Buih-buih cinta sisa semalam masih terasa melekat.
Memenuhi relung – relung yang sebenarnya tak mau diisi lagi, hati.
Begitu sakitnya luka tertoreh pada kedalaman, hingga akhirnya ku putuskan untuk menutup rapat – rapat.
Tak ada celah untuknya masuk kembali.
Meski tak ku pungkiri bahwa ada ruang kecil yang masih menginginkanmu di sisi.
Otak ku menolak keras, justru hati yang kadang meronta ingin kembali.
Ini perdebatan panjang dan kolot.
Bukan politik yang bisa disuap uang kemudian selesai.
Tak ada hakim terbaik untuk perdebatan otak dan hati kali ini.
Yang ada hanya benturan – benturan logika.
Kuredam keduanya, supaya netral.
Biar tak ada lagi kubu positif dan kubu negatif.
Kututup pintu dan jendela hati sampai tak ada celah untuk bayangmu masuk.
Dengan begini rupanya roda hidupku menjadi lebh baik.
Kubayar lunas air mata kemarin dengan tawa ceria hari ini.
Apa lagi yang harus ku tangisi sedangkan dunia menawarkan senyuman ?
Satu persatu rumah hati mulai ku bangun lagi.
Dengan segudang energi positif yang kuambil dari mana saja ku bisa.
Rupanya kamu masuk didalamnya, cinta.
Kamu menjelma menjadi sel – sel muda regenerasi dalam tubuhku.
Seperti narkoba saja, hadirmu seolah candu.
Perlahan ku buka lagi pintu dan jendela yang kututup tempo hari.
Hari ini kita bersanding di depan penghulu.
Meyakinkan ku bahwa kamu lah jodohku.
Jodoh yang tak bisa ku tebak dari mana datang nya.
Karena Ia datang untuk mengetuk kembali pintu – pintu hati yang terlanjur ku tutup.
Yang bukan hanya sekedar omong kosong.
Tetapi membuktikan bahwa hidup berdua denganmu akan membawa kebaikan.
Menyempurnakan separuh agama dan meleburkan dosa.

Begitulah jodoh, datang tanpa permisi bahkan kadang logika tak bisa mencerna kehadirannya. Disitulah kita lupa bahwa Tuhan selalu punya cara membuat tangis dan bahagia hambanya.