Aku tau kau adalah bagian dari sajak-sajak yang sering kutulis atau sering kuceritakan pada langit malam. Malam ini aku bercerita lagi, bersama bintang dan angin yang datang, mereka terkadang bertanya, benarkah kalian benar-benar ada? Benarkah kita pernah melakukan hal-hal gila? Mereka terkadang menatapku tak percaya. Aku masih sama, seorang gadis pelamun dan suka berkhayal. Dan malam ini udara sangat sejuk, kalian tau 'kan jika aku sangat menyukai citylight? Aku sekarang sedang menatap jutaan cahaya kota itu.

Bagaimana kabar kalian? Aku tau, kita sekarang berbeda tempat. Ingat ketika kita berada di suatu ruangan yang sering kita sebut “kelas rahasia”? Kemarin aku berkunjung ke sekolah kita. Suasananya memang sudah berbeda, tapi kenangan kita selalu tetap sama. Aku ingat sekali, kursi-kursi tua berwarna cokelat itu, dulu kita duduk bersama, saling menatap dan tersenyum dan akhirnya kita tertawa. Aku ingat sekali, pohon-pohon itu, kita duduk setelah letih berolahraga bersama. Atau kantin yang sering kita jadikan tempat untuk bercerita tentang seseorang yang menurut kita pantas untuk dibicarakan, aku ingat sekali, kau sangat menyukai soto ayam, sedangkan aku sangat menyukai nasi uduk, kita sering tertawa tentang hal yang konyol.

Ingat saat kita liburan bersama? Tahu tidak, jika saat itu Tuhan mengizinkanku untuk menghentikan waktu sejenak, aku ingin sekali menatap kalian lebih dalam, betapa aku merindukan kalian sekarang. Hari itu aku ingat sekali, kau, aku dan matahari yang terbenam itu, derap langkah kaki kita yang tak seirama, walau hanya menjadi memori klasik yang terbawa arus ombak perpisahan, tapi persahabatan kita tak lekang oleh waktu.

Kau adalah salah satu hal yang pergi jauh dalam hidupku, kita tidak mengingat hari itu, tapi kita mengingat memori kita. Kau sangat aneh dulu, dengan wajah lugumu kau berbicara tentang ketidaksukaanmu padaku tapi kau masih saja ingin bermain denganku.

Pantai itu dan kenangan itu, aku masih ingat dengan jelas, teman. Angin pantai itu seolah mengisyaratkanku untuk menatap mata kalian lebih dalam. Aku duduk sejenak karena letih berlari, tapi kalian tetap berlari seolah tulang-tulang kalian itu masih kuat untuk berlari. Aku menatap kalian sejenak, ada rasa sedih saat melihat kalian.

Advertisement

Aku menatap laut di depan mataku, kupejamkan sejenak, seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk menghentikan waktu, aku ingin sekali melihat kalian bahagia sekali lagi. Berpisah bukan hal yang membahagiakan.

Waktu kita hanya dua hari untuk bisa bersama, tapi kita lupa untuk mengucapkan kata perpisahan, karena kita tahu, pergi jauh meninggalkan memori-memori ini tidaklah menyenangkan. Ada tangis saat kutatap kalian, kalimatku tak bisa menjelaskan tentang kita.

Senja itu adalah senja istimewa, kita memandang senja itu bersama, duduk bersama, menceritakan kenangan kita selama ini, dan membuat air mata mengalir tak tertahan, senja itu merupakan salah satu di antara banyak kenangan yang kita buat. Lapangan basket, kantin, soto ayam, nasi uduk, kelas rahasia, pintu kelas rahasia dan hal-hal menakjubkan lainnya. Aku ingat semua itu, aku masih merasa jika kita belum berpisah, aku masih ingat kau membelikan minuman kesukaanku, aku masih ingat bagaimana raut wajah kesal kalian saat aku memakan bekal kalian, aku ingat saat kita saling mempertahankan ego kita masing-masing, aku ingat saat kita berduka, aku ingat itu.

Aku menatap kotak rinduku, ternyata aku benar-benar merindukan kalian, foto-foto milik kita yang usang dimakan zaman, masih tersimpan rapi dalam kotak rinduku, jika nanti kita bertemu aku akan membawanya, untuk mengingatkan kalian tentang pantai rahasia kita. Saat aku menatap kalian berlari di pinggir pantai, aku tersadar, bertemu kalian adalah takdir dan menjadi teman kalian adalah pilihan, dan itu membuatku tau bahwa kau benar-benar berharga.

Mari kita jadwalkan temu untuk melepas rindu yang selalu bertanya tentang kalian dan kenangan bersama kalian, meski kau jauh tapi ketahuilah, kau pernah menjadi bagian dari hidupku, pernah menggoreskan kisah dalam cerita dongengku. Nanti jika aku sudah tua aku ingin cucu-cucuku tahu, bahwa kita punya seribu cerita yang dikemas rapi dalam rindu, agar cerita kita tak menjadi sebuah aksara yang hanya akan tersimpan tak bersisa.

Aku merindukan kalian, mari bertemu agar angin malam percaya bahwa kita benar-benar nyata.