah mulai tertarik pada musik. Namun jalan untuk bisa terjun dalam dunia musik belum jelas. Tetapi setelah masuk ke sekolah menengah pertama mulai ada titik terang untuk bisa mengenal musik. Mulai dari belajar bermain gitar dengan bermodalkan gitar hasil meminjam dengan sepupu dan sedikit belajar chord gitar dengan buku pedoman bermain gitar, teman, sepupu, hingga teman bapak. Hanya dalam jangka waktu 8 bulan sudah bisa dikatakan paham akan metode-metode dalam bermain gitar dan sedikit teknik-teknik bermain gitar.

Mulai saat itu bisa dikatakan aktif dalam dunia musik. Baik main musik di sekolah hingga membuat sebuah grup band maupun membuat grup band di luar sekolah. Lambat laun keinginan untuk masuk sekolah musik pun muncul dan mencoba membicarakannya dengan orang tua. Namun yang di dapat hanya nasihat yang menjatuhkan. “Musik untuk hobi pasti dan bakal didukung, namun jika musik untuk pencaharian tidak”. Segala alasan dan argumen yang disampaikan tak membuahkan hasil. Hingga saat di sekolah menengah atas (SMA) terus mencoba membujuk untuk bisa melanjutkan ke jenjang universitas jurusan seni musik, namun hasil yang didapat tetaplah sama saja.

Akhirnya kuliah dengan pilihan orang tua tetap aku jalani. Niatnya cuma ingin membahagiakan orang tua dengan pilihannya terhadap anaknya. Tetap menjalaninya walaupun terkadang ragu, malas, pesimis, resah, hingga sampai beranggapan bahwa yang sedang dijalani saat itu bagai sebuah botol yang diletakkan ditengah lapangan luas saat hujan lebat namun tutup botol tersebut tidak dibuka yang jelas takkan ada air yang masuk kebotol itu. Mungkin orang lain bisa saja mengatakan tinggal buka saja tutup botolnya dan selesailah permasalahannya. Namun terkadang orang lain tak mengerti dan memahami mana yang memang niat dari hati dan mana yang hanya sebatas penenang serta memberi kebahagiaan kepada orang tua tanpa menghiraukan kemauan diri sendiri.

Advertisement

Sampailah pada titik jenuh yang memuncak. Dua bulan lebih hilang dari kampus, jenuh dengan kegiatan kampus dan pada awalnya sudah sempat mengubur niat pada dunia musik dengan mencoba berorganisasi didunia lingkungan dan pecinta alam. Namun tetap saja niat awal terus menghantui, dan hasilnya nilai untuk semester saat itu hancur. Usaha takkan pernah menghianati hasilnya dan pepatah itu benar. Keadaan pasang surut dalam suasana hati terus menerus dirasakan dan jika dikatakan labil pun mungkin ada benarnya juga.

Sampai memasuki akhir-akhir dari perjuangan dan penderitaan atas usaha untuk membahagiakan mulai bisa menerima kenyataan serta hanya berserah untuk sesegera mungkin menyelesaikan tanggung jawab itu. Sehabis melaksanakan mata kuliah di luar kampus (Kerja Praktek) ada sedikit waktu untuk tenang sejenak. Yogyakarta yang jadi pilihan hingga suatu hari ketika sengaja untuk menikmati suasana senja di suatu tempat yang cukup bisa membuat suasana hati menjadi tenang, sepulangnya dari tempat itu sengaja untuk singgah sejenak di kampus idaman sekedar hanya untuk foto-foto. Tetapi tetap saja semuanya kembali pada perasaan, tanpa disadari mutiara membasahi pipi hingga isak tangis pun membuat semakin tenggelam dalam lamunan saat mimpi, harapan, niat dan tujuan mulai tertanam dalam hati ini.

Tak ada gunanya meratap tanpa ada pergerakan dan semangat, yang jelas selesaikan tanggung jawab satu persatu terlebih dahulu guna melanjutkan mimpi yang sempat terbunuh, terkubur, bahkan hampir sirna dalam benak ini.