Suatu hari nanti, jika kamu menemukan halaman ini. Percayalah, sungguh semua yang aku tuliskan berporos pada sosokmu. Pada hari itu, ada dua kemungkinan; aku telah jauh meninggalkanmu atau aku masih bernanah dan berusaha menyembuhkan luka darimu.

Segala yang aku tulis adalah apa-apa yang tak sanggup ku akui didepanmu. Karena, melihat matamu aku bisu. Dipelukanmu, bara ku membeku. Sejujurnya aku malu, mengakui rasa yang mungkin terlalu. Sosokmu bukan pencinta puisi yang aku tahu, tak mengenal siapa Sapardi bahkan tak bisa membedakan mana sajak dan kumpulan kata-kata sufi.

Aku selalu mencoba mengingat keburukanmu, agar bisa membencimu. Aku selalu membuka ulang percakapn kita dulu, kata perpisahan yang masih aku simpan dimemoriku agar aku sadar kamu bukan lagi siapaku. Aku memiliki fotomu dengan perempuan lain yang sekarang kamu anggap rumahmu, agar aku tak melulu merasa berarti dihidupmu. Tapi itu sia-sia, seolah candu dan rindu lebih besar dari kebencian itu. Aku kalah diperang melawan ego ku sendiri.

Mengertilah kamu, poros segala rasaku.

Jika kamu menemukan halaman ini, tugasmu selanjutnya adalah menemukanku yang telah lama hilang dari semestamu.