Aku mencintaimu saat pertama kali bertemu. Enam tahun yang lalu. Kamulah satu-satrunya yang hadir dan tak ingin pergi dan sanggup mencintaiku tanpa syarat. Datang dengan cinta yang mampu menyederhanakan semuanya. Meski aku sendiri sadar mungkin tak selamanya sanggup memilikimu, lantas aku bisa apa?

Hatiku terluka setiap kali kulihat tasbih dalam genggaman dan shalawat terlantun indah dari bibirmu, sementara salib melingkar manis dileherku dan jutaan doa bapa kami membuncah melalui mulutku. Seolah keadaan ingin menyadarkan dengan tamparannya, bahwa beda adalah satu-satunya alasan mengapa kita sampai detik ini tak diizinkan bersama.

Aku mencintaimu dengan semua perbedaan. Sama ataupun tidak imanmu denganku aku tetap mendoakan mu dalam heningnya malamku. Tak perduli semua orang berkata tidak, aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu.

“Kumohon bertahanlah demi kita, aku tak ingin melepasmu.” Itulah ucapmu padaku. Andai kamu tahu aku bahkan menginginkanmu melebihi diriku sendiri. Tak perlu memohon. Aku sendiripun masih ingin disini. Menggenggam tanganmu dan mencari bahagia bersamamu.

Kudengar Tuhanmu sangat mencintaimu. Bisakah aku meminta dia merelakan satu umatnya ini untukku? Percayalah. Aku tak akan mengecewakan-Nya. Dengan hidupku, akan kubahagiakan kamu. Meski tak akan kupaksa kamu membaca kitab yang sama denganku, asal bisa bersamamu kurasa itu sudah mewakili semuanya.

Advertisement

Kamu sendiripun pernah bertanya “Ku dengar Tuhanmu sangat mengasihimu. Bahkan rela mati untuk menyelamatkan kamu. Kalau begitu maukah Dia sedikit berbaik hati padaku untuk merelakanmu? Percayalah, aku akan mengimamimu sepanjang hidupku.” Sungguh, aku sangat menginginkannya!

Inilah kami yang hanya berniat untuk saling membahagiakan. Mengapa cinta dihadirkan bila hanya untuk memisahkan mereka yang masih ingin saling mempertahankan? Kalau Engkau memang tak ingin melihat kami bersama, kenapa tak lantas Kau biarkan aku temukan alasan untuk meninggalkannya? Kenapa Kau membuat dia sedemikian sempurna untukku?

Benarkan Tuhan? Tak ada seorangpun yang berhak menyalahkan kami. Aku sendiripun tak ingin menjalani ini semua. Tapi apa daya bila cinta justru hadir karena senyumnya. Dia yang kata “mereka" tak layak kucinta, kenapa jadi yang paling sulit buatku menyerah.

Andai takdir pertemuan dapat diatur. Mungkin aku sendiripun tak ingin bertemu dengan siapapun yang tak dilahirkan untuk memiliku selamanya. Tapi aku bisa apa? Justru pertemuan pertama kita yang membuat aku merasa lebih percaya pada kuasa Sang Pencipta. Karena keajaiban cinta yang dihadirkan-Nya bagi kami berdua.

Bukankah cinta itu anugerah? Lantas kenapa mereka selalu memicingkan mata saat aku tertawa bersamamu? Mengapa mereka memarahiku saat kamu mengantarkku sampai gerbang gereja? Kenapa mereka menghujatku saat aku menunggumu dimasjid? Kenapa mereka tak lebih dulu berusaha untuk memahami?

Bahagia ataupun sedihnya kami sama sekali bukan bagian kalian. Ini pilihan kami. Biarkan Tuhan sendiri yang akan pisahkan kami dengan cara-Nya bila memang itu takdirnya. Kalian tak perlu lelah-lelah mempersalahkan apa yang telah kami putuskan.

Dan untukmu kumohon bersabarlah sayang.. Sang Esa jauh lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. Bila memang tak harus bersama. Dengan pernah memilikimupun aku sudah cukup bahagia.

Dari aku, yang mereka katakan tak layak mengisi hidupmu.