Dia meminta saya pergi, maka saya meninggalkannya. Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena semua berapi dari persoalan yang masih itu-itu saja. Saya tidak menolak bukan karena menyerah dan lelah, tapi karena saya tahu dia memang menginginkannya, dan saya hanya mengaminkan.

Untuk kali ini saya tidak menangis. Rasanya terlalu batu untuk sekali lagi merasa teriris. Kali ini, saya menyadari satu hal. Bilamana cinta, maka cintailah dengan benar. Sekalipun, hal paling benar dari mencintainya kini adalah harus melepaskannya. Kita tidak bisa memaksa terus berjalan di atas aspal jalan yang telah rusak, kecuali mampu memperbaikkinya. Sayangnya, dia memilih untuk tidak meneruskan perjalanan, meskipun saya masih merasa yakin kami bisa memperbaikinya.

Pada akhirnya, semua rajut rencana dipatahkan hanya dengan satu tindakan; perpisahan. Hal yang paling saya benci atas sebuah pertemuan. Lantas, ke mana harus saya bawa mimpi-mimpi kami bersama yang terlalu megah untuk dibumiratakan? Sampai pada detik itu, saya masih mencoba bernapas dengan satu penggal harapan. Berharap dia menghentikan langkah pergi saya. Berharap dia mengatakan, "Mari kita perbaikki lagi semuanya." Tapi sayang, dia sungguh membiarkan saya meninggalkannya. Dan saya hanya mampu berujar dalam hati, "Jika memang ini yang kau pinta, hiduplah dengan bahagia! Tidak ada cinta yang sempurna, sekalipun kelak kau jumpai perempuan lain selain saya. Bukan tentang menemukan hati yang baru, tetapi tentang bagaimana memperjuangkan yang nyaman. Ingat itu, Sayang."

Percayalah, sampai pada saat saya menulis ini, saya masih mencintainya. Entah dia. Sekiranya saya masih mencoba untuk percaya, jikalau cinta, seberapapun menjengkelkan dan buruknya, serta sebetapa besar alang melintangnya, ia akan tetap bertahan. Memilih tinggal… .