Pernah kuberpikir jika jomblo bahagia hanyalah mitos belaka. Selayaknya Unicorn ataupun Minotaur yang disebut-sebut ada, tetapi tanpa bukti yang nyata. Terlebih jika jomblowan atau jomblowatinya adalah bani remaja. Bagaimana bisa? Mereka yang tengah mengalami masa-masa ketertarikan dengan lawan jenisnya, memilih menikmati hari-harinya dengan sendiri. Bukankah pacaran juga merupakan langkah awal mengenal lawan jenisnya agar lebih intens lagi? Tentu guna bekal di masa pernikahan kelak. Kecuali bagi bani jomblo yang berkembang biaknya dengan cara membelah diri atau cangkok, pasti tak membutuhkan orang lain. *eh.

Masa remaja yang kualami sedikit berbeda dari remaja kebanyakan. Di saat teman-teman SMA-ku begitu heboh mengenalkan pasangannya yang cantiknya badai tsunami itu, aku justru hanya bisa diam termangu sambil ngemut gagang sapu. Bagaimana bisa teman-temanku sekejam itu? Menceritakan kebahagiaan masa pacaran mereka di depan seorang fakir cinta sepertiku.

“Lina itu, Guys. Uiwiigh, cuantik banget! Gak perlu maju-mundur, maju-mundur, dia udah cantik dari sononya. Dan kalian tahu, malam minggu kemarin kami ke Bukit Bintang untuk mengabadikan kedekatan kami. Kebayang, kan, gimana romantisnya kami?!” ucap Rahman—teman dekatku—dengan begitu terperinci layaknya laporan akuntansi.

Saat itu, sejujurnya aku merasa sangat iri. Apakah aku juga kudu cari pacar seperti mereka? Aku gak pengen cuma saingan ngerjain tugas MTK di kelas aja. Aku juga pengen saingan di bidang lain, di bidang yang lebih menantang. Yah, saingan cari pacar paling cakep buat dipamerin ke temen-temen gitu, misalnya.

Sejak itu, aku bertekad buat cari pacar. Kutatap lamat-lamat wajah unyuku di dalam cermin. Ah, ternyata aku masih kecil, takut… takut…. *Anggun C. Casmi covering.

Advertisement

Kurasa sudah saatnya, aku membatin penuh percaya diri.

Kutatap lamat-lamat sosok Mini—nama panjangnya Tumini—yang tersenyum manis di dalam sebuah foto yang sudah kusimpan sejak lama. Foto itu kudapat dari ponsel temanku. Kala itu, aku belum berani berbincang lama-lama dengan Mini, kecuali saat mengajarkannya pelajaran Matematika. Selebihnya, aku begitu kikuk saat berada di sampingnya.

Mini hanya akan datang padaku jika ada PR saja. Selebihnya, dia akan berlalu sembari meninggalkan senyuman yang menghunjam benakku. Senyuman dari bibir tipisnya yang gak mbeleber ke mana-mana; senyuman yang gak ada sisa cabe di giginya, dan senyuman yang selalu membuatku semangat mengerjakan seabrek soal matematika saat di sampingnya.

Meski dia hanya akan datang jika mengalami kesulitan mengerjakan tugas, tapi batinku tak pernah merasa keberatan. Meski siklus yang terjadi di antara kami hanya berkutat seperti itu, tapi bunga-bunga di hatiku tak kunjung layu. Dialah yang menanam benih-benih cinta di mercu kalbuku, dia pula yang kuharapkan akan menuainya kelak.

Sampai pada kelas dua SMA, kami terpisah karena beda jurusan. Dia lebih menyukai ilmu Sosial, sedangkan aku “dipaksa” menyukai ilmu Sains. Sejak itu, komunikasi kami tak se-intens dulu. Hanya sepatah kata, “Hallo,” yang keluar dari mulut manisnya saat bertemu denganku. Lantas, akan kujawab, “Hai,” dengan kegugupan yang menusuk sampai ke ujung hati.

