Kamu berhenti..

Kamu berhenti tepat dimana aku siap untuk memperjuangkan "kita". Saat aku siap, bahkan lebih dari siap untuk mengatakan pada dunia "aku mencintainya !". Kamu tidak bisa mengakui ku di hadapan temanmu aku diam, kamu tidak bisa mengakui ku di depan keluargamu karena adat kalian yang sulit aku juga diam. Bahkan kamu tidak bisa mengakui ku di dunia maya pun aku juga diam.

Tapi aku tak bisa diam lagi saat kamu bilang, bahwa kamu akan bahagia jika aku bisa menikah dengan orang lain yang lebih bisa membahagiakanku daripada kamu. Orang lain yang akan menemaniku hingga akhir, dan akan tertawa bersamaku dan calon anak-anakku. Aku anggap kamu berhenti berjuang.

Atau kamu memang tak mau berjuang bersamaku? Aku tahu dengan adat, agama, bahasa dan negara yang berbeda semua akan jadi sulit. Tapi, bukankah semua itu bukannya tidak bisa dipersatukan dan diperjuangkan? Tak bisakah kamu yang menemani ku hingga akhir? Tak bisakah kamu yang tertawa denganku walau di masa yang sulit ? Tak bisakah kita jadi benar-benar "kita"? Kamu menyerah saat itu semua masih bisa diperjuangkan? Saat aku meyakini kamu untukku, tapi kamu sendiri tak yakin tentang "kita".

Apa aku marah pada kenyataan yang benar-benar menyulitkan kita untuk bersama ? Tidak, bukan kenyataan yang menyulitkan kita untuk bersama. Itu kamu. Kamu yang tidak mau lagi berjuang memenuhi harapan yang pernah kita andai-andaikan dahulu. Aku anggap kita selesai.

Advertisement

Aku yang terlalu berharap, aku yang terlalu memaksakan kehendak padahal kamu tak mau lagi berjuang bersamaku. Aku minta maaf untuk semua hal yang kulakukan dan menyulitkanmu. Semua permintaanku yang mustahil. Dan waktu mu yang ku minta, aku tak bisa mengembalikannya padamu untuk kau pergunakan untuk hal yang lebih penting. Aku akan menganggap kita tak pernah bersama, toh pada kenyataannya memang seperti itu. Kamu di negara mu sana dan aku di sini.

Jujur, melepasmu seperti ini sebenarnya aku juga tidak mau. Hanya saja tak ada lagi yang bisa ku perjuangkan untuk kita. Aku akan melepaskan semua kenangan tentang mu perlahan.

Hah… Rasanya lebih menyedihkan dari cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kamu ada, kamu (dulu) milikku.