Aku tidak menyangka ketulusan cinta dan kepercayaan yang kuberikan kepadamu seutuhnya, kau sia-siakan begitu saja. Bukan hanya kecewa tetapi hatiku juga sangat terluka karena kau telah mengkhianati cinta.

Tak pernah terlintas dalam pikiranku, kau akan tega melakukan semua ini padaku. Karena memang selama ini aku mengenalmu sebagai seorang pria yang sederhana dan tidak banyak tingkah. Tapi ternyata selama ini aku salah menilai dirimu. Aku salah karena hanya mengenalmu dari luarnya saja, tanpa aku tahu siapa dirimu sebenarnya.

Pepatah mengatakan, “kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja”

Ternyata itu semua memang benar adanya. Aku yang selama ini sudah mempercayaimu sepenuhnya, akhirnya terluka dan kecewa karena kau telah menghancurkan semua harapan dan impian yang kupunya. Sehingga kini aku tak kuasa menahan kesedihan dan air mata.

Rasa terluka dan kecewa kini telah menjadi satu dan menghancurkan seluruh hatiku. Aku sendiri tidak tahu, apakah aku masih memiliki hati untuk memaafkanmu? Karena yang aku tahu, saat ini aku benar-benar hancur berkeping-keping hingga tak tahu harus bagaimana menyembuhkan luka yang ada hatiku ini. Jadi aku mohon padamu, untuk saat ini jangan pernah kau mencoba untuk muncul di hadapanku. Karena hatiku masih belum siap untuk bertemu dengamu (lagi).

Apakah semua ini adalah skenario drama kehidupan yang di rancang oleh Tuhan untukku?

Advertisement

Timbul pertanyaan di hatiku,” apakah hidup ini hanyalah sebuah skenario drama yang di rancang oleh Tuhan ?”

Jika memang hidup ini hanya sebuah drama, mungkin aku adalah pemeran utama dan kamu adalah pemeran figurannya. Karena yang aku tahu di dalam setiap drama pasti ada episode di mana pemeran utama selalu merasakan kesedihan dan penderitaan dahulu, sebelum akhirnya menemukan kebahagiaan.

Mungkin begitu pula dengan drama kehidupan yang sedang aku alami saat ini. Mungkin saat ini drama kehidupanku sedang memasuki episode di mana aku sebagai pemeran utama harus mengalami kesedihan dan penderitaan. Tapi aku percaya, skenario yang telah Tuhan rancang untuk ku tidak akan berakhir begitu saja dengan air mata. Aku percaya ini hanya sebagai awal episode baru dalam drama kehidupanku, tentunya kali ini tidak akan ada lagi pemeran sepertimu yang akan melukai hatiku.

Tapi, jika memang ini hanya sebuah drama, mengapa sakitnya begitu nyata?

Jika ini hanya sebuah drama dari Sang Pencipta, mengapa sakit yang kurasa begitu nyata. Sakit ini, luka ini, dan air mata ini benar-benar nyata. Sungguh, aku tidak berdaya dengan keadaan yang begitu menyakitkan seperti ini. Aku hanya bisa berdoa, semoga sakit ini, luka ini, dan kekecewaan ini adalah yang terakhir yang akan aku alami. Karena aku tidak ingin kembali merasakan luka yang sama untuk kedua kalinya.

Aku percaya Tuhan adalah sebaik-baik dan sehebat-hebatnya sutrada dalam sebuah drama kehidupan. Dia tidak akan pernah membiarkan seorang hamba-Nya terus mengalami penderitaan dan kesedihan. Jadi aku percaya pasti akan tiba waktuku untuk memasuki episode baru dalam drama kehidupanku yang penuh dengan kebahagiaan.

Biarlah kesedihan ini, luka ini, dan kekecewaan ini menjadikanku pemeran yang lebih baik lagi dalam kehidupan ini. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah menjalankan peranku sebagaimana skenario yang telah Tuhan rancang untuku. Aku akan terus berusaha menjadi pemeran utama yang terbaik. Dan kali ini akan aku pastikan bahwa drama kehidupanku akan penuh dengan kebahagiaan, tentunya tanpa pemain figuran sepertimu (lagi).

*curahan hati seorang sahabat