Salsabila sahabatku,

Di balik senja yang selalu kau agungkan keindahannya, sedang apa kau di sana? Apa kau sedang mengajar ngaji anak-anak di sekitar rumahmu, atau sedang bermain dengan seekor kucing di pantai bersama kekasihmu, atau sedang memasak segala jenis makanan kesukaanmu?

Aku di sini sedang duduk-duduk di pinggir pantai Salsabila, dengan debur ombak yang begitu tenang, ditambah desir angin yang begitu lembut membelai tubuhku yang lelah setelah membuat jejak langkah untukmu, dan juga matahari yang perlahan tapi pasti terbenam di balik pantai dengan semburat warna keemasan.

Kau tahu Salsabila? Arus kehidupan akan terus dan senantiasa berubah. Bagaikan senja yang datang dengan semburat warna keemasan yang begitu indah hingga membuatmu begitu mengaguminya, perlahan berubah menjadi warna hitam dan pekat menuju malam. Begitulah arus kehidupan Salsabila, dan tanpa pernah kita sadari, arus kehidupan juga menerpa persahabatan kita; membuat semuanya menjadi berubah, dan tak lagi sama seperti yang dulu.

Dulu, aku dan kamu selalu menikmati senja di satu pantai ke pantai yang lain. Dengan langkah kakimu dan langkah kakiku yang berkejar-kejaran di sepanjang pasir di pinggir pantai. Sekarang, keindahan senja telah berubah di mataku Salsabila, seiring dengan langkah kaki yang kubuat sendiri tanpa langkah kakimu.

Advertisement

Salsabila yang cantik,

Bersama dengan kerinduanku akan hadirnya dirimu, kubuatkan jejak langkah kakiku di seluruh pantai yang ada di belahan dunia Salsabila. Agar ketika kau mengunjungi pantai manapun bersama kekasihmu lengkap dengan seekor kucing piaraanmu, kau akan melihat langkah kakiku menjelma sebagai sebuah memori yang akan mengingatkanmu tentang persahabatan kita. Aku sengaja membuatkan langkah kakiku sebagai pengungkap rinduku padamu Salsabila, bukan berkirim sepucuk surat.

Tak perlu kau bertanya mengapa Salsabila. Sebab sepucuk surat sudah tak lagi seromantis dulu! Kau ingat? Dulu aku dan kamu sering bertukar sepucuk surat untuk sekedar berjanji pantai mana yang selanjutnya kita kunjungi. Kita berlari penuh keriangan saat ada seseorang mengetuk pintu rumah kita. Dan ketika kita membuka pintu rumah, dan kemudian melihat bukan seorang tukang pos yang mengetuknya, kita sama-sama kecewa.

Sekarang setiap orang di seluruh belahan dunia, sudah tidak lagi memerlukan sepucuk surat untuk saling berjanji, untuk saling bertegur sapa, atau sekedar menanyakan kabar. Mereka semua bisa bertegur sapa, berjanji, bercanda, bercerita, atau hanya sekedar bertanya kabar dari seorang teman, sahabat, keluarga, hingga bahkan kekasih hati melalui telepon seluler Salsabila. Tanpa perlu menunggu seorang tukang pos mengetuk pintu mereka. Dan aku bisa saja melakukan itu padamu Salsabila. Tapi buat apa? Bukankah kau sendiri yang bilang jika kau sudah tak lagi sudi berbicara denganku entah melalui telepon seluler atau sepucuk surat seperti yang dulu pernah kita lakukan?

Haha. Lucu ya? Seharusnya kita bisa berjanji untuk mengunjungi pantai mana yang harus kita kunjungi selanjutnya melalui telepon seluler lho, tapi mengapa kita masih berkirim sepucuk surat ya? Ah, biarkan beberapa sepucuk surat yang masih kusimpan lengkap dengan perangko dan tulisan tanganmu itu menjadi saksi bisu atas betapa romantisnya persahabatan kita dulu.

Sudahlah! Mungkin sudah saatnya kita tidak perlu lagi bertelepon ria dan saling berkirim surat hanya untuk bertukar janji. Nanti kekasihku cemburu dan aku takut kehilangan dia. Begitu tulismu kan Salsabila? Ya, itulah tulisan tanganmu yang terakhir yang selalu kuingat bukan hanya ucapanmu tapi juga cara menulismu di selembar kertas yang sudah usang Salsabila. Bahkan perangko bergambar Gerhana Matahari Total yang merupakan prangko limited edition yang dibuat bebarengan dengan munculnya Gerhana Matahari Total beberapa pekan yang lalu pun masih kuingat dan kusimpan rapi.

Salsabila yang manis, selalu manis, tiada yang manis selain dirimu yang manis,

Aku tidak tahu apakah jejak langkah penuh kerinduan yang kubuat untukmu di sepanjang pantai akan hilang diterpa ombak sebelum kau datang, atau masihkah tetap sama seperti yang kubuat setelah kau datang bersama kekasihmu itu. Aku tidak tahu!

Jika memang masih sama dan kamu melihatnya, dan kamu mengingat memori persahabatan kita, dan ketika kamu benar-benar melihat dan mengingat kembali memori persahabatan kita, aku tidak mau menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya Salsabila! Apakah kamu akan benci, apakah kamu akan tersenyum, apakah kamu akan menangis tersedu, apakah kamu akan membuat jejak langkah di sebelahnya, atau apakah kamu akan mangkel dengan jejak langahku dan lalu menghapusnya. Aku tidak mau menerka-nerka Salsabila. Sebagaimana hatiku yang tidak pernah mau menerka-nerka – atau lebih tepatnya takut untuk menerka-nerka apakah di sana kau juga merindukanku atau tidak merindukanku.

Cepu, 18 April 2016