Pagi ini jari jemariku berhasil menuliskan kata-kata itu, selang beberapa jam dari aktivitas menulis ini aku terbangun seperti biasa dan menunaikan kewajibanku, kewajiban yang seharusnya sudah mendarah daging tetapi masih suka tergoda dengan rayuan syaitan dan aku hanyalah manusia yang sedang belajar baik yang tak luput dari salah dan khilaf.

Di akhir subuhku hari ini, aku mengingat lagi seseorang yang sudah merubah hari-hariku, merubah kepribadianku, dan menjadi motivator di setiap hariku, orang yang selalu ku minta kepada Allah untuk menjadi pemimpinku, tetapi hari ini aku merasa aneh dan tidak seperti biasanya karena di saat terbesit ingatan tentangmu hatiku berkata mengapa dulu harus aku?

Mengapa dulu harus aku yang mengenalmu?

Mengapa dulu harus aku yang percaya dengan semua omonganmu?

Mengapa dulu harus aku yang kau kenalkan kepada mereka?

Mengapa dulu harus aku yang kau jadikan bahan percobaan agar kau lebih mengenal wanita?

Kamu memang hebat tuan, Kamu pintar, kamu bisa memiliki apapun yang kamu mau, tetapi kamu tidak bisa selamanya benar, sekarang kamu salah, salah dan salah tuan, kamu salah telah memperkenalkan aku dengan kehidupanmu, aku yang terlanjur jatuh cinta dengan semua yang ada pada dirimu, aku yang hanya bisa menggunakan hati dan perasaan tanpa sedikitpun memainkan logika dengan semua kemungkinan yang ada.

Wanita mana yang hatinya tidak terenyuh saat mendengar bahwa akulah wanita yang kau nantikan selama ini, yang setiap hari kau do’akan, akulah satu-satunya wanita spesial yang menghiasi kehidupanmu, akulah wanita yang kau inginkan untuk menjadi pendampingmu dalam menjemput syurga-Nya.

Advertisement

Dari dulu hingga sekarang kata-kata itulah yang selalu terbayang dalam ingatan hingga 2 tahun sudah dari perpisahan itu, perpisahan yang KATANYA karena takut kepada Allah, takut terlalu jauh melangkah, karena garis tangan sudah tergambar dan takut pacaran bertahun-tahun tetapi tiada ujung karena bukan dia yang tertulis di lauh mahfudz.

Ok. Alasan yang bisa diterima, sekarang kita lihat realitanya, Setelah perpisahan itu semua komunikasi terputus, benar-benar terputus, kabarmu pun hanya aku dengar dari keluargamu, dan dari pembaharuan status di blackberry messengermu, aku juga pernah mencoba menghubungimu tetapi apa responmu, tuan ?

Adikmu juga mengatakan jika sedang kumpul keluarga dan bercerita kemudian dibuka pembahasan tentang aku, tuan langsung diam dan pergi berlalu

Keadaan seperti itu tidak sekali atau dua kali tetapi sering, lalu timbul pertanyaan di benakku KENAPA TUAN??? KENAPA??? Sampai tuan tidak mengizinkan telinga tuan untuk mendengar walau hanya namaku saja.

Apa kau lupa dengan kata-katamu dulu? Tetapi ya sudahlah tuan, jika sudah begini siapa yang bisa disalahkan? Aku? Tuan? Atau Allah yang sudah menganugerahkan perasaan ini?

Allah menganugerahkan perasaan cinta tanpa membedakan siapa yang mencintai dan siapa yang dicintai dan jika aku boleh memilih aku lebih memilih untuk tidak mengenalmu, kehidupanmu dan semua yang ada pada dirimu, karena aku hanyalah loyang yang bermimpi untuk dapat setara dengan emas, aku sadari itu.

Di akhir subuh tadi juga kuselipkan sebait do’a

Ya Allah cukup sampai di sini penantian dan keyakinan ini, hilangkanlah pengharapanku kepada orang yang sedikitpun tidak ada tempat di hatinya untukku, sesungguhnya aku percaya dengan semua ketentuanmu ya Allah, seperti janji-Mu wanita yang baik untuk laki2 yang baik, begitu pula sebaliknya dan aku akan menunggu laki-laki itu, baik atau buruknya itulah cerminan dari kepribadianku.