Namanya saja cerita cinta, melukai dan terlukai itu adalah hal yang wajar. Tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari dua kata itu. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah terluka karena cinta, jika ada mungkin ia adalah orang yang berperan sebagai penggores luka. Bahkan jika ada alasan lain, mungkin ia belum pernah masuk ke dalam cerita cinta yang sesungguhnya.

Faktor mana lagi yang dapat menggores luka dengan cepat dan sangat dalam, selain pengkhianatan? Aku rasa tidak ada. Lalu bagaimana nasib hati yang telah terluka? Mengapa kata maaf dari si penggores luka tidak pernah cukup mengobati luka yang telah tergores? Mengapa hati yang telah ikhlas dengan semua pengkhianatan juga belum cukup membuat luka ini sembuh?

Dan mengapa maaf yang telah diberikan tidak mampu mengobati perihnya hati yang masih terluka? Mengapa?