Satu alasan rasanya belumlah cukup untuk aku sampaikan dalam resahnya hati tentang rindu akannya. Rindu yang kini semakin pekat; datang tak kenal lelah dan menyelimuti waktu tanpa iba. Rindu yang memeras diriku; hingga aku yang terkapar kaku dalam waktu tanpa arah.

Bahkan sebanyak apapun aku mencoba mengarang sebuah alasan untuk berhenti saja, sudahi kelana panjang yang tak menuai hias akan keindahannya, tetap saja wajah siang dan malammu tertuang dalam gelas meracuni sikap wajarku mengagumimu.

Lihat saja bintang di sana, bulan berbaur dengan awan gelap telah memberiku amarah panjang berkepanjangan. Kenapa aku begitu segan meninggalkan rasa itu sementara jiwaku kehausan akan jawab yang tak kunjung tiba menyapa diri?

Coba lihat angin yang berputar arah melawan sebut namamu dalam hariku. Masihkah aku bertanya pada alam yang begitu membenciku untuk bercerita tentang rasa yang sama, kisah yang sama. Seakan aku tak memiliki tujuan rasa bosan selain berkata iya. Iya, aku menyukainya. Sungguh!

Hei kau, sang bintang yang memberiku cerita sejak hari itu. Kenapa senyummu begitu sulit untuk aku lupakan? Bahkan hingga hari ini aku ingin sekali melupakannya.

Advertisement

Hei kau, yang mengenali hadirmu dengan dahaga hati yang kering merontang oleh janji yang pernah melukai hati. Kenapa aku begitu sulit untuk sejenak bernafas lepas dari bayang rindu yang menyita waktuku? Bahkan dalam tingkat ramaiku, aku masih saja merasakan hal yang sama, sama dalam gema suara khasmu menusuk tajam pendengaranku.

Kenapa aku begitu sulit untuk merangkul diri untuk tidak mengingatmu untuk hari saja? Aku mohon, ajarkan aku untuk sekadar belajar menghirup udara yang telah bosan menantiku tenang. Kenapa kau begitu pelit dengan nada rendahmu yang mampu memberiku irama tenang dalam kehanyutanku memujimu datang dalam hidupku?

Lihat kini. Rasa ini semakin mencuri perhatian waktuku hingga aku tak mampu berkutik; lalu diam tanpa kata. Hingga tertidur dalam bayang semumu tak kuasa menahanmu hadirmu dalam mimpi disetiap malamku. Bahkan hingga pagi menjelang, rasa itu masihlah sama. Di mana ketika mentari itu terbit seharusnya hangat ku dapatkan, namun yang ku rasa hanya lembaran embun yang begitu dingin mencekam diri. Seharusnya sinarnya aku jadikan semangat untuk bertarung menghadapi hari, namun pada kenyataannya hanya sendu percikan gerimis mengawas diri.

Tidakah kau sedikit mengerti betapa rasa itu merajut mimpi dalam tindak pasti atas namamu? Harimu? Senyummu? Bahkan hadirmu tak pernah lari dari buaian asmara kesolehanmu.

Bisakah kau sejenak singgah memberiku tanya hingga percakapan kecil di antara hati mampu aku jawab dengan sebuah alasan yang kuat? Kenapa aku begitu sulit melepasmu?

Kenapa aku begitu ingin memilikimu dalam hidupku? Tak sadar diriku, bahwa aku hanya sebatang kayu lapuk terombang-ambing dalam lautan waktu yang tak menentu. Kiranya, aku berada dalam perjalanan yang sama denganmu. Tidakkah aku bertanya kepada rumput liar yang memandangku curiga akan jawab pastiku itu?

Rasanya aku memang sadar, bukan sekedar mimpi saja.

Lihat saja aku saat ini. Begitu rasa ingin berontak; mengangkat pedang untuk sekedar bersuara lantang agar diri mampu berbuat sesuatu untuk katakanya, jika aku memang inginkan dirinya dalam hidupku.

Bukan saja untuk hari ini aku berkata seperti itu, namun semampu aku bernafas, seiring waktu yang diberikan oleh Sang Penciptaku, maka aku akan gunakan waktu dan nafas itu untuk menjagamu dan memberimu apa yang menjadi tugasmu sebagai imammu kelak.

Tapi, nurani sedikit berkata tidak. Walaupun kedengarannya sopan ia berontak, namun tetap saja sedikit menyinggung perasaanku. Sepertinya aku perlu sungai yang dalam untuk sekedar terjun ke dalamnya lalu mencoba untuk menahan nafas panjang, lalu kaitkan dengan hidupku yang tentunya tak akan bisa membuatnya bahagia. Atau memang senyummu yang pernah berikan aku celah untuk berpikir mencintaimu hanyalah sebuah hamparan sakit hati yang kini tertinggal jelas dalam hantaman cinta yang tak pernah ada jawabnya?

Entahlah. Aku ini semakin tidak waras saja. Karena cinta kadang aku menjadi orang yang beda. Karena rasa yang terasa, kadang aku menjadi orang yang pemalu, pemarah bahkan pencemburu berat. Padahal jika aku pikir-pikir, aku tak punya hak menyiksa diriku sendiri. Karena hal ini, paling tidak aku bisa membuka tabir kegelisahan itu menjadi mudah untuk aku pahami.

Apakah aku pernah berkata menyesal? Malahan aku seharusnya berterimakasih denganmu. Kau telah memberiku banyak pelajaran hidup; disyukuri tanpa harus menuntut.

Seperti itu juga rasa yang aku punya, rasa yang aku pendam selama ini atas namamu.

Seharusnya aku tak merasa geram karena hingga saat ini rasa itu masih saja tersimpan erat dalam hatiku tanpa aku sampaikan kepadamu. Yang perlu aku lakukan adalah menikmati hadirmu, senyummu, tawamu, cemburuku, marahku bahkan air mata yang mungkin saja bisa datang menimpaku. Namun, percayalah. Aku tak akan biarkan percikan api benciku menodai cerita panjang tentangmu. Jikapun itu terjadi, itu karena hatiku yang begitu rentan dengan luka yang sering memaksa diri untuk menyerah.