Ramadhan kali ini, terasa berbeda. Ya, karena aku menghabiskan kurang lebih setengah bulan lamanya di tanah perjuangan yang memang sudah kuimpi-impikan sejak dulu. Ya, bumi Gadjah Mada.

Beberapa hari sebelum memasuki bulan mulia ini, aku pernah terbesit satu pertanyaan. Apa sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini tiba-tiba muncul ketika aku mendapat kabar bahwa salah seorang terdekatku lagi-lagi menjuarai sebuah kompetisi yang cukup bergengsi. Lantas aku larut dalam kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan semacam “Apa yang sudah aku perbuat?” atau, “Aku sudah bisa menghasilkan apa? Rasanya belum ada pencapaian keren apapun selama kakiku memijak bumi perjuangan ini”

Dan pada hari ke lima puasa Ramadhan, aku betul-betul mendapatkan jawabannya.

Aku terbelalak mendapati berita di Facebook bahwa salah seorang dari keluarga besarku meninggal dunia. Yang lebih tak disangka lagi, ia adalah kakak laki-laki ayahku yang kedua. Sebetulnya bukan tak disangka. Hanya saja… yang langsung terlintas di pikiranku saat itu adalah, ayahku adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Pakdheku yang pertama, sudah pergi. Saat ini, yang kedua pun sudah pergi. Bagaimana kalau nanti tiba giliran ayahku? Ah, membayangkannya saja aku sudah tak kuat menahan tangis.

Alhamdulillah sekali hari itu aku tidak ada jadwal ujian, hanya mengumpulkan makalah. Akhirnya, aku segera berjalan secepat mungkin ke kampus, mengumpulkan tugas, dan segera menuju stasiun Tugu—diantar oleh temanku. Di kereta, aku memberi kabar ibuku bahwa aku akan pulang, berharap bisa mengikuti proses pemakaman pakdheku.

Advertisement

Sesampainya di Solo, aku langsung dijemput oleh kakakku dan menuju rumah duka. Saat menyalami budheku, air mataku sudah mengambang. Dan ketika duduk, seketika air mataku luruh satu-satu. Lantas sambil berusaha menahan tangis, aku mendengar salah seorang perwakilan—darimana aku lupa, mengatakan hal yang kini aku tau itu adalah jawaban dari pertanyaanku selama ini. Tak lama setelah itu, pakdheku segera dibawa ke perkuburan Pabelan untuk dimakamkan.

Usai acara pemakaman tersebut, aku banyak membantu pekerjaan di dapur. Karena kabarnya akan ada tamu yang datang dari jauh—Pacitan. Malamnya setelah semua tamu pulang, aku dan keluarga besarku semuanya berkumpul. Masih dengan raut muka penuh tangis, budheku bercerita, dan itu lagi-lagi menjadi jawaban pertanyaan kegelisahanku beberapa hari kemarin.

Pakdheku meninggal pada hari Jum’at, setelah sholat subuh, di rumah sakit. Sebelumnya aku tidak pernah tahu beliau memiliki sakit apa. Tapi sungguh, aku juga ingin memiliki akhir kisah kehidupan seperti beliau.

Beliau meninggal pada bulan Ramadhan. Allah Maha Besar. Masuk rumah sakit pukul 22.00 WIB di hari Kamis, dan meninggal setelah sholat subuh, keesokan harinya. Budheku bercerita, pukul 03.00 dini hari, pakdheku bangun dan bilang pada perawat bahwa beliau ingin sholat subuh. Tetapi karena belum subuh, beliau tertidur lagi. Kemudian setelah adzan subuh, beliau terbangun lagi dan berkata pada perawat bahwa beliau ingin melaksanakan sholat subuh. Usai melaksanakan sholat subuh, pakdheku meninggal dunia. Semua terjadi begitu cepat. Sangat cepat. Allah sudah terlalu rindu pada pakdheku. Hingga membuat prosesnya begitu cepat. Masya Allah..

Satu kalimat budheku yang terus terngiang hingga kini adalah, kami semua tentu sedih. Tapi kami semua juga senang, karena beliau meninggal dalam kondisi yang indah sekali. Sungguh sangat indah. Dan, inilah jawaban dari kegelisahanku.

Ramadhan kali ini, terasa berbeda. Aku sadar. Hakikat hidup adalah untuk mati. Kita hidup atau kita ada sekarang ini, adalah untuk mempersiapkan kematian. Betapa indah dan bahagianya semua orang ketika mendapati seseorang pergi dalam keadaan yang tiada kira indahnya. Apakah itu syahid, atau sedang sholat, atau sedang berpuasa, atau di hari-hari baik seperti hari Jum’at, bahkan di bulan Ramadhan.

Tentunya, kematian indah tidak bisa hanya diimpi-impikan saja. Semuanya berproses. Dan ketika aku tahu bahwa hakikat hidup adalah untuk mati, maka aku akan tahu apa-apa yang seharusnya kulakukan untuk mencapai kematian tersebut dengan cara yang paling baik.

Dari kejadian ini aku banyak belajar. Kematian bukanlah akhir. Tapi justru awal dari segalanya. Ketika kematian kita baik, maka tak hanya kita yang beruntung. Di balik tangis ribuan orang di luar tanah tempat kita kembali, mereka bersyukur dan bahagia menatap ukiran nama kita diatas batu nisan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Hakikat hidup adalah untuk mati. Karenanya, semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diridhoi Allah dan khusnul khotimah ketika kelak pergi meninggalkan dunia. Aamiin..

Yogyakarta, 13 Juni 2016 #KenanganRamadanku