Kuingat kata pepatah Jawa yang filosofinya tjakep badai itu, Gusti Allah mboten sare. Ya, benar. Hanya Tuhan yang Mahamengetahui segala urusan hamba-Nya, sekalipun urusan itu terselip di sudut hati. Oleh karena itu, di saat aku belum bisa mengatakan betapa besarnya rasa cintaku padanya, aku tetap bisa menyampaikannya dalam lantunan doa. Meskipun aku bukan ahli doa yang di setiap munajatku terkabul, namun aku yakin, akan ada kesuksesan atas doa yang tulus.

Singkat cerita, aku pun memiliki keberanian untuk mengajaknya jalan—entah dari mana keberanian itu muncul. Tapi, kata Tante Mariah Carey, “That a hero lies in you.” Kurasa juga begitu. Memang, aku tak menyiapkan apa pun saat itu, kecuali satu hal: mental baja bila saja dia menolakku.

Sepagi itu, saat suasana sekolah masih lengang. Tiba-tiba perutku bermasalah. Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju toilet yang berjarak enam kelas dari kelasku. Tiba-tiba, sosok Mini tengah berdiri di depan cermin toilet sembari merapikan jilbabnya. Tampak mulutnya juga masih sibuk menjawab pertanyaan dari temannya yang berada di dalam toilet.

Hagh, perempuan! Rasanya toilet adalah ruang serba guna bagi mereka. Mulai dari tempat buang air, tempat benerin make-up, sampai tempat curhat, aku membatin heran.

Sembari mematut dirinya di depan cermin kecil, Mini menyapaku dengan suara merdunya, “Hallo.”

Aku tersenyum mendengar suara lembutnya. Bahkan sepagi ini, aku sudah mendapat sarapan termanis sepanjang hidupku.

“Hai,” jawabku sembari menahan “mentega” yang tengah bergemuruh di perutku.

Tiba-tiba wajah Mini mendekati wajahku. Kini, hanya berjarak beberapa senti antara wajahku dan wajahnya. “Apa jilbabku sudah rapi?” tanya Mini sembari menaikkan kedua alisnya.

Aku kaku tak hanya pada bagian muka, tapi pada bagian yang lain. *eh. Lantas, mulutku menyeringai menjawab pertanyaannya, “Ehm…, u-d-a-h. Udah kok!” jawabku patah-patah.

Mini hanya tersenyum seadanya atas jawabanku.

Dalam kesempatan langka ini, kukumpulkan segala tenagaku untuk dua hal: memberanikan diri mengajaknya jalan, dan menahan “mentega” yang sudah tak sabar ingin keluar. “Mini, sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan hal ini. Tapi…, aku gak berani ngomongin ini sama kamu.” Kutundukkan wajahku di depan rival bicaraku. “Kalau kamu gak keberatan…, ehm…, nanti malam aku mau ngajak kamu jalan, gimana?” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku, kendati dengan tersendat-sendat.

Mini tampak memikirkan sesuatu. Masih diam dalam wajah datarnya yang tetap terlihat cantik.

Aku menggigit bibir bawah dengan gigi kelinciku, sembari menunggu jawaban yang entah kapan akan keluar dari mulut Mini. Dengan senyum datar, aku masih menahan perutku supaya tidak mengeluarkannya di dalam celana.

“Gimana?” tanyaku mendesak. Bukan karena tak sabar akan jawabannya, tapi lebih karena perutku yang sudah menahan terlalu lama.

Akhirnya, Mini mangangguk sembari memberikanku senyum termanisnya. Oh, rasanya begitu lega. Aku bergegas menuju toilet untuk bersemayam karena panggilan alam.

_______

Aku tak begitu paham dengan garis pemisah antara hubungan pacaran dan hubungan yang hanya sekadar berteman. Karena garis itu hanya bersifat imajiner, kabur dan buram. Bukankah replika pacaran sudah menjamur di mana-mana, mulai dari teman tapi mesra, hubungan tanpa status, sampai kakak-adekan. Lantas, apa yang menjadi pembeda antara yang pacaran dan yang jomblo? Yah, saya rasa penilaian tersebut lebih bijak jika diserahkan kepada masing-masing pihak yang bersangkutan saja.

