Happy Birthday to me. Happy Birthday to me. Happy birthday. Happy Birthday. Happy Birthday to me. Lilin berangka dua dan nol menyala. Lilin pertama setelah peristiwa 5 tahun yang lalu. Rembulan diluar jendela masih turut berbahagia, bersinar dengan terang. Ah! Ini kan masanya bulan penuh.

Aku duduk di depan meja bundar. Beserta lilin yang kunyalakan sendiri. Tidak ada suara selain cicak yang sibuk berdendang. Tidak ada lagi bolu coklat bertabur keju buatan ibu. Juga tanpa mendapat boneka ke duapuluh dari ayah. Yah, sebenarnya sudah berhenti dihitungan ke tiga belas. Dua tahun sebelum peristiwa itu terjadi ayah sudah mulai tak memberikannya padaku.

Jarum jam telah membentuk sudut lancip. Angka delapan yang ditunjuk jarum pendek dan jarum panjang pada angka sepuluh. Aku masih duduk di depan meja bundar. Kado ulang tahun dari ayah untuk ibu. Ketika itu ibu dan ayah masih sama sama saling mencintai. Kami masih sama-sama berpelukan. Ayah juga masih tersenyum penuh cinta pada kami.
Aku ingat benar.ketika aku dan ayah bekerja sama untuk membuat ibu panik seharian.

Hari itu ibu ulang tahun. Kebetulan tanggal 25 mei waktu itu jatuhnya di hari minggu. Biasanya kami selalu berkumpul di taman belakang rumah untuk menyeduh kopi setelah lari pagi keliling kompleks. Tapi hari itu aku dan ayah pergi dengan buru-buru tanpa menunggu ibu menyelesaikan sarapan. Tuhan juga ikut membantu kami. Dia turunkan hujan dari subuh. Hingga pagi hujan masih turun dengan gerimis.

Ibu terlihat bingung. Aku yakin saat itu ibu pasti tengah sedih. Berpikir kalau kami tak mengingat hari itu dirinya sedang berulang tahun. Aku dan ayah pergi dengan mobil yang sama. Ibu tak curiga sedikitpun. Untung saja aku dan ayah aktor yang baik. Hingga tawa kami bisa ditahan meski perut sudah tak kuasa menanggungnya.

Advertisement

Tawa pecah di dalam mobil. Ah! Hari itu aku sangat bahagia punya ayah. Laki-laki terbaik yang pernah kukenal sekaligus kumiliki tanpa pajak sepeserpun. Ketika itu kupikir ibu perempuan yang beruntung, dicintai laki-laki setampan ayah. Berkulit sao matang. Tinggi setara modelling. Badan setangguh angkatan. Ditambah lagi selera humornya yang dua jempol. Bikin ngakak guling-guling kalau ayah sudah mulai membual.

Aku dan ayahpun lansung melanjutkan rencana yang telah kami sepakati tadi malam tanpa sepengetahuan ibu. Untung saja malam tadi ibu tidur lebih cepat. Ibu kelelahan seharian mengurus persidangan kliennya. “Ibu, tidak ikut nonton bareng ia. Ibu capek banget” kata ibu sebelum meninggalkan aku dan ayah di depan televisi.

Sesuai rencana. Kami lansung menuju toko kue langganan aku dan ayah. Kami berdua sama-sama tidak pandai membuat kue. Kalau ibu, dia akan selalu sibuk membuat kue untuk aku dan ayah di hari ulang tahun kami. Seperti biasa, kami memesan kue bolu pisang dilapis coklat kesukaan ibu. Middle size cukup untuk kami bertiga.

