Sebuah novel dari penulis kenamaan Indonesia, berjudul Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin. Berkisah tentang seorang anak bernama Tania, yang mencintai orang yang lebih pantas menjadi kakaknya, bernama Danar. Seorang malaikat penolong bagi Tania dan keluarganya. Seharusnya Tania tidak memiliki perasaan itu, dia masih berkepang dua saat itu, sedangkan Danar sendiri sudah dewasa. Tapi perasaan adalah perasaan, seringkali dia tidak memandang apapun untuk tumbuh, berkembang, lalu mekar.

Kepada seseorang yang sepatutnya hanya sebatas ‘kakak’, maafkan untuk perasaan yang tidak seharusnya ada.

Aku mengenalmu dari seorang teman. Sejak pertemuan pertama itu, aku bahkan belum dapat mengingat wajahmu dengan baik, karena aku memang bukan pengingat yang baik. Aku bahkan menganggap hal itu angin lalu. Hanya sebuah basa-basi mungkin, yang kemudian menjadi basi dan aku lupakan.

Kau memang orang baik. Mereka berkata kau orang yang manis. Aku juga tidak mengerti bahwa ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik dirimu. Senyum selalu merekah di wajahmu, terlebih terhadap orang yang kau kenal. Entah bagaimana kau bisa begitu ramah terhadap semua orang. Entah bagaimana kau bisa membuat setiap yang mengenalmu menjadi nyaman.

Kau meminta aku bercerita, dan anehnya aku percaya saja kepadamu untuk berbagi banyak hal kepadamu padahal aku belum lama mengenalmu. Kau memang pendengar yang sangat baik, juga pemberi saran yang baik. Aku juga tidak mengerti bagaimana kau mampu mengingat hal-hal yang pernah aku bicarakan, dan kembali membicarakannya di waktu yang tepat. Mungkin itu yang membuat diam-diam hatiku merasa ‘nyaman’ padamu. Terlebih sikapmu yang terkesan ‘manis’, membuat perasaan itu tidak terelakkan lagi. Aku menyukaimu!

Advertisement

Aku memang menyukaimu, dengan segala yang ada dalam dirimu. Aku suka senyummu. Aku suka tertawamu. Aku suka caramu menatapku. Aku suka suaramu. Aku suka caramu bersikap. Aku suka santunmu. Aku suka caramu menyimak ceritaku yang sebenarnya tidak terlalu penting. Aku suka caramu memberi saran kepadaku. Aku suka semangatmu. Aku suka dirimu!

Perasaan seperti ini tidak seharusnya ada, bukan? Aku hanya seorang anak kecil, berani sekali memiliki perasaan kepadamu. Berani sekali pungguk merindukan bulan! “Itu sama aja kaya anak SMP yang suka sama mahasiswa semester 7, Na.” Ucap seorang teman pada suatu malam. Hatiku mengaminkan, tapi lagi-lagi perasaan adalah perasaan. Bila ia sudah terlanjur mengembang, aku bisa apa?

Aku selalu meyakinkan diriku bahwa senyummu kepadaku itu adalah senyum yang sama yang kau berikan kepada semua temanmu.

Aku selalu meyakinkan diriku bahwa perhatianmu kepadaku itu adalah perhatian yang sama yang kau berikan kepada orang-orang yang kau kenal.

Sayangnya, aku selalu gagal. Perasaan itu selalu berhasil mengambil alih peran dari logikaku.

Maka ketika waktu itu aku mendengar kabar bahwa kau akan menikah, tetiba hatiku begitu ngilu. Air mata jatuh tanpa aba. Ah bukankah seharusnya aku harus siap dengan kenyataan seperti ini? Bahwa suatu hari kau pasti akan bersanding dengan seorang perempuan yang menjadi pilihanmu. Bahwa suatu hari kau pasti akan berdamping dengan seorang bidadari yang kau ingini. Tapi kenapa rasanya masih begitu perih? Seharusnya aku berbahagia bukan?

Melalui catatan sederhana ini, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah memberi aku kesempatan untuk mengenalmu. Terima kasih telah menjadi pendengar yang baik untuk setiap kesahku. Dan maaf untuk perasaan yang tidak seharusnya ada.

Sekarang ketika aku tahu dia boleh jadi tak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya. –Tere Liye.