Sebelumnya telah kututup rapat-rapat pintu hatiku, kukunci hatiku sedemikian kuatnya hingga tak ada sembarang pria yang dapat memasukinya, apalagi yang sekadar lewat tanpa permisi kemudian pergi lagi tanpa meninggalkan jejak dan hanya menyisakan kenangan.

Luka yang menganga dalam hati ini, menepis semua kepercayaan mengenai cinta.

Aku pernah patah karnanya, aku sering terluka karna setiaku, dan sering kecewa ketika memilih mempertahankannya.

Entah mungkin memang ini takdir-Nya atau bukan, hingga belum diizinkan-Nya bertemu dengan pria baik yang bersanding denganku hingga kelak bisa bersanding di pelaminan dengan pria yang sama. Segala perasaan terluka, hati yang hancur, kecewa menumbuhkan keraguan, ketakutan dan menghambarkan rasa hingga aku nyaris tak mengenali apa itu "cinta".

Aku menutup pintu rapat-rapat, membangun dinding pertahanan sedemikian rupa sehingga tak mudah jatuh hati, menahan diri dari rasa norak yang bernama cinta itu. Entah apa yang harus ku lakukan, entah salah apa aku terhadap cinta, sehingga luka terus menerus menghampiri ketika benar-benar mencinta.

Advertisement

Rasanya setiaku tak cukup tuk membuat mereka bertahan, rasanya keterbukaan serta kejujuran pun tak cukup tuk membangun kepercayaan, rasanya pengorbanan serta segala rasa cinta yang penuh pun tak cukup bagi mereka. Entah siapa yang salah, atau memang diriku yang terlalu buruk sehingga tak pantas mendapat pria baik yang benar-benar mampu menyayangiku dengan baik.

Segalanya tengah ku lewati sehingga terbentuk hati yang sekeras ini.

Logikaku menguat, dan perasaanku melemah, walau terkadang tetap saja rasa cinta melemahkanku.

Dinding pertahananku terhadap cinta telah ku bangun sedemikian rupa hingga pada akhirnya kau lah yang mampu menghancurkannya, dan kemudian aku jatuh cinta (lagi). Segala doa yang sebelumnya tengah ku panjatkan kepada Tuhan mengenai lelahku terhadap cinta, sehingga rasanya tak ingin mengenal apa itu cinta, aku hanya ingin dipertemukan dengan pria yang benar-benar serius menjalin hubungan denganku tanpa berpikiran tuk mengkhianati, menyakiti bahkan meninggalkanku (lagi).

Meski harus ku tempuh perjalanan hidup seorang diri, tanpa ada kekasih yang menemani.

Meski harus berjalan sendiri dalam waktu yang cukup lama, tak apa bagiku hingga sampai aku dipertemukan dengan pria terakhir yang memang ada dalam buku takdir-Nya.

Nyatanya berkali-kali kau katakan perasaan sayang kepadaku, tak mampu meluruhkan kerasnya hatiku, sehingga mungkin kau lelah menanti sampai kapan hatiku bisa luluh terhadap rasamu.

Aku jatuh cinta.

Ya, sampai pada akhirnya dinding pertahanan cintaku hancur olehmu. Harapanku mulai tumbuh kepadamu, kepercayaan mulai timbul sedikit demi sedikit meski masih menyisakan keraguan karna kesalahan pria-pria yang lalu. Semoga setelah kau hancurkan dinding pertahanan ini, meninggalkanku tak akan pernah terlintas dalam hati dan pikiranmu.

Aku mencintaimu. Aku mohon jangan membuatku hancur lagi tuk kesekian kali.