Hai. Apa kabar? Apa kamu masih menjadi orang yang menyebalkan?

Kalau iya, itu artinya kamu akan selalu menjadi seseorang yang aku rindukan.

Kalau tidak, beruntunglah kamu akan tetap selalu menjadi seseorang yang aku rindukan.

Karena yang aku rindukan adalah kamu. Jika bukan kamu, lalu untuk apa aku merindukan orang yang menyebalkan? Aku perjelas kalimatku sekali lagi ya.

Aku rindu karena yang menyebalkan itu kamu. Bukan yang lain.

Tapi menjadi menyebalkan bukanlah alasanku mencintaimu. Entahlah, sampai sekarang aku sendiri masih mencari jawabannya. Jika ada yang bertanya padaku, “Mengapa kamu mencintainya?” Aku akan menjawab “Aku tidak tahu.”

Aku ingin sekali meyakinkan dirimu, karena aku membaca gurat ragu di wajahmu. Ragu akan perasaanku dan kita sekarang ini. Tak apa, aku pun sering merasa ragu. Namun, entah mengapa semakin hari keraguan itupun semakin pudar, hilang dan berganti menjadi rasa takut. Ya, takut akan kehilanganmu. Padahal aku tahu, untuk apa aku merasa takut kehilanganmu jika pada hakikatnya aku tidak memilikimu.

Advertisement

Aku tahu mengapa kau meragukan perasaanku. Aku tahu mungkin kamu berpikir aku adalah perempuan yang mudah dekat dengan laki-laki.

Akan aku beritahu. Aku memang mudah dekat dengan orang lain, laki-laki ataupun perempuan. Aku bersyukur aku diberikan anugerah oleh Sang Pencipta untuk menjadi pribadi yang supel dan mudah bergaul dan dekat dengan orang lain. Hal ini membuat aku mempunyai banyak teman dekat. Namun asal kamu tahu saja. Jatuh cinta tidak semudah itu. Dan bisakah kita memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta? Siapa yang tahu jika aku akan jatuh cinta padamu?

Aku sering berpikir, beruntungnya mereka yang dapat hidup bersama dengan orang yang mereka cintai. Kau tahu? Di luar sana banyak mereka yang tidak bersama dengan yang mereka cintai, karena mungkin takdir mereka memang hanya dipertemukan bukan disatukan. Dan, bagaimana jika aku adalah salah satu dari mereka?

Ah. Ya, sudahlah.

Aku meyakini bahwa sesuatu yang ditakdirkan untukku, tidak akan menjadi milik orang lain. Aku hanya bisa berusaha selalu memperbaiki diri dan menyebut namamu di dalam doaku setiap hari. Dan aku percaya jika ikhtiar sudah ada di garis batas maka biarkan doa dan takdir yang bertarung di langit.

Iya. Maaf. Hanya itu yang bisa aku lakukan.

Aku sadar, aku tidak bisa selalu ada untukmu setiap waktu karena aku yakin ada teman-temanmu disana.

Aku sadar, aku tidak bisa selalu memberikan semangat untukmu karena aku yakin semangat itu akan muncul saat kau mengingat kebahagiaan orangtua-mu disana.

Aku sadar, ada banyak perempuan lain di luar sana yang lebih dibandingkan aku. Namun, percayalah. Aku memang tidak sempurna, karena kamu kesempurnaanku.

Aku memang belum tentu yang terbaik, namun aku selalu berusaha menjadi yang terbaik.