Apa itu cinta? Bagiku cinta adalah sebuah keyakinan terhadap seseorang. Aku tak butuh berpikir panjang untuk memberikan definisi tentang cinta pun aku tak perlu banyak pertimbangan sepertimu untuk bisa mencintai seseorang. Jangan paksa aku untuk berhenti menunggumu, abaikan saja aku karena kau hanya perlu berfokus pada bahagia dan mimpimu sekarang. Aku sudah terbiasa dengan penantian panjang, ini adalah keputusanku sendiri dan aku sadar atas segala konsekuensinya. Memutuskan untuk menunggumu masih menjadi pilihan terbaikku saat ini. Sebuah pilihan yang tak akan pernah ku sesali karena aku tidak sedang bertaruh atas nama cinta. Bahkan jika pada akhirnya nanti Tuhan tidak mempertemukan kita di ujung jalan yang sama aku akan tetap mensyukurinya. Karena menunggumu mengajarkanku tentang kesabaran dan mencintaimu mengajarkanku tentang keikhlasan.

Menunggu dan berharap tentangmu membuatku menjadi manusia irrasional dan keras kepala. Orang-orang tak habis pikir kepadaku, menganggapku aneh dan gila. Mengapa aku tak segera bergegas untuk menemukan dia yang lebih pasti? Aku tak peduli dengan kata orang, siapa mereka? Adakah yang lebih tahu tentang diriku selain Tuhan dan aku sendiri. Jika nanti memang aku harus beringsut meninggalkanmu, bukan berarti karena kau tak layak untukku namun justru aku yang tak pantas membersamaimu. Mungkin kau berhak bersama dengan wanita yang jauh lebih baik dariku. Seperti yang kau tahu karena aku seorang wanita ambisius yang hanya punya hati. Aku masih akan menunggumu, membiarkan keyakinanku berpendar dan berharap jika kesabaranku akan berbuah manis.

Menunggumu membuatku terbiasa untuk menikmati kesakitan. Rindu yang mengakar, kini kian menggerogoti hati, sesekali memaksa tangis. Keraguan yang timbul tenggelam tak terprediksikan dan kecemburuan yang kadang membakar hati. Apa kau benar-benar menginginkanku menjadi seorang masokis? Sudah lama aku berpura-pura untuk terlihat baik-baik saja. Menyunggingkan senyum pada setiap orang yang bertanya tentang kejelasan nasib cintaku. Tapi aku bisa apa? Hanya menangis dan mengadukannya kepada Tuhan. Lagi-lagi aku kembali harus mengingat bahwa aku sudah terbiasa dengan kesakitan. Aku percaya bahwa akan ada pelangi setelah hujan.

Cinta tak hanya tentang kedekatan secara fisiologis. Tak masalah jika sekarang jarak dan waktu masih membelenggu. Jika cinta butuh perjuangan maka apa yang sekarang bisa kita lakukan? Kita hanya perlu menjaga hati kita masing-masing. Menyimpan cinta kita dalam-dalam dalam relung-relung hati agar tak cepat menguap dan perlahan memudar. Meredam kerinduan mungkin sanggup ku lakukan namun aku tak bisa membendung kecemburuanku, jadi bisakah kau sedikit saja menjaga hatiku seperti aku berusaha menjaga hatimu? Cinta bukanlah hasil perjuangan dan keyakinan dari salah satu pihak saja, apa gunanya aku terus mempertahankanmu dengan penuh keyakinan sementara kamu sendiri tak yakin tentang cinta kita yang mungkin sekarang sedang ada di ujung tanduk.

Bertemu denganmu, membuatku menjadi wanita yang paling bahagia. Mencintaimu membuatku merasa lebih bahagia, lebih kuat, dan lebih baik. Kau mengajarkanku tentang cara mengelola rasa, tentang kesederhanaan dan cara untuk bersyukur. Jika rasa ingin memiliki adalah bagian dari cinta. Maka salahkah aku jika berharap ingin menjadi bagian dari masa depanmu. Aku ingin menua bersamamu, menanam bunga di halaman rumah bersama cucu-cucu kita. Tidakkah kau menginginkan hal yang sama denganku? Mungkin saja sekarang waktu belum berpihak pada kita. Aku tak bisa menuntutmu, aku tak bisa mendiktemu. Aku hanya bisa memelukmu erat dalam simpul-simpul do’a. Berharap kau akan baik-baik saja disana. Merangkai satu demi satu balok-balok impian yang akan menjadi jembatan untuk kita berdua. Semoga aku dan kamu segera menjadi kita yang dibalut dalam ikatan halal.