Dulu, aku pernah meminta pada Tuhan diberikan pacar yang keren dan baik hati. Lalu, Tuhan menghadirkan kamu dalam hidupku. Meski bukan hal mudah juga untuk mendapatkanmu. Aku menganggapmu sebagai pengganti papa yang meninggal 11 tahun yang lalu di bulan September. Lalu, kamu datang mengubah Septemberku yang awalnya serasa badai menjadi berpelangi. Kamu mengubah segalanya menjadi lebih indah. Kamu menghadirkan cinta dalam hidup, mengubahku yang awalnya sulit tersenyum, menjadi tersenyum lebih mudah.

Dengan adanya kamu, segalanya terasa sungguh lebih mudah. Bahkan pada akhirnya aku begitu tergantung padamu. Mama pun kadang-kadang berkomentar bahwa ia bosan apapun aku sangkut pautkan dengan kamu. Kamu bukan saja menjadi pacar dan pengganti papa, kamu menjadi segalanya bahkan juga musuh kadang-kadang.

Anniversary 1 tahun kita, kita lalui dengan mudahnya penuh cinta. Aku merasa menemukan orang yang kucari. Kuyakin kita bahagia dengan kebersamaan-kebersamaan kita tanpa perlu rasa bosan. Setiap hari. Iya, setiap hari. Aku dan kamu menjadi kita.

Anniversary 2 tahun, bermacam-macam halang rintang menghadang. Kamu yang berubah. Waktumu yang dulu sangat banyak untukku, akhirnya terbagi. Kamu mulai sibuk dengan rutinitasmu, organisasimu, teman-temanmu, bahkan kurasa aku sangat tidak diprioritaskan lagi. Aku selalu merasa menjadi yang terakhir. Tapi aku berusaha tetap sabar. Katamu, kamu tetap untukku. Kamu tetap meluangkan waktumu untukku.

Hingga akhirnya, kamu benar-benar sibuk. Kamu mengabaikanku. Kamu tidak membalas pesan-pesanku. Di balik sibukku, aku terus mencari, mencari dan mencarimu dengan sabar bahkan meledak sekali-kali. Untuk pertama kalinya, kutemukan kamu yang benar-benar berbeda. Kamu yang pertama kalinya ingin pergi dariku.

Advertisement

Aku menangis sejadi-jadinya. Kubandingkan kamu yang kini dan kamu yang dulu. Tapi ternyata waktu masih berpihak padaku. Kamu bersamaku lagi. Menjalani waktu bersama. Aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Merubah sifat burukku, dari yang pemarah berusaha lebih sabar menghadapimu, menjaga penampilanku, dan lain-lain. Semuanya untukmu.

Hingga ini terjadi lagi. Aku bingung kenapa. Minggu lalu, kamu masih menyatakan rindu padaku, aku yang pulang kampung beberapa waktu untuk menyelesaikan urusanku. Mendadak, kamu tak mengangkat telpon, tak membalas chat. Beberapa hari lalu, meski lama baru membalas bbm kamu masih memanggilku dengan panggilan sayangmu, hari ini tak lagi.

Hari ini, tepat 10 hari lagi anniversary kita yang ketiga tahun, kamu lebih memilih mengakhirinya. Aku yang merencanakan sesuatu untuk anniversary kita, akhirnya tak bisa apa-apa. Katamu, aku tak salah apa-apa. Ada hal yang tak bisa kamu jelaskan. Kamu berharap dikemudian hari kita jodoh.

Aku memang mencintaimu dengan sangat. Namun apalah dayaku jika akhirnya kamu memilih pergi. Mungkin memang sudah waktunya. Cinta tentang perasaan, bukan paksaan. Mungkin ini jalan terbaik. Untukmu yang kucintai dengan dalamnya, terimakasih.