Selepas tragedi yang memacu adrenalinku ketika di toilet itu, aku merasa lebih “bebas” berbicara dengan Mini. Rasa canggung dan gugup itu perlahan sirna entah ke mana. Bahkan, aku bisa memilih tempat yang lebih romantis untuk mengungkapkan rasa cintaku, bukan di toilet sekolah seperti saat kemarin. Dan, kami menjadi lebih intens bertemu di luar jam sekolah, mulai dari: makan malam bareng, menikmati weekend bareng, belajar bareng, ke kantin bareng, ngupil bareng, keluar bareng dan hampir semua kegiatan kami lakukan bareng-bareng. *kecuali kegiatan mandi, ya, Guys. :v

Tapi, tanpa kusadari, aku telah terhegemoni oleh Mini. Ada penjajahan secara halus yang menyekapku atas nama pacaran. Aku menjadi tukang ojeknya yang setia setiap saat mengantarkannya ke mana saja; aku menjadi mesin produksi semua PR-nya; aku menjadi ATM berjalan—meski tidak secara terang-terangan; aku menjadi sumber pelampiasan atas kekesalannya dan sikap posesifnya; aku menjadi objek paling salah saat kami bertengkar; aku menjadi tercekik karena setiap saat mendengar omelannya, jika aku membela diri akan ada perang dunia ketiga, dan pasti aku yang akan gugur dalam medan pertempuran dahsyat itu, dan ujung-ujungnya aku hampir gila karena semua ini.

Rasanya jauh panggang dari api. Segala yang dulu kukira indah, justru begitu menakutkan saat ini. Benar saja Firman Tuhan yang mengatakan, “Bisa jadi kau menganggap baik, padahal itu buruk bagimu. Dan, bisa jadi kau menganggap buruk, padahal itu baik bagimu.”

Aku belum punya penghasilan apa pun, namun telah banyak menghabiskan uang orangtuaku atas nama pacaran. Coba aja semua pengeluaran saat pacaran dikumpulkan, mungkin udah bisa nganterin Mamaku ke Bali dengan mengendarai becaknya Mang Nanang. Aku benar-benar telah berlaku tak adil dengan orangtuaku. Aku yang semestinya mengantarkan Mamaku ke pasar, justru setia mengantarkan pacar setiap saat; aku yang semestinya menemani Bapak ngobrol sembari membuatkannya kopi, justru menghabiskan waktuku untuk membuatkan semua tugas pacar; aku yang seharusnya ikut nongkrong bersama teman-temanku, justru fakir waktu untuk mereka; aku yang semestinya ikut meringankan beban orangtuaku dengan membuat lelucon di ruang keluarga, atau hanya sekadar menghidupkan lagu dangdut kesukaan mereka, justru menghabiskan hampir seluruh waktuku bersama pacar. Aku tak pernah ada untuk orang-orang yang semestinya kuprioritaskan. Semua waktuku habis atas nama membahagiakan pacar.

Namun, semua yang telah terjadi, biarlah terjadi. Karena pengalaman di masa lalu tak patut disesali, tetapi patut dipelajari. Satu hal yang kupahami dari pengalamanku kemarin: sumber kebahagiaan bukan dari pacar, tapi dari dalam diriku sendiri. Biar kucoba menemukan kebahagiaan itu di dalam diriku, di dalam kejombloanku. Dan, kini aku mengerti, jomblo bahagia bukanlah mitos belaka. Semua itu benar adanya. I feel free, deh pokoknya. *guling-guling di atas putri malu.

Aku jadi teringat akan pepatah lama yang dengan keras berkoar, “Masa pacaran tidaklah seindah yang dibayangkan para jomblowan.” Dan, aku tengah merasakannya sekarang. Yah, statusku memang jomblo, tapi bukan lantas aku sendirian. Karena, masih ada keluarga, teman-teman dan sahabatku di sini. Jika saja dulu aku merasa cukup dengan kehadiran mereka, tentu aku tidak akan berpikir jika pacar adalah segalanya. Aku terlalu fokus dengan keinginanku, sampai aku lupa dengan kebutuhanku.

Biarlah, untuk saat-saat ini ‘kan kuhabiskan masa remajaku bersama keluargaku, teman-temanku dan sahabat-sahabatku. Soal pacaran? Ah, bulshit. Belum saatnya untuk saat ini. Bukankah kelak kita lebih bangga saat mengatakan, “Dia istriku!”, daripada mengatakan,“Dia pacarku!”, right?! [ ]

Yogyakarta, 14 Mei 2015