"Jadi, kalian punya hubungan dekat?", tanyanya lewat sms lima tahun yang lalu.

Sejak saat itu kau berubah, persoalannya sepele hanya sebuah akun media sosial ada foto aku bersama teman-teman termasuk dia yang kau sebut (pria). Hanya karena status pribadinya di facebook yang menulis dengan terang namaku sebagai sebuah pernyataan suka dan perasaan. Akupun tak tahu bahwa dia (pria) menyukaiku dengan segala rasa yang selama ini hanya aku anggap sebagai teman.

Sejak itu pula hubungan pena kita yang hanya melalui pesan dan telpon berakhir menjauh tanpa kabar. Sementara aku disini menunggu, aku ingat semua nasehat bijakmu. Meski kau masih muda saat itu, pemikiranmu sungguh dewasa dan luar biasa, segala topik kau ketahui termasuk soal sejarah negara, pemimpin bangsa, pemerintah, soal agama (sholat, puasa, fiqih, dan lainnya), tentang mata pelajaran khususnya ipa dan matematika, sampai soal hidup. Seakan kau lebih dulu memahami hidup dunia.

Waktu sudah berlalu, akupun hijrah melanjutkan studi ke Jakarta. Kau, aku tak tahu kabarmu. Hubungan kita mungkin rumit, bukan mungkin tapi memang rumit. Aku masih menunggu, aku menjaga hatiku. Jika masalah hati, entah darimana asalnya, meski aku bersenang dengan sahabat dan teman tetap saja ada hal yang tak bisa dilupa dari dirimu. Kau mau tahu apa itu? Ibu. Rumitkan? Kenapa bisa ke Ibu. Ibuku menyukaimu padahal ketemu kamu saja tak pernah apalagi melihat fotomu, sama halnya denganku.

"Bagaimana kabarnya, kak?", tanya ibu padaku saat beliau sedang dirawat di rumah sakit. Sejak saat itu hatiku terketuk bahwa kita harus bertemu. Pasti akan bertemu kembali entah sebagai sahabat yang dulu atau sebagai musuh. Aku yakin, kita pasti bertemu suatu hari atas izin Yang Maha Kuasa.

Advertisement

Liburanku tahun ini, aku dan nenek akan ke Jawa untuk berkunjung ke tempat saudara kandung nenek (termasuk juga saudaraku) yang sudah lama sekali tak bertemu. Saat itu nenek tiba-tiba saja menghubungi dia, nenek masih menyimpan nomornya. Dia memang tinggal di Jawa. Dulu jarak kita Sumatera-Jawa, sahabat pena yang hanya berkomunikasi lewat pesan dan telpon. Kita bertemu dari sebuah majalah yang menyajikan nomor Hp sahabat Indonesia.

Aku sama sekali tak tahu rencana nenek. Mungkin ini digerakkan oleh Allah juga. Kita bertemu untuk pertama kalinya setelah lima tahun lamanya. Apakah kita bisa bersahabat seperti dulu? ucapku dalam hati. Sorot matamu tajam kala itu, kau seolah mencurahkan kebencianmu padaku. Aku yang tak paham bahwa dahulu ternyata kau menganggapku lebih dari sahabat padahal kita tak pernah saling tatap. Kau, tak ku sangka kau tinggi besar. Kita tidak banyak bicara, bahkan kita berdua juga berkeringat dingin (terus mengambil tisu).

"Jadi, kesibukanmu apa sekarang, Mas?", aku memberanikan diri bertanya. "Merawat orang sakit di Papua". Aku sempat mikir kenapa jauh sekali merawat orang sakit disana, apakah dia berprofesi sebagai dokter. "Bisa kita foto bersama sebagai kenang-kenangan?", pintaku liar kemudian memanggil nenek dan saudara lainnya untuk berfoto bersama. "Ada saatnya nanti kita foto bersama, bukan saat ini", ucapmu tenang dan menolak difoto. "Kenapa, ini pertama kali kita bertemu, kapan lagi?", rengekku seperti anak kecil yang tak tahu malu. "Nanti kita akan foto bersama suatu hati, bukan saat ini, pahamkan?", ucapannya mengandung banyak arti. Apa maksudnya ini?

Setelah pertemuan itu, komunikasi kita mulai lancar. Setelah tiga bulan sejak pertemuan itu, kau melamarku. Tiga bulan setelahnya kita akan menghadapi tanggungjawab yang besar. Kita akan bertemu dalam pernikahan. Ya sebentar lagi. Aku bahkan tak mempercayainya. Mungkin lima tahun tanpa kabar adalah waktu intropeksi kita berdua, saling memantaskan diri. Tak disangkan pertemuan kita yang sebatas lewat alat komunikasi akan berakhir di pelaminan. Sekarang aku percaya bahwa jodoh bisa datang kapan dan dimana saja tanpa kita sadari.

Aku sangat yakin jika ibu sudah merasa cocok dan senang semuanyapun akan berjalan tentram. Itu kenanganku bersamamu lima tahun yang lalu. Siapa sangka sahabat pena yang bertemu lewat secarik kertas adalah jodoh yang tertunda.