Judul cerita kayak lagunya Wali ya yang nenekku pahlawanku tapi disini bedanya kakekku juga pahlawanku.

Keduanya itu memang benar–benar pahlawanku.

Sejak bayi aku dirawat sama keduanya sampai aku beranjak SMP baru pindah hidup bersama orangtua. Hidup bersama kakek nenek membuat aku merasakan hidup didesa yang banyak teman daripada dikota yang membuat aku merasa sepi dan tidak punya teman. Kakek sosok orang yang sangat disiplin, keras, dan perhatian.

Beliau selalu memperhatikan semua hal sampai yang detail yang aku butuhkan. Siapa yang tidak beruntung memiliki kakek yang seperti ini. Eitsss, tidak ketinggalan pahlawanku yang satunya sosok nenek yang juga tidak kalah dengan kakek. Nenek itu orangnya ramah pada semua orang, murah senyum, dan pintar masak pula. Sifat kakek dan nenek itu sangat berlawanan mungkin ini yang dinamakan jodoh.

Hal ini sesuai banget dengan pepatah yang mengatakan setiap orang yang berjodoh itu saling melengkapi. Keluarga kakek nenekku sangat religius tidak heran saya dididik secara agamis. Waktu kecil saya sudah diajarkan mengaji, dengarin ceramah, dan ikut pengajian kakek nenek dari masjid ke masjid. Ada cerita sewaktu aku bolos mengaji dimasjid dan pergi main bersama teman–teman sampai depan pintu rumah kakek sudah berdiri sambil kedua tangah dipinggang dan suara lantang dengan nada tinggi terhentakkan seperti disambar petir disore hari sampai tetangga sebelah rumah menengok kearah rumah kakek, permohonan maafku dan tangisanku tidak mampu mendamaikan hati kakek semakin aku menangis suara lantang itu semakin kerap terlontarkan tetapi nenek selalu yang membela dan melindungiku. Kehidupan masa kecil sangat menyenangkan dan teratur.

Advertisement

Berkat kedisplinan yang telah diterapkan semasa kecil dampaknya sangat terasa sewaktu beranjak dewasa dan tidak bersama kakek nenek lagi. Selama ini sampai aku selesai kuliah masih menerapkan kebiasan – kebiasaan yang diajarkan beliau-beliau ini sampai teman dekatpun mengatakan aku thu orangnya sangat jadul dan kuno tetapi itupun tidak aku hiraukan karena aku sudah nyaman dengan kehidupan seperti ini.

Kakek nenekku pun ternyata tidak hanya ikut campur sewaktu aku kecil tetapi setelah sudah dewasa bahkan sampai menentukan jodoh. Banyak syarat yang mereka ajukan untuk jodohku kelak dari tidak boleh orang sunda, batak, dan dayak selain itu penanggalan jawa, anak keberapa, dan arah rumahpun sangat diperhatikan. Padahal orangtuaku hanya mementingkan kepribadian meliputi agama, tingkahlaku, dan pekerjaan, tetapi dengan ditambah ribetnya syarat dari kakek nenek yang sangat mempercayai tradisi kejawen yang konon katanya kalau melanggar bisa mendatangkan malapetaka suatu hari nanti, hal ini sangat berdampak ketika lelaki yang datang melamar aku selalu ditolak oleh keluargaku hingga akhirnya aku memasuki umur 28 datang lelaki yang awalnya aku takut lelaki ini juga ditolak oleh keluargaku dalam pikiran dan hatiku berkata, apakah ini juga akan ditolak lagi kalau syarat yang diajukan banyak seperti ini dan aku sudah malu dengan teman- teman dan tetangga yang ngatain aku perawan tualah dan gag lakulah, waktu itu aku hanya berdoa semoga yang ini diterima.

Dan brrrr… setelah beberapa 3 jam nunggu reaksi dari mereka rasanya dag dig dug deer petir menyambar, dengan pelan ayah yang menggangguk setelah menatap wajah kakek.

Anggukan ayah ini membuat aku penasaran antara iya dan tidak. Ternyata hasilnya iya.. iyaa.. iya aku direstui untuk menikah dengan lelaki ini, lelaki pilihanku yang terakhir dan lelaki yang dapat meluluhkan hati keluargaku. Pernikahan kamipun dilaksanakan 5 bulan setelah kejadin itu dan kami sekarang mengarungi bahtera rumah tangga dengan damai.

Tetapi kabar duka menyambar datang selang beberapa bulan aku menikah, kakekku telah dipanggil sang kholik rasa sedih tentu menyelimuti aku. Sosok kakek yang menerapkan disiplin sampai aku jadi seperti sekarang telah tiada sosok pahlawan dalam hidupku telah pergi untuk selamanya tinggal nenek sekarang yang tinggal bersama kedua orangtuaku.