Berikutnya kami lansung menuju ke mall. Tak jauh dari toko kue nanang. Waktunya membelikan kado buat ibu. Kami menuju lantai dua. Nah, saat disini kami mulai kebingungan memilih hadiah untuk ibu. Usianya sudah kepala empat. Tas sudah tak lagi muat di dalam lemarinya. Baju apa lagi. Sepatu ibu juga masih bagus-bagus. Aku dan ayah sudah memutari lantai dua mall ini hingga dua kali. Dimana yang ketemu hanya tiga hal tadi. Baju, sepatu dan tas.
Putaran ketiga kami buntu. aku dan ayah sama-sama mengankat bahu. Kami berhenti tepat di depan toko es cream. Toko es cream favoriteku. Sebelum kodeku meluncur ayah sudah paham maksudku. Kami masuk ke dalam villa es. Untuk berpikir otak harus dingin. Ceritanya sekarang otak kami tengah panas. So, perlu didinginkan terlebih dulu biar bisa kembali berpikir dengan lebih dingin.
“Mas, vanilla oreonya satu. Cokelat berry satu mas” orderku sama simas. Lima menit menunggu, pesan diterima. Sendok pertama. Wuah. Rasanya beku dikepala lansung mencair. Es creamnya di dalam kotak berbentuk bulan penuh. Kira-kira kalau ditimbang paling berat totalnya setengah ons.
Vanilla. Aku suka vanilla sama dengan ibu. Kata ibu vanilla itu rasa yang lembut. Cocok buat ibu. Kami kalau sudah kesini bertiga pasti berdebat. Dan mau tak mau ayah ujung-ujungnya mengalah saja. Ibu memang selalu bisa mempertahan pendapatnya. Kalau tidak begitu mana mungkin dia bisa jadi sehebat sekarang.

Aku salut pada ibu. Maunya bisa seperti ibu. Tegas. Bijaksana. Tapi tetap menjadi lemah lembut saat berada diposisi seorang istri. Dari cerita ibu tentang keluarganya. Ibu tidak manja. Dia anak yang mandiri. Tak pernah meminta lebih pada kedua orang tuanya. Meski ibu sedikit keras kepala. Bagi ibu hal yang benar harus dipertahankan. Bakat seorang pengacara itu sepertinya sudah ada di dalam darah ibu sejak jantungnya berdetak.

Seperti keyakinan ibu saat itu. Kebenaran untuk memilih mencintai dan dicintai oleh ayah. Ayah dan ibu tidak satu golongan. Mereka bertemu saat ibu menemui kliennya seorang dosen di sebuah kampus ternama. Mereka bertemu tanpa sengaja. Saat itu tengah menanyakan ruangan kliennya. Kebetulan diruangan dosen itu yang tengah santai hanya ayah. Disitulah kisah cinta mereka bermula.

Tak cukup setengah jam. Es cream tadi sudah habis melenyapkan panas kepala kataku. Aku dan ayah melanjutkan pencarian. Kami naik ke lantai tiga. Langkah kaki meminta untuk menujunya. Tuhan memang baik sekali. Selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Lantai tiga dipenuhi dengan perabotan rumah.

Aku dan ayah memutarinya. Lihat dan lihat. Pandangan kami tertuju pada benda yang sama. Meja bundar dari kayu. Di atasnya dihias dengan corak bunga berwarna putih. Entah ini kebetulan atau keberuntungan yang jelas kami sangat berterima kasih pada tuhan. Ibu suka sekali dengan melati. Tak pikir panjang lagi. Kami langsung membungkusnya untuk ibu.

Saat itu tahun 2007. Tahun terakhir aku merasa bangga memiliki ayah. Tahun terakhir ibu tersenyum penuh bahagia. Tahun terakhir juga aku mendapat boneka dari ayah. Setelah itu ibu menjadi mendiam. Ayah jarang pulang. Mereka tak saling mencintai seperti yang kulihat. Hari-hari selanjutnya selalu ada pertengkaran. Itu karena orang ketiga yang merusak cinta ayah pada ibu.

Sampai pertengkaran itu membuat sejarah tak terlupakan dalam hidupku. Membuat aku kehilangan dua orang sekaligus. Entah siapa yang salah. Mungkin ini takdir tuhan. Dihari ulang tahunku setelah tahun terakhir yang membahagiankan. Aku bertemu kehilangan itu. Kado terberat yang kuterima. Dari ayah. Ibu. Dan dari tuhan.

Setelah itu tahun-tahun berikutnya aku seorang diri. Berada di dalam kamar yang terasa sangat asing untukku. Tampa bisa duduk di depan meja bundar penuh bahagia. Setiap pagi tidak lagi ada sarapan ibu yang kulahap. Hanya sarapan buatan perawat yang menjagaku. Lima tahun berlalu. dan sekarang aku dinyatakan telah sembuh.

Inilah malam pertama aku duduk lagi di depan meja bundar penuh bahagia. Malam mengenang hari-hari bahagia. Tanpa ayah. Tanpa ibu. Yang ada hanya tuhan. “Selamat ulang tahun Clara. Hidup harus dimulai kembali” bisik Tuhan padaku.