Ramadhanku yang paling berkesan terjadi pada tahun 2013 yang lalu. Hanya seminggu menjelang Lebaran, tiba-tiba aku terserang diare berat. Karena diare tidak kunjung henti hingga sepuluh kali dalam waktu setengah hari, aku diharuskan untuk dirawat inap di rumah sakit. Ternyata, aku terkena penyakit disentri! Diduga penyebabnya adalah sate yang kubeli untuk berbuka puasa di dekat kost.

Aku dirawat selama lima hari di rumah sakit, dengan infus di lengan dan tubuh yang lemah sekali. Padahal, waktu itu ibuku sedang sakit berat. Ibu menderita stroke kedua. Dengan kursi rodanya, tahu-tahu ibu menjengukku pada suatu siang, dengan leleran air mata di pipinya. Aku berkata kepada ibu untuk tidak perlu kuatir. Bahkan ibu sampai memperhatikan apa yang kumakan, sedangkan ibu sendiri makannya harus melalui selang sonde.

Sehari sebelum aku dinyatakan boleh pulang oleh dokter, tiba-tiba aku ditelepon oleh sebuah perusahaan pengharum pakaian yang cukup dikenal masyarakat. Aku diberitahukan bahwa aku memenangkan doorprize berhadiah mesin cuci. Aku pikir paling ini usaha penipuan, terlebih lagi aku merasa tidak pernah ikutan lomba itu. Aku memang pernah mendaftar program promo keliling yang diselenggarakan produknya, namun aku tidak sempat menghadirinya. Tapi orang yang menelponku di seberang bersungguh-sungguh. Ia menanyakan alamat pengiriman, menyebutkan hari dan tanggal mesin cuci akan dikirim, tanpa meminta bayaran atau imbalan apa pun. Aku masih antara percaya dan tidak percaya.

Hingga keesokan harinya ketika aku pulang dari rumah sakit, mesin cuci dan produk pengharum pakaian sudah terpampang di rumah. Lengkap beserta surat yang dibingkai indah menyatakan selamat atas kemenanganku. Aku merasa ini hadiah lebaran terbaik yang dapat kuberikan untuk kedua orangtuaku, terutama ibuku. Aku ingin membuat ibu senang dan bahagia di sela-sela perjuangannya melawan penyakitnya. Karena dua hari setelah Lebaran, ibu berpulang ke haribaan Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang menduganya, karena ibu tidak memberi sinyal atau tanda-tanda apa pun.

Kini, kenangan yang tersisa adalah mesin cuci itu. Mesin cuci yang syukurnya masih dapat berfungsi dengan baik, meskipun aku sudah jarang pulang ke rumah. Aku juga semakin berhati-hati dengan makanan yang kupilih, terutama selama bulan puasa ini, agar tidak terserang penyakit disentri dan penyakit perut lainnya.