Tak kuat rasanya kalau hanya berpedih luka sendirian, merawat terus-terusan luka kecil yang makin lama makin menganga, makin dirawat, dielus malah semakin menjadi-jadi tak karuan, begitu runyam, menyiksa dan menyisakan rasa perit tak terhingga. Cinta tidak sebercanda ini! Untuk apa mengagung-agungkan cinta kalau ternyata sifatmu hanya melulu tuk menikam ulu hatiku yang lemah.

Iya benar, mungkin kamu tak melihat kekecewaanku selama ini, hanya karena sifatku yang terus saja mentolerir sifatmu, diam dan tak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil yg menyakitiku, bahkan aku yang meminta maaf duluan padamu. Karena apa? Karena aku telah memilihmu, aku mencintaimu, untuk itulah aku berusaha mempertahankan bahtera cinta kita.

Dan sepertinya usahaku sia-sia, kesabaranku tak cukup menyadarkanmu betapa kamu telah bertubi-tubi menyakitiku, mempermainkan rasa cinta tulusku, dan menyepelekan keberadaanku disisimu. Tahukah kamu kesabaran seseorang ada batasnya? Karena aku juga manusia yang punya seonggok hati, sama sepertimu. Bagaimana kalau semua yang kurasa berpindah kepadamu? Akankan kamu sefrustasi ini? Entahlah, tanyakan pada hatimu. Itupun jika kamu masih menggunakan hatimu.

Melepaskan, mengikhlaskan bukan berarti berhenti mencintai, karena cintaku tidak sedangkal itu. Aku hanya ingin terlepas dari beban berat yang kupikul, memberi ruang hatiku untuk bernapas lega, dan aku dengan betapa sadar tahu kalau kesabaranku tidaklah dihargai olehmu yang kucinta.

Maaf… mungkin ini lagi yang akan terus kudengar dari mulut tak berdosamu dalam setiap waktu 24 jam yang kupunya. Yah mungkin kamu merasa bersalah saat itu, tapi kamu tidak pernah mau berubah, seolah-olah maaf hanya bahan candaan rutin dalam hari-harimu. Maafkan aku memilih pergi, melambaikan tangan ke kamera.

Advertisement

Aku menyerah….