Aku sudah mencintaimu sejak saat itu. Bukan kali pertama aku mengenalmu. Bukan pula kali pertama kita bertemu. Aku menjatuhkan hatiku padamu setelah melewati hari-hari yang panjang bersamamu. Awalnya biasa saja, mungkin. Aku mengenalmu sebatas teman. Teman curhat dan saling bertukar pendapat. Lama-lama kita mulai bercerita. Kamu menceritakan duniamu, dunia mengajar yang dulu sempat aku idamkan. Mendengarnya aku percaya kamu seorang guru yang hebat. Mendengar ceritamu setiap waktu tidak pernah membuatku bosan, aku jadi heran. Melewati hari-hari bersamamu tidak membuatku jenuh, hatiku jadi kisruh. Mengetahui sifat dan sikapmu aku suka, suka tanpa kata tapi. Saat tahu kesederhanaanmu aku jadi jatuh, jatuh hati padamu. Melihat kerja kerasmu membuat hatiku semakin jatuh, sejatuh-jatuhnya padamu. ‘Bagaimana ini?’ pikirku waktu itu. ‘Apa aku jatuh cinta padamu?’

“Apa hatimu juga jatuh sepertiku? Jatuh padaku?”

Sikapmu yang selalu baik kuartikan hatimu juga jatuh padaku. Aku harap begitu. Jatuh, sejatuh-jatuhnya seperti hatiku yang jatuh kepadamu. "Kamu spesial untukku, kamu yang memahamiku," katamu waktu itu, semakin menyakinkanku bahwa kamu juga jatuh padaku. Aku harap juga begitu. Jadi rasanya bukan sesuatu yang salah saat aku menempatkanmu di hatiku dengan posisi setelah Tuhan dan kedua orang tuaku. Tapi betulkah hatimu jatuh kepadaku? Apa hanya sebatas pengharapanku saja? Aku belum tau pastinya.

“Aku mulai cemas”

Saat kamu harus pergi mengabdi dan meraih mimpimu, aku mulai cemas. Saat jarak menjadi pemisah kita, aku mulai khawatir. Saat waktu yang harus kita tempuh begitu lama, aku mulai cemas dan khawatir. Aku perempuan yang jatuh cinta pada seseorang yang harus pergi jauh, berjarak dan berwaktu. Aku tidak bisa berbohong dengan berkata, "Aku baik baik saja. Aku tidak khawatir."

Advertisement

Aku hanya perempuan biasa yang bisa cemas dan khawatir. Bagaimana jika kamu akan bosan dengan pembicaraan kita yang tanpa tatap sedetikpun? Bagaimana jika akhirnya kamu lebih memilih kesenangan baru disana? Bagaimana jika kamu melihat yang lainnya disana? Apalagi sampai saat ini aku tidak tau apakah kamu jatuh sejatuh jatuhnya kepadaku atau hanya sekedar jatuh saja, atau mungkin tidak pernah jatuh sama sekali padaku. Aku sadar aku terlalu picik, tapi setidaknya aku tidak munafik.

“Saat ini dengan berat hati ada yang ingin aku katakan,

Jika suatu saat aku terlihat tidak mencintaimu lagi

Jangan kecewa

Sesungguhnya aku masih mencintaimu

Namun..”

Jangan kecewa jika suatu saat aku terlihat tidak mencintai dirimu lagi. Bukan karena aku mencintai orang lain. Bukan karena aku mengurangi rasa cintaku padamu atau bahkan berhenti mencintaimu. Bukan, bukan karena itu semua. Cintaku tidak akan pernah berubah, posisimu tidak akan berubah di hatiku. Hanya waktu yang tega berlalu tanpa menoleh bahkan berbalik. Waktu yang [mungkin] akan mempertemukanmu dengan perempuan yang [mungkin] lebih baik. Perempuan yang [mungkin] bisa membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya padanya. Pastinya perempuan yang mencintaimu melebihi cintaku padamu, yang megagumimu melebihi kagumku padamu, yang mengkhawatirkanmu melebihi khawatirku padamu dan yang usahanya melebihi usahaku padamu. Padahal aku sudah berusaha lebih, lebih disegala hal, yang menurutku sudah melebihi [mungkin] semua usahanya untukmu.

“Hanya satu yang perlu kamu ingat

Aku tidak pernah berhenti mencintaimu”

Jangan bersedih. Aku masih tetap disini dengan cintaku padamu yang masih sama. Dengan posisimu di hatiku yang masih sama.

Jangan marah padaku, aku masih tetap berusaha melebihi [mungkin] dia maupun siapa saja yang sedang mencintaimu. Aku akan tetap berusaha lebih.

Jika suatu saat cintaku terlihat lagi, itu artinya aku bisa melebihi [mungkin] dia atau siapa saja.