Kalimantan, apa yang terlintas dalam pikiran teman-teman saat pertama kali mendengar nama pulau ini? Hutan? Goa? Budaya? atau Pantai? Ya, semua itu ada di Kalimantan. Banyak tempat-tempat indah yang bisa kita jelajahi, dari bagian utara hingga selatan, dari bagian timur hingga baratnya. Adalah Saya, Mas David dan Opu Rahmat yang akhirnya tergerak untuk menjelajah tempat-tempat indah di Kalimantan, khusunya Kalimantan Timur, karena kami bertiga tinggal di kota Samarinda. Tujuan awal kami sebenarnya adalah pergi ke Tanjung Soke. Merasakan kearifan lokal masyarakat Dayak Luwangan yang tinggal di desa ini, melihat dan mendengar cerita tentang klering atau guci yang dijunjung batang kayu untuk menyimpan tulang-tulang manusia yang telah meninggal, adat ini masih dipertahankan oleh masyarakat yang tinggal disana dan juga kami ingin memberikan semangat pendidikan bagi adik-adik yang tinggal di Tanjung Soke.

Tanjung Soke adalah sebuah desa yang berada di kabupaten Kutai Barat, sekitar lima jam perjalanan darat dengan menggunakan motor dari Samarinda, melewati kabupaten Kutai Kartanegara. Kami juga harus menggunakan ketinting atau perahu kayu yang dapat memuat motor dan penumpang dari Tenggarong Seberang menuju Tenggarong Kota, lalu melanjutkan perjalanan darat lagi menuju Tanjung Soke. Sayang sekali hujan mengguyur sangat deras saat itu dan jalanan menuju desa Tanjung Soke juga tidak terlalu bagus, berlumpur dan becek. Beberapa kali kami harus berhenti untuk membersihkan ban motor yang dipenuhi lumpur, sampai akhirnya terhenti di tanjakan. Kami berpapasan dengan beberapa warga dari arah yang berlawanan, mereka pun berhenti dan memberitahu kami bahwa jalan berlumpur didepan masih panjang. Tidak mau ambil resiko, akhirnya kami putar balik dan membatalkan niat untuk menuju Tanjung Soke. Tidak mau perjalanan ini berakhir begitu saja, kami memutuskan putar balik dan pergi menuju Tanjung Isuy.

Tanjung Isuy adalah nama salah satu kecamatan yang juga berada di kabupaten Kutai Barat. Tak kalah menariknya dengan Tanjung Soke, Tanjung Isuy juga masih mempertahankan adat Dayak Benuaq. Disini masih terdapat beberapa lamin atau biasa disebut lou dalam bahasa Dayak Benuaq. Ada beberapa lou atau rumah tradisional masyarakat Dayak pada umumnya yang masih berdiri di desa ini. Beberapa lou yang kami kunjungi disini adalah lou Batu Bura yang kira-kira telah berusia hampir 30-an tahun. Suasana didalam lou ini sejuk, karena lantainya terbuat dari rotan. Didalam lou Batu Bura ini kita dapat melihat alat penenun ulap doyo, tenun khas Dayak Benuaq. Menurut informasi kakek yang kami temui didalam lou, nama-nama penghuni lou yang telah melakukan acara adat Kwangkai (upacara adat kematian suku dayak Benuaq) dipahat pada tiang-tiang lou Batu Bura ini. Sayang waktu kami kesini para penghuni lou sedang pergi berladang jadi kami tidak dapat melihat mamak-mamak menenun ulap doyo secara langsung.

Selain lou Batu Bura terdapat juga lou Taman Jamrud yang telah dimodifikasi menjadi sebuah penginapan. Menginap di Lou Taman Jamrud ini dikenakan tarif Rp.100.000 per-kamar. Banyak wisatawan yang telah menginap di lou ini, tapi sayang sekali saat saya mengisi buku tamu dan melihat daftar tamu yang pernah berkunjung ke Tanjung Isuy didominasi oleh Warga Negara Asing, harusnya saya dan teman-teman dari Indonesia lebih semangat lagi menjelajahi keindahan di negeri kita sendiri. Kebetulan didepan lou yang kami tempati sedang ada acara pernikahan. Sudah menjadi adat masyarakat Dayak Benuaq saat pesta pernikahan dimalam harinya akan diadakan Rijoq atau panggung hiburan dengan nyanyian lagu-lagu daerah, meski kami tak mengerti arti dari lirik lagunya, iramanya cukup membuat badan ini ikut bergoyang. Saya juga sempat mengenakan pakaian tradisional Dayak Benuaq di lou Taman Jamrud ini.

Diantara lou – lou yang ada, yang paling diminati oleh wisatawan adalah lou Mancong yang diresmikan pada tahun 1987. Berbeda dengan lou lainnya, lou Mancong memiliki dua lantai, dan bilik didalam lou dapat disewa oleh para wisatawan yang ingin merasakan sensasi tinggal dirumah tradisional suku Dayak Benuaq. Lou Mancong sedang ditutup saat kami datang kesana, jadi kami hanya melihat Lou dari luar saja. Selain lou kita juga dapat melihat tempelaqk atau kuburan khas Dayak Benuaq, fungsinya hampir sama dengan klering atau kuburan khas Dayak Luwangan yakni untuk menyimpan tulang-tulang manusia yang telah meninggal, bedanya tempelakq ini bukan guci melainkan peti yang dijunjung dua tongkat batang kayu dengan ukiran khas Dayak Benuaq.

Advertisement

Jika sudah puas berkeliling desa dan melihat lou, kita bisa bersantai sejenak ditepi danau Jempang sembari melihat aktivitas warga disini. Berbaurlah dengan warga disini, warga Tanjung Isuy sangat ramah, kita juga dapat menyewa kapal kayu atau ces untuk berkeliling danau, meski tidak bisa berekeliling dari ujung-keujung sebab luas danau ini menurut wikipedia sekitar 15.000 hektare. Kami menyewa perahu kayu yang masyarakat menyebutnya ces untuk menuju Tanjung Jone yang berseberangan dengan Tanjung Isuy. Sepanjang perjalanan saya melihat banyak sekali burung yang terbang diatas danau, ada juga rumah yang berdiri diatas danau dan ces adalah transportasi umum yang banyak dimiliki oleh warga desa disini. Sesampainya di Tanjung Jone, kami beristirahat dengan menggantung hammock ditepi danau. Bersantai sembari memulihkan tenaga untuk siap kembali ke Samarinda.

Kalimantan masih memiliki banyak tempat-temmpat menarik yang dapat dikunjungi. Tanjung Isuy yang terletak dibagian kabupaten Kutai Barat ini salah satunya, Kabupaten yang memiliki julukan Tanaa Purai Ngeriman ini masih menyimpan kebudayaan yang masih dipegang erat. Kutai Barat juga menjadi gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur, tak perlu jauh ke Long Iram atau bahkan hingga Tiong Ohang jika hanya memiliki waktu yang tidak banyak. Saya rasa Tanjung Isuy dapat menjadi salah satu destinasi yang tepat bila ingin lebih mengenal sedikit kebudayaan yang dimiliki negeri ini, Indonesia