Kursi hitam ini disebut kursi tegak. Materialnya dari kayu jati, dibuat dengan tangan murni tanpa mesin. Tatah dan gergaji menjadi alat utama. Kursi hitam kini ditinggalkan pemiliknya. Kakek periang telah meninggalkan dunia fana.

Kakek periang adalah sosok yang ramah didesa ini. Beliau sudah lama tinggal sendiri. Ceritanya adalah hal yang dinanti anak-anak seusiaku pada saat itu. Hal yang lucu nan elok menjadi daya tarik yang tak bisa ku bantahkan. Terpingkal, garuk kepala dan melongo ciri khas kami ketika beliau berkisah. Begitu nyata.

Tak ubahnya lilin, menerangi sekitarnya pelan namun pasti terbakar. Kakek Periang selalu baik pada tiap orang yang ada didesa bahkan akan membantu siapa saja yang kesusahan. Tiada pernah terpikirkan ia akan makan apa hari ini sebab melihat orang lain bahagia adalah tujuannya.

Pernah kulihat kakek periang jatuh sakit hingga tak bisa berdiri. Ia mengerang lemah. Diam dan menyelinap dirumahnya tak ku temukan makanan yang layak. Aku sedih, aku menangis dan merasa hancur. Selama ini sosok yang ceria ternyata hidup dalam kesusahan.


Begitu pintarnya ia menyembunyikan kepedihan didalam senyuman. Senyuman khas pria tak bergigi.


Advertisement

Kakek Periang sebenarnya memilih untuk menyendiri dibanding ikut dengan keluarganya. Ia punya istri, ia punya anak dan cucu namun tak pernah ia bahas dengan siapa pun kecuali Ayahku. Ya aku tahu semua ini karena aku mendengar pada saat malam ayah bercerita dengan ibu.

Ia merasa jadi beban keluarganya dengan menggantungkan diri, makan dari pemberian anaknya. Aku tak bisa berkomentar banyak. Ini adalah pilihan hidupnya walaupun wajar ia makan dari hasil kerja keras buah hatinya. Kakek Periang tetaplah kakek periang, aku tak tahu apa yang mendasari keras kepalamu itu.


Andai ku tahu, andai aku menjadi dirimu, andai aku mampu


Kini aku sudah dewasa, hanya bisa melihat gubuk bekas peraduanmu. Gubuk inilah dulu aku dan teman masa kecil menghabiskan bualan yang menyenangkan. Kau ajarkan kami bagaimana membuat pistol dari pelepah pisang. Sungguh ceria kala itu.

Kek.. misalkan engkau masih hidup, bolehlah kau ajarkan aku prinsip hidup yang kau pegang. Bolehlah kau ajari anak muda jaman sekarang tentang budi pekerti. Bolehlah kau ketuk kepalanya dengan ruas jarimu agar bisa menghormati dan jauh dari rasa angkuh.

Kek.. entah mengapa aku betah memandang nisan tak bernama setelah aku pulang kemarin dari perantauan. Aku tahu ini adalah rumahmu sekarang, rumah yang kau tunggu selama ini. Dirumah yang baru inilah kau bisa tersenyum, kau takkan khawatir lagi menyusahkan istri,anak, dan cucumu.

Terima kasih Kakek Periang, jasamu takkan bisa aku lupa hingga aku akan seumur dirimu nanti. Semoga aku bisa.