Dua tahun lalu, kamu memutuskan untuk pergi, setelah dua tahun pula kamu menghadiahkan aku begitu banyak memori. Remuk rasanya, sakit tak tertahan menyerang perasaanku yang masih belum terima atas kepergianmu. Kepergian dengan alasan yang sampai saat ini pun masih aku pertanyakan. Kepergianmu yang hingga beberapa detik lalu belum aku ikhlaskan, dan masih tersempil harapan kamu kembali lagi nantinya.

Hari ini, setelah dengan susah payah Aku bangkit dan menutupi semua sakit itu, kamu tiba-tiba muncul dengan mengirimku sebuah pesan. Kamu meminta maaf, Aku senang kamu kembali dan ternyata mengingatku, tapi kalimatmu selanjutnya membuatku lagi-lagi merasakan luka. Ternyata kamu hanya ingin mengucapkan selamat tinggal untukku. Kamu membuat sakit yang sama seperti saat kamu dulu pergi meninggalkan aku tanpa alasan. Aku berpikir apa nantinya hati ini bisa kembali utuh seperti semula setelah berkali-kali kamu hancurkan. Seketika aku lemas, mulut bisu, hanya tersisa airmata yang spontan mengalir bersama penyesalan akan penantian sia-sia yang menyelimuti.

Tahukah kamu semalam tadi aku menangis

Mengingatmu, mengenangmu

Mungkin hatiku terluka dalam

Atau selalu terukirkan kenangan indah

– Audy Item –

Tapi kamu jangan khawatir, ternyata dalam segala kekecewaan, penyesalan, dan kesedihan yang bercampur dalam diriku, aku akhirnya sadar setelah itu bahwa Aku masih punya Dia yang tidak akan menyakitiku. Kamu tahu? Aku berpikir mungkin ini bentuk kecemburuan-Nya karena aku terlalu berharap padamu. Ya, setidaknya aku masih memiliki Dia yang tidak akan meninggalkan aku sepertimu. Dia bahkan masih begitu baik menenangkan aku yang tadinya larut dalam tangis. Dia telah menyadarkan aku dari kebutaan cinta yang semu.

Aku memaafkanmu. Jangan tanya apa ini tulus atau tidak, anggap saja kesungguhan maafku ini sama seperti kesungguhan permintaan maafmu untuk meninggalkan aku. Tapi sungguh, aku tengah belajar ikhlas dan kuat, membiarkan kamu pergi mencari bahagiamu karena aku sadar ternyata itu tidak kamu dapatkan dariku. Aku meminta pada-Nya untuk memudahkan dan memberimu bahagia yang kamu inginkan. Aku juga memohon agar Dia memberi aku dan kamu jalan yang lebih baik, yang tidak digelapkan oleh apapun.

Advertisement

Dulu, kini ataupun nanti sama saja, tak bisa melihatmu, mendengar suaramu. Ya, kita sama-sama terpisah jarak dan takdir yang mungkin tidak berpihak padaku. Namun jika itu yang terbaik untukmu, aku rela meskipun harus dihantam luka, aku tetap biarkan kamu pergi mencari kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Selamat tinggal juga untukmu yang pernah menjadi bagian hidupku, yang memberiku arti suka dan lara, untukmu yang pernah aku cintai.