Hai kenangan..
Kupikir aku sudah begitu jauh berjalan meninggalkanmu hari itu.

Tapi seperti mimpi kemarin malam, semua kenangan tentang kita begitu jelas terekam kembali. Sudah kucoba untuk mengatakan "stop!" namun kenangan itu semakin menggila dan menggerogoti hingga membuatku sesak.
Teringat dimana kamu yang dulu begitu mencintai dan memperjuangkanku, namun aku yang begitu jahat mengabaikan bahkan meninggalkanmu untuk mimpiku.

Aku memang seperti tidak tahu caranya meminta maaf, hingga dengan seenaknya memintamu untuk kembali.

Rasa sesak dan bersalah yang begitu besar memutar otakku untuk mencari tahu keberadaanmu saat ini. Mulai dari semua akun medsosmu kubuka satu persatu hanya untuk memastikan apakah kau baik-baik saja. Hingga akhirnya pencarianku menemukan foto dimana kamu sudah tidak sendiri saat ini.

Kamu tahu? Dalam seketika rasa cemburu itu muncul. Bagaimana tidak? Kamu bersama dia yang pernah dulu kamu ceritakan saat kita terpisah jarak namun selalu kamu anggap hanya teman biasa dan sekarang sudah lain cerita. Aku seperti tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa aku begitu mudah digantikan.
Tapi, aku sadar ini bukanlah salahmu sepenuhnya karena saat itu aku yang memilih untuk pergi walaupun sudah kupastikan akan kembali.

Advertisement

Aku tahu, bahwa angin yang datang tidak akan berhembus dua kali di tempat yang sama. Maksudku, hati yang sudah pergi lalu diminta kembali tidak akan sama indahnya seperti awal ia dibawa.

Kamu masih begitu baik menerima keegoisanku dan mengesampingkan rasa sakitmu hingga kamu mau menerimaku kembali. Kita sempat membuat kesepakatan untuk membangun rasa itu kembali. Seperti bernostalgia dari awal kita dekat, hingga akhirnya mengkat janji dan melaluinya bersama hingga tak terasa sudah menginjak tahun ketiga. Tapi kehadiran dia yang mungkin sudah cukup dalam di hatimu selama aku tidak ada membuatku merasa kamu tidak sepenuhnya kembali. Aku mulai menyadari yang kita jalani hanya semacam keterpaksaan, terutama untukmu.

Jika kedatanganku yang seperti badai tiba-tiba telah membuatmu begitu menderita, maka kuputuskan kembali berjalan mundur dan merelakanmu pergi sebagai caraku untuk membayar kesalahan.
Dan jika ini adalah sebuah hukuman, maka Tuhan memang sudah begitu adil membuatku merasakan yang kamu rasakan saat itu.

Nahkoda selalu tahu arah jalan pulang sekalipun ia berada di lautan lepas. Jika kamu memang takdirku, kuharap kamu akan menemukan bintangmu untuk menuntunmu kembali pulang padaku, hatiku.

Mungkin cukup bagiku saat ini memastikan kamu selalu bahagia dan menemukan jalanmu. Aku disini akan mencoba tetap menunggu dan mendoakan yang terbaik untukmu. Hingga nanti, aku pun siap melanjutkan perjalananku jika saja kamu memang tidak kembali..
Terimakasih, karena sudah pernah begitu hebat mencintai, melindungi dan memperjuangkanku.