Ada sebuah hadist qudsi yang menarik untuk kami diskusikan hari ini.

"Sesungguhnya Aku sesuai prasangka hambaKu".
Hadist yang seandainya kita mau berpikir tentang maknanya dan mengerti bagaimana memakainya, insya allah akan banyak hal berubah menjadi lebih positif dalam hidup kita.

Allah sesuai prasangka hambaNya.

Contoh, saat kita gak suka dengan pelajaran tertentu atau guru tertentu, biasanya sikap kita juga sangat berbeda bukan? Lebih malas dan tak sesemangat jika belajar materi kesukaan atau belajar dengan guru favorit.

Ternyata ada sebuah penelitian yg bisa menjadi penjelas dari hadist ini. Adalah profesor masaru emoto. Seorang ilmuwan dari jepang yg meneliti tentang air. Sang profesor mengambil sampel air dari danau/sungai paling kotor di negaranya dan diletakkan dalam dua wadah yg berbeda. Wadah pertama ditempeli kata2 positif, misal kalau di bahasa kita, ada kata : semangat, sukses, bisa, luar biasa, hebat, bahagia, senyum, dsb. Sedangkan wadah kedua ditempeli dg kata2 negatif, misal seperti : putus asa, gagal, sulit, menyerah, lesu,sedih, cemberut dsb.

Advertisement

Setelah sekian lama, air dalam 2 wadah ini dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Menjadi menarik karena keduanya menunjukkan hasil yg berbeda. Wadah pertama yg ditempeli kata2 positif ternyata molekul2 airnya berbentuk kristal heksagonal yg indah. Sedang wadah kedua, molekul airnya cenderung keruh dan tak berbentuk. Hasil penelitian ini dituliskan oleh sang profesor di buku yg berjudul the true power of water.

Lalu apa hubungannya dg manusia? Kan penelitian tadi ttg air? Tetap ada hubungannya. Karena 2/3 tubuh manusia adalah air. Karena 60 – 70% kandungan tubuh kita terdiri dari air.

Ada penelitian lain yg pernah saya lihat film dokumenternya. Sepasang gadis kembar diperlakukan berbeda oleh sang peneliti. Di malam hari, gadis pertama diberi bacaan2 yg melo dan cenderung sedih. Sedangkan gadis kedua diminta membaca buku yg membahagiakan. Esok paginya, setelah bangun tidur, gadis pertama diperdengarkan lagu2 yg galau. Sedangkan gadis kedua diperdengarkan musik2 yg bernada smangat dan liriknya positif. Lalu keduanya diberi sejumlah uang dan diminta belanja ke sebuah mall secara terpisah. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Gadis pertama tak semangat berbelanja dan bingung harus membeli apa. Dan ketika sudah menghabiskan uangnya, ia menyesal karena telah membeli barang tsb. Sebaliknya, gadis kedua dengan penuh percaya diri dan bahagia membelanjakan uangnya dan puas dg apa yg telah dibelinya.

Maka benarlah bahwa Allah sesuai prasangka hambaNya. Menjadi hikmah besar untuk kita, jika Allah saja memberi kita kebebasan berprasangka, lalu mengapa kita tidak memilih prasangka yg baik2 saja?

Ini seperti mendesign mindset/paradigma.

Apa sih paradigma itu? Kebanyakan akan bilang paradigma itu sudut pandang atau cara berpikir. Padahal bukan hanya demikian. Paradigma bisa kita pahami dg contoh ilustrasi berikut. Direktur utama sebuah perusahaan sepatu ternama memanggil 2 karyawan terbaiknya. Mereka mendapat penugasan yg sama dr perusahaan. Datang ke sebuah daerah yg sangat terpencil dan melakukan analisa apakah menguntungkan jika perusahaan sepatu tsb membuka pabrik disana. Setelah bbrp lama disana, keduanya kembali menghadap sang direktur untuk menyampaikan analisanya. Orang pertama : pak, disana daerahnya sangat terpencil, masyarakatnya sangat primitif, tidak ada satupun yg memakai alas kaki. membuka pabrik sepatu disana adalah sebuah kekeliruan besar menurut. Saya. Orang kedua : pak, disana daerahnya sangat terpencil, masyarakatnya sangat primitif, tidak ada satupun yg memakai alas kaki. membuka pabrik disana menurut saya sangat menguntungkan. Kenapa? Jika kita bs mengedukasi warganya kenapa penting beralaskaki dan kita jd trendsetter, maka pasti perusahaan kita untung besar krn pangsa pasar kita disana sangat luas. Dari 2 org ini, mana kira2 yg akan dinaekkan pangkatnya jika ada promosi? Pasti org kedua. Inilah paradigma. Sudut pandang atau cara berpikir yg tdk hanya menentukan SIKAP tapi juga menentukan HASIL.

Nah terlihat bukan bagaimana luar biasanya kekuatan prasangka ?

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa selalu berprasangka positif? Jika dihubungkan dg 2 penelitian tadi, maka kita akan menjadi pribadi yg positif manakala kita ada dalam kondisi yg positif. Pilih kata2 yg positif, pilih bacaan2 yg positif dan inspiratif, pilih lagu2 yg positif, juga tentu saja pilih lingkungan yang positif. Jadi kalau masih ada buku/novel yg malah bikin kita tak bersemangat atau sedih, segera jauhkan. Kalau seandainya masih ada lagu2 galau di playlist kita, segera hapus. Kalau masih sering menggunakan kata2 negatif, belajarlah merubahnya.
Teori yang saya dapat ketika ikut training neuroparenting (pengasuhan berbasis otak), setidaknya berlatihlah selama 3 bulan, maka bagian otak yg bernama ganglia basalis akan bekerja dan sikap ini menjadi habbit baru kita.

Siap berlatih berpikir dan berprasangka positif?
Coba dan rasakan bedanya!