Beribu-ribu mil sudah jauhnya kita melewati jalan panjang tiada ujungnya itu. Kita berjalan bersama bergandengan tangan menyusurinya dengan hati riang gembira. Aku sebut saat bersamamu itu bagaikan surga dalam hidupku. Canda, tawa tangis kita lalui bersama. Kadang saat kau lelah, dengan senang hati aku menggendongmu sampai kau terlelap. Kau tidur dalam gendonganku.

Acap kali kita berhenti di tepi pantai saat senja menjelma. Sembari melepas lelah, kita duduk di bebatuan besar menunggu sunset tiba. Kita senang menikmati senja. Oh, begitu indahnya perjalanan cinta kita.

Janji suci untuk selalu setia dalam suka maupun duka berulang kali kita ikrarkan di hadapan langit senja. Beribu-ribu puisi cinta untukmu ku pahatkan ke hatimu. Kita saling mencintai satu sama lain kala itu tanpa memperdulikan cibiran orang di luar sana.

Seluruh cinta dan harapan kupersembahakan seluruhnya padamu. Bahkan hidupku. Aku pun sempat mengikrarkan pada sang senja untuk mempersembahkan seluruh hatiku padamu. Aku percaya kau adalah wanita terakhir yang diberikan Tuhan dalam mengayuh roda kehidupan di dunia ini.

Tapi kini, keadaannya berbanding terbalik. Berharap kenyataan yang kualami ini sebagai mimpi belaka. Tapi celakanya, ini bukan mimpi. Ini benar-benar pil pahit yang harus kutelan sendiri. Tiada sedikutpun terbayang dalam benakku kau pergi meninggalkanku. Aku tak mengira, hatimu bisa kau bagi dengan yang lain. Kau bergandengan tangan dengan yang lain dan melenggang pergi meninggalkanku.

Sampai sekarang, tiada habis pikir, mengapa kau begitu sadis terhadapku. Kau begiti tega malakukan semua ini padaku. Dimana letak hatimu? Tidak ingatkah janji kita berdua untuk setia sampai mati, yang sering kali kita ikrarkan di bawah langit senja? Tidak cukupkah mantra-mantra cinta yang tiap hari kupahat dalam hatimu?

Kau pergi meninggalkanku seorang diri disini. Kau lepaskan genggaman tanganku begitu saja. Kau biarkan aku berjalan sendiri menyusuri jalan yang telah kita pilih bersama. Kau hempaskan tubuhku ke tanah begitu saja.

Sekarang, kau memilih berjalan bersamanya yang mungkin memiliki segalanya dibandingkan aku. Kau tega mengingkari janji suci kita. Sadarkah bahwa kau telah membohongi langit senja.

Kini, aku tergeletak tak berdaya disini. Seperti mahluk tak berhati aku menjalani hidup aku jalani hari demi hari tanpamu. Senja yang kau tinggalkan kini tak seindah dulu. Aku melangkah meyusuri jalan ini seorang diri. Kau bawa seluruh hatiku beresamamu, tiada tersisa.

Bisakah kau kembalikan hatiku yang ikut terbawa pergi bersamamu?